Oleh: Lalu Surya Mulawarman – Kepala Taman Budaya Prov. NTB
CERAKEN.ID– Sabtu malam, 17 Januari 2026, Gedung Teater Tertutup Taman Budaya NTB tidak sekadar menjadi ruang pertunjukan. Ia bertransformasi menjadi ruang empati, tempat seni berbicara dan kemanusiaan mendengarkan.
Dalam tajuk “Artunity: Art Speaks, Humanity Listens”, Komunitas Seni NTB untuk Kemanusiaan (Artunity) menggelar A Charity Night for Sumatera, sebuah kegiatan kolaboratif lintas disiplin seni yang berangkat dari kepedulian terhadap saudara-saudara di Sumatera yang tengah dilanda bencana.
Artunity, komunitas independen yang bergerak di bidang seni, budaya, dan kegiatan sosial kemasyarakatan, menempatkan seni bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai medium kesadaran. Melalui seni, mereka menyampaikan pesan bahwa penderitaan akibat bencana melampaui batas geografis.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Duka yang dialami masyarakat Sumatera adalah duka bersama. Kehilangan rumah, keluarga, dan harapan bukanlah sekadar data statistik, melainkan luka kemanusiaan yang dapat dirasakan oleh siapa pun, di mana pun.
Seni sebagai Bahasa Empati
Sejak memasuki area teater, atmosfer malam itu terasa berbeda. Tidak ada gemerlap berlebihan, tidak pula hiruk-pikuk euforia. Yang terasa justru kesunyian yang bermakna.
Kesunyian yang mengajak hadirin menundukkan kepala, mengingat, dan merasakan. Seni hadir dengan kesadaran penuh akan konteks: bencana, kehilangan, dan solidaritas.
Pentas demi pentas disuguhkan sebagai fragmen-fragmen empati. Musik, tari, hingga performans visual hadir bergantian, saling menyapa tanpa harus saling menonjolkan diri.
Setiap disiplin seni berdiri sejajar, menyuarakan kepedulian dengan caranya masing-masing. Inilah kekuatan kolaborasi lintas disiplin: tidak ada hierarki, tidak ada dominasi, yang ada hanyalah kebersamaan.
Nada-nada musik mengalun lirih, kadang mengeras seperti jeritan, lalu kembali melembut seolah mengusap luka. Gerak tubuh penari berbicara tentang kehilangan, keterbatasan, dan daya hidup manusia yang terus berusaha bangkit.
Narasi puisi dalam live sand animation tidak berteriak, tetapi menembus perlahan, menghunjam ke ruang batin penonton. Seni malam itu tidak meminta tepuk tangan semata; ia meminta perenungan.
Bencana, sebagaimana dipahami Artunity, bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah peristiwa sosial dan kemanusiaan.
Ketika bumi bergerak, air meluap, atau api melahap, yang runtuh bukan hanya bangunan fisik, tetapi juga rasa aman dan masa depan manusia. Karena itulah, penderitaan tidak bisa dilihat sebagai milik satu wilayah semata.
“Duka mereka adalah duka kita.” Kalimat ini terasa hidup dalam keseluruhan acara. Di dalam gedung teater, jarak antara NTB dan Sumatera seakan lenyap.
Yang tersisa hanyalah kesadaran bahwa sebagai manusia, kita terikat oleh empati yang sama. Apa yang dialami orang lain, pada hakikatnya, adalah cermin dari kemungkinan yang bisa menimpa siapa pun.
Artunity menegaskan bahwa solidaritas tidak selalu harus hadir dalam bentuk besar dan spektakuler. Ia bisa lahir dari ruang-ruang seni, dari pertemuan manusia yang bersedia mendengarkan.
Charity Night ini bukan sekadar penggalangan dana, tetapi juga penggalangan kesadaran. Bahwa kemanusiaan membutuhkan kehadiran aktif, bukan sekadar simpati pasif.
Tanggung Jawab Bersama sebagai Manusia
Apa yang dilaksanakan oleh Artunity merupakan bentuk tanggung jawab bersama sebagai manusia. Dalam konteks ini, seni menjadi alat etik dan moral.
Ia mengingatkan bahwa seniman bukan hanya pencipta estetika, tetapi juga warga sosial yang hidup di tengah realitas yang penuh ketimpangan dan penderitaan.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa seni tidak pernah netral. Ia selalu berpihak, dan malam itu, seni berpihak pada kemanusiaan. Artunity memilih untuk tidak diam, tidak menjauh dari realitas pahit, tetapi justru mendekat, menyentuh, dan mengolahnya menjadi pengalaman bersama.
Di sinilah seni menemukan relevansinya yang paling jujur.
Lebih jauh, acara ini memperlihatkan bagaimana komunitas seni dapat berperan aktif dalam merespons isu-isu kemanusiaan tanpa kehilangan integritas artistik. Tidak ada kesan eksploitasi penderitaan.
Yang ada adalah penghormatan terhadap korban, disampaikan dengan bahasa seni yang penuh empati dan kesadaran.
Tema “Art Speaks, Humanity Listens” bukan slogan kosong. Seni memang berbicara malam itu, tetapi ia juga mengajak semua yang hadir untuk belajar mendengarkan.
Mendengarkan suara korban bencana, mendengarkan jeritan yang sering tak terdengar, dan mendengarkan suara hati sendiri. Dalam keheningan antarpertunjukan, penonton diajak bertanya: sejauh mana kita peduli? Apa yang bisa kita lakukan?
Mendengarkan, dalam konteks ini, adalah tindakan aktif. Ia menuntut keterlibatan emosional dan etis. Dengan mendengarkan, manusia mengakui keberadaan dan penderitaan sesamanya. Dan dari pengakuan itulah, solidaritas bisa tumbuh.
Ketika acara berakhir, hadirin meninggalkan gedung teater dengan langkah yang lebih pelan. Bukan karena lelah, tetapi karena ada beban kesadaran yang ikut dibawa pulang.
“A Charity Night for Sumatera” mungkin hanya berlangsung satu malam, tetapi pesan yang disampaikan Artunity melampaui durasi waktu itu.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa solidaritas tidak boleh bersifat musiman. Ia harus dijaga, dirawat, dan terus dinyalakan.
Seni, dengan segala kerentanannya, memiliki kemampuan untuk menjaga api itu tetap hidup: api empati, kepedulian, dan tanggung jawab bersama.
Artunity telah menunjukkan bahwa ketika seni berbicara dengan jujur, kemanusiaan akan mendengarkan. Dan ketika kemanusiaan mendengarkan, harapan meski kecil tetap menemukan jalannya.
Di tengah duka dan kehilangan, itulah mungkin sumbangan paling bermakna yang bisa diberikan seni kepada dunia.**
Penulis : lsm
Editor : Ceraken Editor































