Waras di Tengah Sakit

Jumat, 1 Mei 2026 - 09:45 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Secanggih apa pun alat medis, satu hal yang tetap tak tergantikan adalah ketenangan batin (Foto: aks / ceraken.id)

Secanggih apa pun alat medis, satu hal yang tetap tak tergantikan adalah ketenangan batin (Foto: aks / ceraken.id)

CERAKEN.ID“Tubuh boleh sakit, tapi pikiran tetap waras. Agar yang sakit bisa dipandu menuju kesembuhan.”

Kalimat itu meluncur pelan dari seorang karib yang masih terbaring pascaoperasi kandung kemih. Ia mengucapkannya bukan sebagai petuah kosong, melainkan sebagai kesimpulan dari pengalaman yang baru saja ia lewati, pengalaman yang semula dibayangkan penuh ketakutan, tetapi ternyata berakhir jauh lebih ringan dari yang diperkirakan.

Sebelum operasi dilakukan, ada detak was-was yang terus mengendap. Bahkan, mungkin lebih tepat disebut kekhawatiran akut. Bayangan tentang ruang operasi, alat-alat medis, serta cerita masa lalu tentang tindakan bedah yang panjang dan menyakitkan, seolah datang bergantian memenuhi pikiran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketakutan itu tumbuh bukan hanya dari rasa sakit yang dibayangkan, tetapi juga dari ingatan kolektif tentang operasi sebagai sesuatu yang menegangkan.

Banyak orang memang akrab dengan cerita-cerita lama: pasien yang harus menunggu lama, proses pemulihan yang berat, hingga kemungkinan terburuk yang selalu dibisikkan oleh rasa cemas. Dalam situasi seperti itu, pikiran sering kali menjadi medan pertempuran yang lebih berat daripada rasa sakit fisik itu sendiri.

Baca Juga :  Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat: Menulis Masa Depan NTB dari Ruang Redaksi

Namun, pengalaman karib saya justru membalik semua bayangan itu.

Ia bercerita, saat memasuki ruang tindakan, ketegangan masih ada. Jantung berdetak lebih cepat, tangan dingin, dan kepala dipenuhi berbagai kemungkinan. Akan tetapi, perlahan semua berubah ketika ia melihat bagaimana tim medis bekerja dengan tenang, sigap, dan penuh kepastian.

Penjelasan yang diberikan dokter terasa menenangkan. Teknologi kedokteran yang kini semakin maju membuat prosedur yang dulu terasa menakutkan menjadi jauh lebih terukur.

“Tiba-tiba operasi selesai dalam sekejap,” katanya sambil tersenyum tipis.

Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung makna besar. Ternyata, banyak ketakutan yang lahir bukan dari kenyataan, melainkan dari persepsi yang dibangun oleh trauma masa lalu dan informasi yang tidak utuh. Ketika proses berjalan dengan baik, rasa takut itu seolah kehilangan pijakan.

Di sinilah pentingnya menjaga pikiran tetap waras.

Sakit memang menyerang tubuh, tetapi kepanikan menyerang pikiran. Jika keduanya dibiarkan bersatu, penderitaan menjadi berlipat. Sebaliknya, ketika pikiran tetap jernih, rasa sakit bisa dihadapi dengan lebih tenang. Kesembuhan tidak hanya bergantung pada obat dan tindakan medis, tetapi juga pada kesiapan mental untuk menerima proses pemulihan.

Baca Juga :  Belajar dari Tubuh Usai Dioperasi

Kewarasan dalam menghadapi sakit bukan berarti menolak rasa takut. Justru sebaliknya, ia adalah keberanian untuk mengakui ketakutan, lalu tetap berjalan melewatinya. Ada kekuatan besar dalam sikap pasrah yang rasional; percaya pada ilmu pengetahuan, percaya pada tenaga medis, dan percaya bahwa tubuh memiliki kemampuan untuk pulih.

Kemajuan teknologi kedokteran hari ini telah memberi banyak harapan baru. Operasi yang dahulu dianggap momok kini bisa berlangsung cepat, minim risiko, dan dengan pemulihan yang lebih baik. Namun secanggih apa pun alat medis, satu hal yang tetap tak tergantikan adalah ketenangan batin pasien.

Karib saya mengajarkan satu hal sederhana: jangan biarkan sakit menguasai seluruh hidup. Tubuh boleh rapuh, tetapi pikiran harus tetap tegak. Sebab dari pikiran yang waras, lahir keberanian. Dari keberanian, tumbuh harapan. Dan dari harapan, kesembuhan menemukan jalannya sendiri. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Belajar dari Tubuh Usai Dioperasi
Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat: Menulis Masa Depan NTB dari Ruang Redaksi
Lembar Kecil dari Jalan Sunyi
Di Antara Jalan dan Keyakinan
Menjaga Nilai di Tengah Riuh yang Menyesatkan
Persahabatan yang Dirawat, Bukan Ditunggu
Telepon yang Tak Pernah Berdering
Senja yang Menyilaukan Pengembara

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 11:52 WITA

Belajar dari Tubuh Usai Dioperasi

Jumat, 1 Mei 2026 - 09:45 WITA

Waras di Tengah Sakit

Rabu, 15 April 2026 - 21:08 WITA

Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat: Menulis Masa Depan NTB dari Ruang Redaksi

Selasa, 24 Februari 2026 - 04:20 WITA

Lembar Kecil dari Jalan Sunyi

Minggu, 11 Januari 2026 - 21:02 WITA

Di Antara Jalan dan Keyakinan

Berita Terbaru

SOLUSI PSIKOLOGI

Belajar dari Tubuh Usai Dioperasi

Jumat, 1 Mei 2026 - 11:52 WITA

Secanggih apa pun alat medis, satu hal yang tetap tak tergantikan adalah ketenangan batin (Foto: aks / ceraken.id)

SOLUSI PSIKOLOGI

Waras di Tengah Sakit

Jumat, 1 Mei 2026 - 09:45 WITA

Dengan sistem ini, bantuan sosial, subsidi, intervensi kesehatan, pendidikan, hingga program pemberdayaan ekonomi dapat dirancang lebih adaptif dan tepat sasaran (Foto: pemprov ntb /ceraken.id)

INFORIAL

DTSEN dan Jalan Baru Pembangunan NTB yang Lebih Tepat Sasaran

Kamis, 30 Apr 2026 - 14:33 WITA

Forum strategis untuk memperkuat optimisme ekonomi nasional (Foto: bi.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

PINISI 2026: Menjaga Mesin Pertumbuhan Ekonomi Tetap Menyala

Kamis, 30 Apr 2026 - 12:10 WITA

ilustrasi: cw / ceraken.id

CERITA PENDEK

Menjadi ASN Semestinya

Kamis, 30 Apr 2026 - 10:32 WITA