CERAKEN.ID — Panggung kecil kadang menyimpan cerita besar. Itulah yang terasa dalam Pentas Selasa edisi 17 Februari 2026, ketika suasana hangat berkumpulnya musisi dan generasi muda kembali hidup di Warjack, ruang sederhana yang selama bertahun-tahun menjadi saksi pertemuan ide, kegelisahan, sekaligus harapan para pegiat seni di Lombok.
Malam itu, musisi senior Ipang Pantjoro Sumarsa hadir mengiringi sekaligus membersamai dua generasi muda, Nazla dan Aldo. Kehadirannya bukan sekadar tampil, melainkan memberi ruang belajar bagi musisi muda untuk merasakan langsung energi panggung yang otentik.
“Saya mampir ke Warjack. Pentas Selasa bagi saya bukan sekadar panggung. Saya melihatnya sebagai wajah kesederhanaan, kerelaan, dan keotentikan,” ujar Ipang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, generasi muda memiliki semangat tampil yang tinggi, meski mutu permainan tetap membutuhkan proses panjang. “Kemauan tampilnya tinggi. Tapi untuk meningkatkan kualitas bermain, sebagian memang perlu lebih banyak latihan,” katanya.
Namun ketika ditanya tentang masa depan Pentas Selasa, Ipang menilai kemasan acara perlu dibuat lebih serius agar potensi yang ada tidak berhenti pada romantisme komunitas semata, melainkan tumbuh menjadi ekosistem seni yang lebih mapan.
Fenomena ini juga menjadi perhatian Wing Irawan, front man band Yoiakutik. Menurutnya, Pentas Selasa menjadi refleksi penting bahwa ruang kreatif kadang justru tumbuh di luar institusi resmi yang selama ini dianggap pusat aktivitas seni dan budaya.
Sementara itu, bagi Winsa Le Embrio, Pentas Selasa adalah ruang alternatif bagi ekspresi dan apresiasi kreatif sekaligus upaya menjaga konsistensi denyut kebudayaan.
Ia juga menjadi saksi sejarah kelahiran dan penggagas acara tersebut. Menurut Winsa, embrio kegiatan ini sudah ada sejak 2005, meski masih sporadis. Pentas reguler kemudian mulai berjalan sekitar 2007.
Perjalanan itu tentu tidak selalu mulus. Pentas Selasa sempat mengalami masa mati suri. Hingga akhirnya, dalam setahun terakhir, muncul sosok Boleng Mahrus Putra yang berupaya menghidupkan kembali semangatnya.
“Bagi saya, Pentas Selasa bukan sekadar agenda mingguan. Ia ruang yang harus dirayakan, dirawat, bahkan diperjuangkan dengan kepala batu,” kata Boleng.

Ia mengenang masa mudanya ketika sering mondar-mandir festival teater pelajar di Taman Budaya NTB. Di warung-warung sekitar, para seniman berdiskusi seakan merancang revolusi kecil.
Dari situ ia belajar bahwa kesenian tak hanya lahir di panggung, tapi di meja-meja sederhana tempat ide diperjuangkan.
Menyalakan kembali Pentas Selasa, katanya, adalah cara melawan lupa, cara menjaga agar api kreativitas tidak padam. Selama satu tahun terakhir, ia berupaya memastikan ruang itu tetap hidup demi regenerasi seniman di Pulau Lombok.
“Ini tempat latihan, tempat bertukar gagasan, berdebat, bahkan negosiasi bisnis seni. Tempat mimpi diuji sebelum dilempar ke publik,” ujar Boleng.
Upaya tersebut, menurutnya, terjadi murni karena kesadaran pribadi. Ia juga menyebut peran Reza Ashari yang mempertemukannya dengan Winsa untuk mengelola kegiatan di Warjack.
Tentang siapa penggagas awal Pentas Selasa, Boleng menyebut nama Ary Juliyant. Hal itu kemudian dikonfirmasi langsung oleh Ary ketika ditemui di Rumah Kucing Montong pada Rabu, 18 Februari 2026.
Menurut Ary, nama Pentas Selasa lahir secara sederhana. Pada sekitar 2007–2008, hari Selasa menjadi satu-satunya hari ketika ia tidak memiliki pekerjaan. Ia kemudian mengusulkan kepada pemilik warung untuk membuat pentas sederhana di hari tersebut.
“Awalnya hanya karena Selasa saya lowong. Saya bilang ke Pak Jack, bagaimana kalau kita bikin pentas ala kadarnya,” kenangnya.
Dari niat sederhana itulah, ruang kreatif ini tumbuh. Ia bertahan bukan karena fasilitas mewah, melainkan karena kesadaran kolektif bahwa seni membutuhkan rumah, sekecil apa pun bentuknya.
Kini, setelah hampir dua dekade berdenyut naik turun, Pentas Selasa masih berdiri. Ia tetap menjadi tempat generasi lama dan baru saling menyapa, belajar, dan menguji diri.
Dan jika api kecil ini terus menyala, bukan mustahil Lombok suatu hari berdiri sebagai salah satu episentrum seni baru di Indonesia, bukan karena diberi panggung, melainkan karena berhasil merebutnya sendiri.(aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita : liputan









































