CERAKEN.ID– Di Desa Padamara, Kecamatan Sukamulia, Lombok Timur, waktu seperti berjalan lebih perlahan. Di antara hamparan sawah dan denyut kehidupan desa yang tenang, tinggal seorang tokoh yang selama puluhan tahun menjadi rujukan ingatan kolektif masyarakat Sasak: Lalu Payasan.
Di usianya yang menginjak 73 tahun, ia tidak lagi sibuk di panggung-panggung besar kebudayaan. Namun justru dari ketenangan itulah nilai-nilai Sasak dirawat, dimaknai, dan diwariskan.
“Untuk memperdalam agama yang dianut suatu daerah, memang harus masuk lewat adat dan budaya setempat,” ujar Lalu Payasan saat ditemui di Padamara, Sabtu, 9 Januari 2026.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kalimat itu meluncur tenang, tanpa nada menggurui. Tetapi di dalamnya terkandung pengalaman panjang seorang budayawan yang menyaksikan bagaimana agama dan adat kerap dipertentangkan, padahal sejatinya dapat saling menguatkan.
Sebagai tokoh masyarakat dan budayawan Sasak, Lalu Payasan dikenal aktif dalam kegiatan seni dan kebudayaan. Ia kerap menjadi narasumber berbagai diskusi tentang tradisi Sasak, terutama soal proses akulturasi budaya dan praktik adat pernikahan merariq.
Baginya, tradisi bukan sekadar seremonial, melainkan jalan nilai. Cara masyarakat Sasak menanamkan etika, kesantunan, dan spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam percakapan itu, Lalu Payasan menyebut dua falsafah besar yang menurutnya menjadi fondasi watak orang Sasak: Lombok Mirah Sasak Adi dan Aiq Meneng Tunjung Tilah Empaq Bau. Dua ungkapan ini bukan hanya pepatah, melainkan peta jalan kebudayaan.
Lombok Mirah Sasak Adi, jelas Lalu Payasan, adalah falsafah hidup masyarakat Sasak Lombok yang bermakna bahwa kejujuran adalah permata utama bagi orang Sasak. Ungkapan ini bersumber dari Kitab Nagarakertagama, menegaskan bahwa identitas Sasak dibangun di atas nilai kelurusan, kebenaran, dan keutamaan moral.
Secara etimologis, Lombok (lomboq) berarti lurus atau jujur; Mirah adalah permata yang berharga; Sasak merujuk pada identitas masyarakatnya; dan Adi berarti utama, unggul, atau mulia. Jika dirangkai, falsafah ini mengajarkan bahwa kejujuran adalah harta paling berharga yang menjadikan orang Sasak mulia sebagai manusia dan sebagai komunitas.
“Kalau orang Sasak kehilangan kejujurannya, maka hilanglah mirahnya,” kata Lalu Payasan, menegaskan bahwa falsafah ini bukan sekadar slogan budaya, melainkan prinsip etika sosial.
Ia menjadi pengikat perbedaan adat istiadat, menyatukan ragam ekspresi budaya Sasak dalam satu identitas kebanggaan bersama. Dari sini lahir panduan hidup untuk membangun masyarakat yang harmonis, beretika, dan berdaya saing tanpa tercerabut dari akar leluhur.
Falsafah kedua, Aiq Meneng Tunjung Tilah Empaq Bau, melengkapi yang pertama. Secara harfiah berarti “air tetap tenang, teratai tidak rusak, ikan pun dapat ditangkap”.
Sebuah metafora yang dalam tentang cara mencapai tujuan hidup. Aiq meneng melambangkan ketenangan dan kejernihan hati; tunjung tilah melambangkan kemurnian dan integritas yang terjaga; sementara empaq bau menandakan keberhasilan yang diraih.
Maknanya jelas: tujuan hidup hendaknya dicapai dengan cara yang baik, sabar, dan sesuai norma, tanpa merusak tatanan atau melukai pihak lain.
Dalam pandangan Lalu Payasan, falsafah ini relevan bukan hanya dalam kehidupan adat, tetapi juga dalam beragama, bermasyarakat, dan bahkan berpolitik. Keberhasilan sejati adalah keberhasilan yang tidak meninggalkan kerusakan.
Dua falsafah ini, menurutnya, menjadi jembatan antara agama dan adat. Islam yang berkembang di Lombok tidak datang sebagai kekuatan yang meniadakan budaya lokal, tetapi bersemayam di dalamnya, menyerap nilai-nilai luhur, lalu memurnikannya.
Merariq, misalnya, tidak bisa dipahami semata sebagai “kawin lari”, melainkan sebagai sistem sosial yang sarat etika, musyawarah, dan tanggung jawab, jika dibaca dengan kacamata nilai.
Kini, di usia senja, keseharian Lalu Payasan lebih banyak diisi dengan laku diri untuk tafakur. Ia mengurangi hiruk-pikuk aktivitas publik, memilih menyepi dalam perenungan. Tafakur, baginya, bukan pelarian dari dunia, melainkan cara memahami dunia dengan lebih jernih.
Tafakur adalah ibadah merenung tentang kebesaran Allah SWT melalui ciptaan-Nya, alam semesta, diri manusia, dan perjalanan hidup. Ia bukan sekadar berpikir biasa, tetapi kontemplasi spiritual yang menghubungkan hati dan akal.
“Kalau sudah banyak bicara ke orang, sekarang saatnya banyak mendengar ke dalam diri,” tuturnya lirih.
Dalam tafakur, objek renungan Lalu Payasan beragam: langit dan bumi, pergantian siang dan malam, hujan yang turun ke sawah-sawah Padamara, hingga perjalanan hidupnya sendiri sebagai manusia Sasak.
Ia merenungi nikmat Allah yang kerap luput disyukuri, juga janji dan peringatan-Nya yang menjadi penuntun arah hidup.
Manfaat tafakur, menurutnya, nyata. Iman menjadi lebih kokoh, rasa syukur tumbuh, pikiran jernih, dan kesadaran spiritual semakin dalam. Dari situ muncul pemahaman bahwa tidak ada ciptaan yang sia-sia, dan tidak ada kebudayaan yang lahir tanpa hikmah.
Lalu Payasan mungkin tidak lagi berdiri di depan forum besar, tetapi jejak pemikirannya tetap hidup dalam nilai-nilai yang ia rawat.
Lewat falsafah Sasak dan laku tafakur, ia menunjukkan bahwa kebudayaan bukan benda mati, melainkan jalan sunyi untuk mendekat kepada Tuhan dan memuliakan manusia.
Di Padamara, ia menjadi pengingat bahwa kejujuran adalah permata, ketenangan adalah jalan, dan kebijaksanaan tumbuh dari perenungan yang dalam. (aks)
Penulis : aks
Editor : Caraken Editor
Sumber Berita : liputan































