CERAKEN.ID — Di zaman ketika kata-kata bergerak lebih cepat daripada nurani, manusia sering merasa paling benar ketika sedang marah. Kita mudah menunjuk wajah-wajah yang dianggap biadab, mengutuk kekerasan, mencaci ketidakadilan, dan merasa sedang berdiri di pihak kemanusiaan.
Namun diam-diam muncul pertanyaan yang lebih sunyi dan lebih sulit dijawab: ketika kita sibuk “mengutuk kebiadaban”, bukankah kita sedang meninggalkan jejak kebiadaban itu sendiri?
Kemarahan memang lahir dari luka. Tetapi tidak semua luka menghasilkan kebijaksanaan. Ada luka yang justru berubah menjadi kebencian baru, lalu menular dari satu mulut ke mulut lain.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Media sosial memperlihatkan itu setiap hari. Orang mengutuk penghinaan dengan penghinaan, melawan kekerasan dengan kata-kata kasar, dan membela kemanusiaan sambil merendahkan manusia lain.
Dalam situasi seperti itu, batas antara pelaku dan pengutuk menjadi samar.
Mengutuk Tidak Selalu Menyembuhkan
Kita hidup di tengah budaya reaksi. Segala sesuatu harus segera ditanggapi. Ketika ada tragedi, publik berlomba menjadi yang paling keras bersuara.
Ketika ada kesalahan, ramai-ramai orang mencari siapa yang pantas dipermalukan. Padahal tidak semua suara keras mampu menghadirkan perubahan.
Ada perbedaan besar antara kritik dan pelampiasan emosi. Kritik lahir dari kesadaran untuk memperbaiki, sedangkan pelampiasan hanya ingin melukai balik.
Itulah sebabnya banyak percakapan publik kehilangan makna. Orang merasa telah berjuang demi nilai kemanusiaan, padahal yang tumbuh justru dendam yang diwariskan.
Seorang filsuf Prancis, Albert Camus, pernah menulis, “Kebencian tidak mengurangi jumlah kebencian di dunia.”
Kalimat itu terasa relevan di tengah kehidupan hari ini. Sebab manusia sering gagal menyadari bahwa cara kita melawan sesuatu bisa membuat kita menyerupai sesuatu itu sendiri.
Menjadi Manusia yang Tidak Kehilangan Belas Kasih
Pertanyaan pentingnya bukan sekadar bagaimana menghentikan kebiadaban, melainkan bagaimana tetap menjadi manusia ketika menghadapi kebiadaban.
Sebab dunia tidak berubah hanya karena hukuman sosial atau teriakan moral. Dunia berubah ketika manusia masih mampu menjaga empati di tengah kemarahan.
Belas kasih bukan berarti membenarkan kesalahan. Belas kasih adalah kemampuan melihat bahwa manusia bisa jatuh, gagal, bahkan tersesat, tetapi tetap memiliki kemungkinan untuk berubah.
Di situlah kemanusiaan menemukan maknanya. Jika setiap kesalahan dibalas dengan penghinaan, maka kita sedang membangun lingkaran kekerasan yang tidak pernah selesai.
“Kadang kita terlalu sibuk membenci pelaku sampai lupa membangun jalan agar kebiadaban tidak lahir kembali,” demikian ungkapan yang sering terdengar dalam berbagai diskusi kemanusiaan.
Kalimat itu mengingatkan bahwa perubahan tidak cukup hanya dengan kecaman, tetapi membutuhkan pendidikan, dialog, dan ruang untuk bertumbuh.
Mengubah Luka Menjadi Makna
Barangkali yang paling dibutuhkan manusia hari ini adalah keberanian untuk mengubah luka menjadi makna. Tidak semua kemarahan harus menjadi kutukan.
Ada kemarahan yang dapat diubah menjadi gerakan sosial, karya seni, pendidikan, atau tindakan nyata yang menyelamatkan kehidupan orang lain.
Kita bisa belajar dari banyak komunitas kecil yang bekerja diam-diam: mengajar anak-anak jalanan, mendampingi korban kekerasan, menanam pohon di lingkungan rusak, atau sekadar menciptakan ruang percakapan yang lebih sehat. Mereka tidak banyak berteriak tentang kebiadaban, tetapi menghadirkan kemanusiaan dalam tindakan sehari-hari.
Mungkin itulah cara paling manusiawi untuk melawan dunia yang keras: bukan dengan meninggalkan jejak amarah yang sama, melainkan dengan menciptakan jejak yang membuat hidup terasa lebih layak bagi sesama.
Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya dikenang dari apa yang ia kutuk, tetapi dari kehidupan seperti apa yang ia bangun setelahnya. (aks)
Editor : ceraken editor































































