Catatan Agus K Saputra
CERAKEN. ID- Kisah tentang manajer baru yang menyambar gagang telepon dan berpura-pura berbicara itu terdengar jenaka, nyaris seperti anekdot ringan untuk mengundang tawa. Namun di balik kelucuannya, tersimpan kritik tajam tentang cara manusia memahami kekuasaan, otoritas, dan citra diri di ruang kerja modern.
Dengan penuh percaya diri, sang manajer memulai monolognya. Ia mengucapkan terima kasih kepada “Direktur Utama”, menyebut kepercayaan besar yang diberikan kepadanya, bahkan mengatur agenda pertemuan seolah-olah ia adalah pusat pengambilan keputusan.
Semua dilakukan dengan satu tujuan: membangun kesan. Ia ingin orang-orang di sekelilingnya percaya bahwa dirinya penting, didengar, dan berpengaruh.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Adegan ini berhenti seketika ketika para tamu yang berdiri di depan pintu, dengan wajah heran sejak awal, menyampaikan maksud kedatangan mereka: memperbaiki telepon itu. Telepon yang dibanggakan, yang dijadikan alat pertunjukan kekuasaan simbolik, ternyata rusak dan tak pernah berdering.
Di sinilah ironi itu menemukan momentumnya.
Dalam banyak organisasi, simbol sering kali lebih dipentingkan daripada substansi. Jabatan, meja besar, ruang kerja eksklusif, hingga gaya bicara penuh istilah manajerial kerap dijadikan penanda kekuasaan.
Manajer baru dalam kisah ini memilih jalan pintas: menciptakan ilusi otoritas sebelum benar-benar membangun kepercayaan melalui kerja nyata. Telepon menjadi properti panggung, bukan alat komunikasi.
Namun, realitas memiliki cara sendiri untuk membongkar kepura-puraan. Seperti para teknisi yang datang membawa fakta sederhana, bahwa telepon itu rusak, realitas kerja sehari-hari selalu menuntut kejujuran dan kompetensi.
Kepemimpinan tidak lahir dari dialog imajiner dengan atasan, melainkan dari kemampuan mendengar, memahami persoalan, dan mengambil keputusan yang berdampak nyata.
Kisah ini juga mencerminkan kecenderungan budaya kerja yang mengagungkan citra. Banyak orang terjebak pada keinginan tampak sibuk, tampak penting, dan tampak berkuasa.
Padahal, yang lebih dibutuhkan organisasi justru adalah pemimpin yang bekerja dalam senyap, membangun sistem, dan memberi ruang bagi orang lain untuk berkembang. Kepemimpinan sejati sering kali tidak membutuhkan pertunjukan.
Telepon yang rusak itu menjadi metafora yang kuat. Ia melambangkan komunikasi yang sebenarnya tidak berjalan, relasi yang semu, dan kekuasaan yang rapuh. Ketika simbol lebih keras berbicara daripada kenyataan, yang muncul bukanlah wibawa, melainkan absurditas.
Catatan singkat ini mengingatkan kita bahwa kepercayaan tidak bisa direkayasa dengan sandiwara. Ia dibangun dari konsistensi, kerja nyata, dan keberanian untuk tampil apa adanya.
Sebab pada akhirnya, seperti sang manajer itu, siapa pun yang terlalu sibuk berbicara pada telepon yang tak berdering akan segera berhadapan dengan kenyataan dan kenyataan jarang memberi ruang bagi kepura-puraan.
#Akuair-Ampenan, 28-12-2025
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor































