Catatan Cukup Wibowo
CERAKEN.ID — Ada momen dalam hidup ketika tubuh mengambil alih peran sebagai guru kehidupan. Ia tidak mengajar dengan banyak kata, melainkan melalui rasa nyeri, lemah, bahkan diam yang menegangkan di ruang operasi. Di situlah saya belajar—bukan dari buku, bukan dari seminar, melainkan dari pengalaman paling personal: menjadi pasien di atas meja operasi.
Ini adalah operasi ketiga yang saya jalani. Operasi pertama tergolong ringan, ketika benjolan di dekat mata kaki kanan harus diangkat. Saat itu saya menganggapnya sepele, sekadar gangguan kecil yang akan selesai begitu luka mengering.
Puluhan tahun kemudian, datang operasi kedua yang lebih serius. Setahun setelah terpapar Covid-19, tubuh memberi sinyal lain melalui benjolan di bawah perut sebelah kanan. Secara medis, itu disebut kelenjar TB. Lalu yang terbaru, pada 29 April 2026, saya kembali menjalani operasi karena batu di dinding kemih.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan kecemasan awal yang hampir sama, ketiga operasi itu, alhamdulillah, berjalan lancar. Tidak ada komplikasi berarti, tidak ada kisah dramatis yang berujung tragedi. Justru di situlah letak pelajaran yang paling kuat: tidak semua rasa sakit berakhir buruk. Ada yang datang hanya untuk mengingatkan, bukan untuk menyengsarakan.
Giliran Sehat dan Sakit
Dari tiga pengalaman operasi itu, saya mulai melihat hidup sebagai rangkaian pergiliran. Seperti siang dan malam yang tak pernah saling mendahului, seperti pasang dan surut yang selalu datang bergantian. Senang dan susah, sehat dan sakit, jaya dan terpuruk—semuanya bukan pilihan, melainkan giliran.
Tidak ada manusia yang terus-menerus berada di satu sisi kehidupan.
Kita sering berharap hidup hanya berisi hal-hal baik: sehat terus, kuat terus, berhasil terus. Namun tubuh mengajarkan sesuatu yang berbeda, bahwa keseimbangan justru lahir dari pengalaman yang berlawanan. Sakit membuat kita menghargai sehat. Keterbatasan membuat kita memahami arti cukup.
Di ruang operasi, ketika lampu terang menyorot dan tubuh sepenuhnya pasrah pada tangan dokter serta tim medis, saya menyadari satu hal penting: manusia pada akhirnya harus belajar percaya. Bukan hanya kepada tenaga medis, tetapi juga kepada alur kehidupan itu sendiri.
Bahwa setiap peristiwa, betapapun tidak nyaman, sedang bergerak menuju titik tertentu yang telah disiapkan oleh kekuatan Maha Besar yang tak selalu terlihat.
Waktu yang Selalu Adil
Saya merasakan sendiri bagaimana waktu bekerja. Ia tidak pernah terburu-buru, tetapi juga tidak pernah terlambat. Luka sembuh pada waktunya. Rasa takut mereda pada waktunya. Bahkan kekhawatiran yang sempat memenuhi pikiran perlahan luruh, digantikan oleh kelegaan yang sederhana: saya baik-baik saja.
Di titik ini, saya semakin yakin bahwa waktu selalu membawa urutan peristiwa yang adil. Bersama kesulitan, selalu ada kemudahan yang menyertainya. Mungkin tidak datang bersamaan, tetapi pasti datang menyusul. Seperti fajar subuh yang tak pernah gagal mengakhiri malam.
Lalu saya bertanya pada diri sendiri: jika waktu akan tetap berjalan, jika setiap kesulitan akan menemukan ujungnya, mengapa saya masih memberi ruang terlalu besar bagi kecemasan? Mengapa pikiran harus tenggelam dalam ketakutan yang belum tentu terjadi?
Optimisme bukan berarti menolak kenyataan pahit. Justru sebaliknya, optimisme adalah cara paling rasional untuk menghadapi kenyataan. Karena jika dua orang sama-sama harus melewati waktu—yang satu dengan harapan, yang satu dengan ketakutan—bukankah lebih bijak memilih harapan?
Tubuh saya, melalui tiga operasi itu, telah membuktikan bahwa saya mampu melewati lebih banyak hal daripada yang pernah saya bayangkan. Rasa sakit tidak selalu menyengsarakan. Ketidakpastian tidak selalu berujung buruk. Dan di balik proses yang tampak menakutkan, sering kali tersembunyi pemulihan yang menenangkan.
Kini saya memandang setiap masalah dengan cara berbeda. Bukan lagi sebagai beban yang harus dihindari, melainkan sebagai fase yang memang harus dilalui. Sebab pada akhirnya, waktu akan tetap mengantar kita—entah menuju pesimisme atau optimisme.
Dan jika optimisme memiliki peluang lebih besar untuk membawa kemenangan, maka memilihnya bukan sekadar keputusan emosional, melainkan pilihan yang bijak.
Dari tubuh yang dioperasi, saya belajar bahwa hidup tidak meminta kita untuk selalu kuat. Ia hanya meminta kita tetap percaya, bahwa setelah setiap peristiwa berlalu, selalu ada sesuatu yang lebih baik menunggu.
Kopajali, Kamis, 30 April 2026


























































