Menebar Jala di Musim Galau: Gerilya Seni Ary Juliyant Memasuki Babak Ke-14

- Penulis

Kamis, 12 Februari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

“Menebar Jala di Musim Galau”. Tema itu bukan sekadar slogan tur musik, melainkan refleksi terhadap kondisi sosial, lingkungan, dan cara manusia memperlakukan bumi yang semakin terasa kehilangan arah (Foto: ist)

“Menebar Jala di Musim Galau”. Tema itu bukan sekadar slogan tur musik, melainkan refleksi terhadap kondisi sosial, lingkungan, dan cara manusia memperlakukan bumi yang semakin terasa kehilangan arah (Foto: ist)

CERAKEN.ID– Tahun 2026 menjadi penanda penting dalam perjalanan panjang musisi dan pegiat seni Ary Juliyant.

Perjalanan dua tahunan yang ia sebut sebagai Tourgerilya kini memasuki episode ke-14, sebuah capaian yang bukan sekadar hitungan angka, tetapi rekam jejak ketekunan seorang seniman menempuh jalan sunyi kesenian selama lebih dari seperempat abad.

Tourgerilya #14 kali ini mengusung tema “Menebar Jala di Musim Galau”, sebuah metafora yang mengandung kegelisahan sekaligus harapan.

Tema itu bukan sekadar slogan tur musik, melainkan refleksi terhadap kondisi sosial, lingkungan, dan cara manusia memperlakukan bumi yang semakin terasa kehilangan arah.

Saat ditemui di Rumah Kucing Montong pada Minggu (8/2), Ary menjelaskan makna di balik tema tersebut.

“Tema ‘Menebar Jala’ dimaksud adalah menebar cerita, mengais kisah tentang lakon air, kisah bohong-membohongi, maupun apapun yang terjadi di ‘musim’ yang sepertinya tengah ‘galau’ menghadapi sikap manusia-manusia memperlakukan apapun di atas bumi, semaunya,” ujar Ary.

Tema ini seolah menjadi refleksi perjalanan panjang seorang seniman yang menyaksikan perubahan zaman:  dari masa ketika seni tumbuh sebagai ruang kebersamaan, hingga kini saat seni kerap terjebak menjadi sekadar komoditas hiburan.

Sebagaimana tradisi yang sudah ia jalankan sejak awal perjalanan Tourgerilya, konser Ary Juliyant tidak hanya berisi pertunjukan musik. Seusai menyanyikan lagu, ia kerap berhenti, berbicara, menceritakan latar penciptaan lagu, hingga membuka ruang dialog dengan penonton.

Pertunjukan menjadi percakapan, bukan sekadar tontonan.

Untuk Tourgerilya #14, Ary telah menyiapkan sejumlah lagu yang akan mengiringi perjalanan lintas kota, antara lain:

  1. Tristezza
  2. Andai Gunung Ranai
  3. Burung Gagak di Kalkuta
  4. Lagu-Lagu Itu
  5. Imysm
  6. Kerontang Malang Melintang
  7. Air Jernih
  8. Di Trawangan Aku Tertidur
  9. Down Under The Tree
  10. Medio Oktoberku
  11. Tembang Sari Asmarandana
  12. Lewat Antwerpen
  13. Koboy Kampung
Interaksi ini membuat konser terasa intim, seolah penonton tidak sekadar menyaksikan, tetapi ikut terlibat dalam proses penciptaan makna (Foto: ist)

Daftar lagu tersebut memperlihatkan bentang perjalanan kreatif Ary. Dari karya lama hingga komposisi terbaru, dari refleksi personal hingga kritik sosial, dari lanskap lokal hingga pengalaman lintas negara.

Majalengka: Titik Awal di Bekas Pabrik Genteng

Titik pertama Tourgerilya #14 telah dilaksanakan di Majalengka pada 6 Februari 2026, berlangsung sejak pukul 05.00 hingga 07.00 WIB. Lokasinya pun jauh dari panggung megah atau gedung pertunjukan resmi.

Baca Juga :  Merekam Kampung dalam Nada: Jejak Arsipelagol yang Tumbuh dari Dusun Gol

Ary memilih sebuah area bekas pabrik genteng di kawasan Majalengka, dekat Jatiwangi dan Kertajati.

Pilihan tempat itu seolah menegaskan kembali semangat gerilya: seni hadir di ruang-ruang sederhana, di bekas pusat produksi, di wilayah yang menyimpan jejak kerja manusia dan perubahan zaman.

Beberapa lagu yang dibawakan di titik perdana ini antara lain:

  • Kerontang Malang Melintang (2023)
  • Lagu-Lagu Itu (2006)
  • Sepanjang Dzikir (1997)
  • Absurd (1997)

Setelah tiap lagu, Ary berbincang dengan penonton, membahas konteks lagu, pengalaman personal, dan refleksi sosial yang melatari karya-karya tersebut.

Interaksi ini membuat konser terasa intim, seolah penonton tidak sekadar menyaksikan, tetapi ikut terlibat dalam proses penciptaan makna.

Titik awal ini juga memiliki makna khusus karena sekaligus menjadi hadiah ulang tahun bagi Asrie Tresnady serta turut meramaikan peringatan delapan tahun Agni Aroma.

“Titik perdana tourgerilya #14 ini juga sekaligus menjadi hadiah ulang tahun bagi Asrie Tresnady serta ikut meramaikan peringatan 8 tahunnya Agni Aroma. Selamat, ya,” ujar Ary.

Tourgerilya Ary Juliyant bukan program baru. Sejak tahun 2000, ia telah menjadikannya sebagai pola perjalanan berkesenian yang dilakukan setiap dua tahun sekali.

Dalam kurun 26 tahun, perjalanan itu telah menempuh berbagai kota dan negara.

Riwayat perjalanan tersebut antara lain:

  • 2000 – Dari Bandung ke Bandung: Bandung–Mataram
  • 2002 – Kabar Dari Timur: Bandung–Jatiwangi–Cirebon–Lombok
  • 2006 – Perjalanan Selatan: Lombok–Surabaya–Solo–Yogyakarta–Bandung–Bogor–Jakarta
  • 2008 – Lawatan Matahati: Lombok–Bandung–Bengkulu–Rotterdam
  • 2010 – Balada Nusa Gora: Lombok–Sumbawa
  • 2012 – Pentas-Pentas Bersahaja: Mataram–Jakarta–Bandung–Jatiwangi–Jogja–Solo–Bali
  • 2014 – Nyanyian Bukan Genderang Perang: Indonesia–Belanda–Perancis
  • 2016 – Mata Air Sungai Cinta: Bandung–Lombok
  • 2018 – Pelastik Hijau Hutan Menahun: Lombok
  • 2020 – Perjalanan Pancaroba Pandemicovida: Lombok
  • 2022 – Bunyi, Rupa dan Semesta: Ubud–Lombok
  • 2024 – Membaca Warna: Lombok
  • 2026 – Menebar Jala di Musim Galau: Bandung–Majalengka–Lombok dan kota-kota lain yang akan menyusul.

Daftar ini memperlihatkan bahwa perjalanan Ary tidak selalu berlangsung di pusat-pusat seni nasional. Banyak titik justru berada di kota kota kecil, komunitas lokal, atau ruang alternatif yang jarang tersentuh pertunjukan seni arus utama.

Baca Juga :  MERANGKAI KISAH, MENYAPA GENERASI Z LEWAT LIMA SINGLE MEGAN LITANI
Kegaduhan informasi sering kali membuat manusia kehilangan kepekaan terhadap lingkungan dan sesama (Foto: ist)
Gerilyawan Kesenian

Dalam kesempatan lain, Ary menyebut dirinya sebagai “gerilyawan kesenian”. Sebuah istilah yang lahir bukan dari romantisme, melainkan pengalaman nyata menghadapi kerasnya perjalanan berkesenian.

Menjadi seniman, menurutnya, berarti siap hidup dalam keterbatasan. Minimnya dukungan finansial, sarana yang terbatas, serta kebijakan yang belum sepenuhnya berpihak kepada pelaku seni adalah kenyataan yang harus dihadapi.

Namun justru di situlah makna perjuangan.

Seni, bagi Ary, tidak tumbuh dari kenyamanan semata. Ia lahir dari kegelisahan, dari pertanyaan, dari hasrat untuk terus bersuara ketika dunia cenderung menyeragamkan segalanya menjadi produk konsumsi.

Dalam konteks inilah Tourgerilya menjadi penting. Ia bukan sekadar tur musik, melainkan bentuk perlawanan halus terhadap komersialisasi seni. Ary memilih hadir di ruang-ruang kecil, menyapa komunitas, berdialog langsung, tanpa jarak antara seniman dan penonton.

Menebar Cerita di Tengah Kegalauan Zaman

Tema “Menebar Jala di Musim Galau” terasa relevan dengan kondisi sosial hari ini. Dunia bergerak cepat, teknologi mengubah cara manusia berinteraksi, dan ruang refleksi semakin sempit.

Kegaduhan informasi sering kali membuat manusia kehilangan kepekaan terhadap lingkungan dan sesama.

Di tengah situasi itu, Ary Juliyant memilih berjalan, menyanyi, dan berbincang dengan orang-orang yang ia temui di sepanjang perjalanan.

Ia menebar cerita, mengais kisah, mengumpulkan serpihan pengalaman yang mungkin tak pernah masuk berita utama, tetapi justru menjadi denyut kehidupan sehari-hari.

Tourgerilya #14 baru saja dimulai, tetapi jejak panjang perjalanan sebelumnya memperlihatkan satu hal: gerilya seni tidak pernah berhenti selama masih ada kegelisahan yang perlu diungkapkan.

Dan selama masih ada ruang kecil tempat orang-orang berkumpul untuk mendengar lagu, berbagi cerita, serta menemukan kembali makna hidup yang sederhana.

Perjalanan Ary Juliyant tampaknya akan terus berlanjut menebar jala, bahkan di musim yang paling galau sekalipun.(aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB
Ketika Begawe Beleq Berakhir, Rindu pada Panggung yang Menjadi Milik ‘Kami’
Ketika Klenang Bertemu Keyboard: Menyusun Masa Depan Bunyi dari Ruang Musik NTB
Rock ’n’ Roll Night di Begawe Beleq: Ketika Musik, Rakyat, dan Ekonomi Kreatif Bertemu
MERANGKAI KISAH, MENYAPA GENERASI Z LEWAT LIMA SINGLE MEGAN LITANI
Merekam Jiwa Alam, Menemukan Irama: Hari Ketujuh Eksperimentasi Musik NTB
Menjelang Evaluasi Pertama, Eksperimentasi Musik NTB Mulai Menemukan Bentuk
Megan Litani Ajak Generasi Muda Isi Kemerdekaan dengan Karya dan Prestasi

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 11:01 WITA

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Rabu, 26 Agustus 2026 - 17:47 WITA

Ketika Begawe Beleq Berakhir, Rindu pada Panggung yang Menjadi Milik ‘Kami’

Rabu, 26 Agustus 2026 - 10:15 WITA

Ketika Klenang Bertemu Keyboard: Menyusun Masa Depan Bunyi dari Ruang Musik NTB

Selasa, 25 Agustus 2026 - 12:28 WITA

Rock ’n’ Roll Night di Begawe Beleq: Ketika Musik, Rakyat, dan Ekonomi Kreatif Bertemu

Senin, 24 Agustus 2026 - 17:12 WITA

MERANGKAI KISAH, MENYAPA GENERASI Z LEWAT LIMA SINGLE MEGAN LITANI

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA