Di Antara Jalan dan Keyakinan

- Penulis

Minggu, 11 Januari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Bahwa hidup memang bisa digariskan, tetapi cara menjalaninya tetap menjadi pilihan manusia (Foto: aks)

Bahwa hidup memang bisa digariskan, tetapi cara menjalaninya tetap menjadi pilihan manusia (Foto: aks)

Catatan Agus K Saputra

CERAKEN.ID– Ia berhenti sejenak di tepi jalan. Bukan karena lelah semata, melainkan karena sebuah kesadaran yang datang tiba-tiba, seperti tamparan pelan namun telak: ia tak memiliki uang, juga tak memiliki rumah.

No money, no home. Dua frasa yang terdengar sederhana, tetapi cukup untuk merangkum sebuah keterputusan panjang dari rasa aman yang selama ini dianggap lumrah.

Ia adalah seorang pejalan dalam arti paling harfiah sekaligus metaforis. Langkahnya membawa tubuhnya dari satu titik ke titik lain, tetapi pikirannya tertambat pada masa lalu yang tak selesai-selesai menuntut penjelasan.

Ia mencoba menelusuri kembali di mana semuanya mulai berubah. Pilihan-pilihan hidup yang dulu diambilnya, yang saat itu tampak masuk akal, kini justru berdiri sebagai tanda tanya terbesar. Salah satunya bernama: kepercayaan.

Kepercayaan, yang seharusnya menjadi jembatan, dalam kisah ini justru menjelma jurang. Ia percaya pada orang, pada janji, pada sistem, bahkan pada arah hidup yang diyakini akan membawanya ke masa depan yang lebih terang.

Ia mengira, keyakinan itu akan berlanjut secara linier bahwa apa yang ditanam hari ini akan dipanen esok hari. Kenyataannya tidak selalu demikian.

Waktu berjalan tanpa kompromi. Satu demi satu pegangan lepas. Relasi yang dulu diyakini kokoh runtuh tanpa aba-aba. Kesempatan yang pernah terbuka menutup pintunya.

Hingga akhirnya ia berdiri sendiri, dengan pakaian yang melekat di badan dan cerita yang terlalu berat untuk dibagikan begitu saja. Di titik inilah ia menyadari, bahwa kepercayaan bukan hanya soal memberi, tetapi juga soal mempertanyakan.

Namun hidup tidak memberi kemewahan untuk terlalu lama berhenti. Pil pahit itu mau tak mau harus ditelan.

Ia belajar menyebut kejatuhannya bukan sebagai kegagalan, melainkan sebagai kisah. Sebuah kisah yang, dalam bahasa paling pasrah, sering ia sebut telah “digariskan-Nya”.

Frasa itu bukan bentuk pembelaan diri, melainkan cara bertahan. Dengan menganggap semuanya telah digariskan, ia menemukan ruang kecil untuk berdamai meski belum sepenuhnya ikhlas.

Garis tak selalu lurus, pikirnya. Ada belokan, ada jurang, ada jalan buntu. Tetapi selama kaki masih bisa melangkah, kisah belum selesai.

Di tengah kota yang sibuk dan sering abai, pejalan seperti dirinya kerap luput dari perhatian. Ia hanya satu dari sekian banyak wajah yang melintas, membawa cerita yang tak tercatat statistik.

Padahal, kisah-kisah semacam ini adalah cermin rapuh tentang bagaimana kepercayaan, ketika tak disertai kewaspadaan, bisa berujung pada keterasingan.

Ia melanjutkan langkahnya. Tak banyak yang bisa dibawa selain keyakinan yang kini lebih sunyi, lebih hati-hati.

Masa depan tak lagi ia bayangkan sebagai janji yang pasti, melainkan kemungkinan yang harus dihadapi dengan kesadaran penuh. Di jalan itu, ia belajar satu hal penting: bahwa hidup memang bisa digariskan, tetapi cara menjalaninya tetap menjadi pilihan manusia.

#Ampenan, 11-01-2026

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jejak yang Kita Tinggalkan
Belajar dari Tubuh Usai Dioperasi
Waras di Tengah Sakit
Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat: Menulis Masa Depan NTB dari Ruang Redaksi
Lembar Kecil dari Jalan Sunyi
Menjaga Nilai di Tengah Riuh yang Menyesatkan
Persahabatan yang Dirawat, Bukan Ditunggu
Telepon yang Tak Pernah Berdering

Berita Terkait

Jumat, 29 Mei 2026 - 00:17 WITA

Jejak yang Kita Tinggalkan

Jumat, 1 Mei 2026 - 11:52 WITA

Belajar dari Tubuh Usai Dioperasi

Jumat, 1 Mei 2026 - 09:45 WITA

Waras di Tengah Sakit

Rabu, 15 April 2026 - 21:08 WITA

Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat: Menulis Masa Depan NTB dari Ruang Redaksi

Selasa, 24 Februari 2026 - 04:20 WITA

Lembar Kecil dari Jalan Sunyi

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA