Catatan Agus K Saputra
CERAKEN.ID– Di balik hiruk-pikuk diplomasi dan perbincangan teknokratis tentang pembangunan daerah, ada jalur “hening” namun berdampak panjang: diplomasi budaya.
Jalur inilah yang pernah dilalui Dr. Ahmad Saufi, S.Si., M.Sc, Calon Sekretaris Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), ketika ia mengemban amanah sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI di Berlin, Jerman.
Kini, saat namanya disebut sebagai salah satu figur strategis di birokrasi NTB, pengalaman lintas bangsa itu menjadi kisah yang relevan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bukan sekadar nostalgia luar negeri, melainkan pelajaran tentang bagaimana budaya, sastra, dan bahasa dapat menjadi instrumen lunak yang menguatkan posisi bangsa, sekaligus daerah, di mata dunia.
Sastra Indonesia Pasca Frankfurt Book Fair 2015
Tahun 2015 menjadi tonggak penting bagi kesusastraan Indonesia. Saat Indonesia tampil sebagai Guest of Honor pada Frankfurt Book Fair, pameran buku terbesar di dunia, sastra Indonesia mengalami lonjakan perhatian internasional, khususnya di Jerman.
Momentum itu tidak berhenti sebagai seremoni. Ia berlanjut menjadi arus ketertarikan yang lebih serius dan berkelanjutan.
“Setelah Frankfurt Book Fair 2015, perhatian masyarakat Jerman terhadap sastra Indonesia meningkat cukup signifikan,” kenang Ahmad Saufi.
Perhatian itu tercermin dalam berbagai indikator: novelis Indonesia mulai mendapatkan penghargaan sastra dan nominasi Literaturpreis di Jerman, karya-karya sastra Indonesia dilirik penerbit Jerman untuk diterjemahkan, serta undangan residensi menulis bagi penulis Indonesia, terutama di kota Berlin.
Di ruang-ruang diskusi sastra dan penerbitan, Indonesia tak lagi dipandang sekadar sebagai negara eksotis Asia Tenggara, melainkan sebagai sumber cerita, gagasan, dan estetika yang setara dengan tradisi sastra dunia.

Dari situlah muncul kesadaran: perhatian ini perlu dikelola, bukan dibiarkan berjalan sporadis.
Menjawab kebutuhan tersebut, lahirlah format kegiatan Temu Sastra. Sebuah seri perjumpaan antara penulis Indonesia, pembaca, akademisi, dan pegiat sastra di Jerman.
Bagi Ahmad Saufi, sastra adalah jembatan paling manusiawi dalam diplomasi: ia berbicara tentang manusia, pengalaman, dan pergulatan universal.
Pendekatan ini berbeda dengan diplomasi formal yang kaku. Melalui sastra, Indonesia hadir sebagai bangsa dengan kompleksitas sosial, sejarah, dan nilai-nilai yang hidup.
Di sinilah diplomasi budaya bekerja secara halus, tetapi berjangka panjang.
Musik Jalanan, Warisan Budaya, dan UNESCO
Diplomasi budaya Indonesia di Eropa juga menjelma dalam bahasa musik dan tari. Salah satu panggung pentingnya adalah Fête de la Musique, festival musik jalanan yang dirayakan setiap 21 Juni di berbagai kota dunia, termasuk Berlin.
Festival yang berakar dari Paris sejak 1982 ini menjadi ruang publik yang egaliter. Musik tanpa tiket, seni tanpa jarak.
Pada 2019, Fête de la Musique Berlin digelar di sekitar 150 titik terbuka di seluruh kota. KBRI Berlin, melalui Atase Pendidikan dan Kebudayaan, turut memeriahkan festival ini dengan menghadirkan warna Indonesia.
Budaya Nusantara pun menyatu dengan denyut kota Eropa, berdialog langsung dengan publik global.
Tak lama berselang, promosi budaya Indonesia berlanjut ke panggung yang lebih formal: Kantor Pusat UNESCO di Paris. Pada 19 September 2019, acara bertajuk “Presenting Indonesian Heritage to the World” digelar dan dihadiri sekitar 750 penonton dari kalangan diplomatik, pemerhati Indonesia, hingga masyarakat umum Perancis.
Acara dibuka oleh Duta Besar LBBP RI untuk Perancis dan Delegasi Tetap RI untuk UNESCO, Arrmanatha Christiawan Nasir. Sorotan utama diarahkan pada kekayaan warisan alam dan budaya Indonesia, yang ditampilkan melalui kesenian dari lima daerah: Minangkabau, Lombok, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Bali.

Dari Lombok, NTB, Gendang Beleq ditampilkan oleh grup Puspa Githa Pertiwi menjadi representasi kebudayaan Sasak di panggung dunia. Lima daerah ini dipilih bukan tanpa alasan: masing-masing memiliki situs atau warisan yang telah diakui UNESCO, termasuk yang terbaru saat itu, Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto dari Sumatera Barat.
Salah satu warisan penting dari kerja diplomasi budaya tersebut adalah berdirinya Rumah Budaya Indonesia (RBI) di Berlin. Diresmikan pada 29 Oktober 2017, RBI menjadi simpul strategis diplomasi budaya dan kerjasama Indonesia–Jerman.
Beralamat di Theodor-Francke Str. 11, Berlin, RBI berfungsi sebagai etalase budaya sekaligus ruang interaksi lintas bangsa.
Di sana, Indonesia tidak hanya “dipamerkan”, tetapi dipelajari, diapresiasi, dan didialogkan. Dari seni pertunjukan, pameran, diskusi budaya, hingga promosi pariwisata berbasis warisan budaya, baik yang berwujud maupun tak berwujud.
Bahasa sebagai Jantung Diplomasi
Bagi Ahmad Saufi, bahasa adalah inti dari semua upaya tersebut. Penguatan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) menjadi salah satu fokus utama, terutama di Eropa dan Jerman.
Melalui lokakarya Afiliasi Pengajar dan Pegiat BIPA (APPBIPA), materi seperti UKBI—Uji Kemahiran Bahasa Indonesia, yang kerap disebut sebagai “TOEFL-nya Bahasa Indonesia”—disosialisasikan dan dikembangkan.
Menariknya, Ahmad Saufi tak hanya berperan sebagai pejabat, tetapi juga sebagai “relawan” dalam upaya ini. Sebuah sikap yang menunjukkan bahwa diplomasi budaya bukan semata jabatan, melainkan panggilan.
Dalam konteks cultural exchange, ia juga menjembatani kerjasama antara penerbit Indonesia dan penerbit luar negeri, khususnya terkait jual-beli hak alih bahasa.
Melalui buku-buku yang diterjemahkan, budaya Indonesia merembes ke rak-rak perpustakaan dan toko buku dunia, diam-diam, tetapi menetap.
Kisah Berlin, Paris, dan Frankfurt itu kini menemukan relevansinya di NTB. Provinsi dengan kekayaan budaya, tradisi, dan bahasa yang luar biasa, namun masih membutuhkan tata kelola yang visioner.
Pengalaman Ahmad Saufi menunjukkan bahwa kebudayaan bukan beban anggaran, melainkan investasi identitas dan reputasi.
Jika kelak dipercaya menjadi Sekretaris Daerah Provinsi NTB, pengalaman diplomasi budaya itu dapat menjadi bekal penting: bagaimana membangun jejaring, mengelola potensi lokal dengan perspektif global, serta menempatkan budaya sebagai arus utama pembangunan.
Dari Berlin hingga Lombok, dari sastra hingga gendang beleq, dari bahasa hingga kebijakan, sekelumit cerita itu bukan sekadar catatan masa lalu.
Ia adalah modal kultural yang layak dirawat, agar NTB tidak hanya maju secara administratif, tetapi juga berdaulat secara budaya.
#Akuair-Ampenan, 03-01-2026
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : liputan































