CERAKEN.ID– Malam Selasa, 30 Desember 2025, Taman Budaya NTB tidak hanya dipenuhi oleh karya-karya yang tergantung rapi di dinding pameran. Di salah satu sudut ruang, denyut lain bekerja: kanvas kosong, cat akrilik, dan tubuh seorang perupa yang bergerak cepat, seolah mengejar sesuatu yang tidak kasat mata.
I Nyoman Sandiya, perupa yang dikenal aktif dalam live painting dan lukis model, malam itu melahirkan sebuah karya bertajuk Resonansi Bawah Tanah.
Judul itu terdengar hening, bahkan gelap, di tengah tema besar “Resonansi” yang digelorakan Mandalika Art Community (MAC) bersama 15 seniman lainnya. Namun justru di situlah posisi Sandiya: tidak berada di permukaan, melainkan menyusup ke lapisan terdalam, ke wilayah yang jarang disorot, tetapi menentukan segalanya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mencari yang Tak Nampak
“Ide awal sejak Mamiq Syaukani menggelorakan tema Resonansi bersama 15 seniman lainnya,” ujar Sandiya.
Alih-alih merespons dengan visual yang langsung terbaca di permukaan, ia memilih jalur sebaliknya.
“Saya mencoba merespon dari luar, bahwa yang nampak sudah ada kelihatan di luar. Saya mencoba yang tidak nampak, dengan bergerak di bawah tanah.”
Pilihan itu tidak lahir dari kehendak untuk berbeda semata. Dalam kanvasnya, Sandiya menempatkan akar pohon sebagai pusat perhatian, bukan batang, apalagi daun dan buah.
Akar-akar itu digambarkan kuat, saling menjalin, menopang seluruh kehidupan yang tumbuh di atasnya.
“Saya fokus pada akar-akar pohon yang sangat kuat menopang dahan, ranting, daun dan buah di atasnya. Itulah wujud Resonansi bawah tanah,” katanya.
Di tengah arus seni rupa kontemporer yang kerap menonjolkan simbol-simbol eksplisit, Sandiya justru menundukkan pandangan. Ia mengajak publik merenungi fondasi: kerja senyap yang tidak terlihat, tetapi menentukan keberlangsungan hidup.
“Semua ide karya saya tentang lingkungan, dan budaya setempat,” ucap Sandiya singkat, namun tegas.
Pernyataan itu bukan slogan kosong. Dalam perjalanan panjang keseniannya, isu lingkungan dan kemanusiaan menjadi benang merah yang konsisten.
Resonansi bawah tanah, bagi Sandiya, tidak berhenti pada metafora alam. Akar-akar itu juga bicara tentang hubungan manusia.
Tentang koneksi sosial yang tidak selalu tampak di permukaan, tetapi saling memengaruhi melalui getaran-getaran kecil: empati, solidaritas, dan kepedulian.
Pemaknaan ini sejalan dengan konsep yang disampaikan Lalu Syaukani dalam pembacaan karya. Akar pohon diibaratkan sebagai jaringan komunikasi tak terlihat antarindividu dalam masyarakat.
Ketika satu pohon bergetar karena angin atau faktor lain, getaran itu disalurkan melalui akar ke pohon lain di sekitarnya. Ada dialog senyap, ada resonansi yang tidak memerlukan kata-kata.
Dalam konteks sosial, jaringan bawah tanah itu adalah relasi, nilai, dan kesadaran kolektif yang perlu dijaga agar tetap selaras, seimbang, dan harmonis.
Abstrak Dekoratif sebagai Pilihan Estetik
Ketika ditanya tentang aliran, Sandiya tidak mengunci diri pada satu definisi kaku. “Abstrak dekoratif,” ujarnya, lalu menambahkan, “tapi terserah orang lain namakan, mungkin ada sentuhan-sentuhan lain.”
Sikap ini mencerminkan kebebasan yang ia rawat sejak lama. Abstraksi dalam karyanya tidak menjauh dari realitas, justru merangkum esensinya. Bentuk akar tidak digambar realistis, tetapi diolah menjadi ritme visual: garis, warna, dan tekstur yang saling beresonansi.
Pilihan estetik ini berakar lagi-lagi pada perjalanan panjangnya sebagai perupa. Tahun 1997 menjadi titik penting, ketika ia berguru pada almarhum Amri Yahya, dosennya di IKIP Yogyakarta.
“Beliau dosen saya,” kenang Sandiya, menyebut sosok yang memberi pengaruh besar dalam pembentukan bahasa visualnya.
Awalnya ia menggunakan media kertas dan cat air, sesekali akrilik dan cat minyak. Namun sejak 2004, setelah menetap di Lombok, ia memantapkan diri menggunakan cat akrilik di atas kanvas.
Medium ini juga memberinya keleluasaan dalam live painting: cepat kering, responsif, dan memungkinkan spontanitas yang menjadi ciri khasnya.
Tak lama setelah perbincangan, Sandiya menyebut sebuah alamat: Studio Alam Bangket Gunung Pengsong.
“Ini tempat saya berkarya. Dari sini ide-ide saya muncul dalam menggarap karya seni,” jelasnya.
Studio itu bukan sekadar ruang kerja, melainkan lanskap yang hidup. Alam sekitar menjadi laboratorium gagasan, tempat ia membaca tanda-tanda lingkungan dan menerjemahkannya ke dalam bahasa visual.
Meskipun Lombok adalah “lingkungan baru” dibandingkan Bali dan Yogyakarta, tempat ia meniti karier awal, Sandiya tidak melihat batas geografis sebagai sekat.
“Lingkungan secara global,” katanya. Ia aktif mengikuti pameran daring internasional, terutama dalam kegiatan penggalangan dana untuk isu-isu kemanusiaan: kekerasan terhadap perempuan, perlindungan anak, hingga pemanasan global.
Di tingkat nasional, ia juga terlibat dalam aksi seni untuk bencana alam dan kegiatan solidaritas lainnya, termasuk Charity for Sumatera, yang dilaksanakan di Mataram beberapa waktu lalu.
Dengan demikian, resonansi yang ia bangun bukan hanya lokal, melainkan lintas wilayah dan isu.
Jejak Pameran dan Konsistensi Berkarya
Riwayat pameran Sandiya mencerminkan konsistensi yang panjang. Sejak 1995 ia mulai berpameran di Art Center Denpasar, Batu Bulan, hingga Yogyakarta. Setelah pindah ke Lombok pada 2004, ia ikut pameran di Museum Negeri NTB pada 2005 dan terus aktif hingga hari ini.
Resonansi Bawah Tanah, kanvas akrilik berukuran 60 x 80 sentimeter, menjadi penanda terbaru dari perjalanan itu. Dibuat secara live painting di Taman Budaya NTB, karya ini tidak hanya merekam gagasan, tetapi juga peristiwa: pertemuan seniman, ruang publik, dan penonton yang menyaksikan proses kreatif secara langsung.
Di sanalah resonansi bekerja ganda, sebagai konsep dan sebagai pengalaman.
Bagi Sandiya, tugas seniman tidak berhenti pada penciptaan bentuk. Ada tanggung jawab untuk menyelaraskan diri dengan lingkungan, alam maupun sosial, agar karya yang lahir tidak sekadar indah, tetapi juga bermakna.
“Bagaimana mampu membuat karya yang berkualitas menjadi edukasi dan hiburan buat masyarakat,” demikian inti pemikirannya.
Resonansi Bawah Tanah mengajak kita menengok ke bawah, ke wilayah yang sering diabaikan. Ia mengingatkan bahwa kekuatan tidak selalu berada di puncak yang terlihat, melainkan pada jaringan akar yang bekerja dalam diam.
Dalam dunia yang kerap riuh oleh gema permukaan, karya ini menawarkan kesunyian yang penuh makna, sebuah resonansi yang terasa, meski tak terlihat. (aks)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : liputan































