PSIU: Gerakan Terpadu untuk Mencetak Generasi Inovator Sosial NTB

Rabu, 19 November 2025 - 22:37 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Unram menunjukkan bahwa kampus bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi ruang terbaik untuk menumbuhkan empati, keberanian, dan komitmen menghadirkan perubahan.

Unram menunjukkan bahwa kampus bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi ruang terbaik untuk menumbuhkan empati, keberanian, dan komitmen menghadirkan perubahan.

Catatan Agus K Saputra

CERAKEN.ID- Masih ingat Program Social Innopreneurship Universitas Mataram (PSIU) yang digagas Prof. Muhamad Ali sebagai salah satu visi strategisnya apabila terpilih sebagai Rektor Universitas Mataram?

Gagasan ini bukan sekadar program insidental atau tambahan aktivitas mahasiswa, tetapi sebuah gerakan terpadu lintas fakultas dan lintas disiplin yang dirancang untuk memperkuat posisi kampus sebagai katalisator perubahan sosial.

PSIU lahir dari kesadaran bahwa perguruan tinggi tidak lagi cukup menjadi pusat transfer ilmu pengetahuan. Ia harus menjadi lokomotif inovasi sosial, mencetak generasi muda yang mampu menggabungkan keilmuan dengan empati, kreativitas, dan keberanian untuk terjun langsung menghadapi persoalan masyarakat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dengan keragaman disiplin yang dimiliki Universitas Mataram (Unram), serta kekayaan konteks sosial budaya di Nusa Tenggara Barat (NTB), kampus ini memiliki modal besar untuk menjadi motor penggerak inovasi di kawasan Indonesia Timur.

Melalui PSIU, Unram ingin menyiapkan mahasiswa bukan hanya sebagai lulusan berprestasi akademik, tetapi sebagai agen transformasi yang mampu melihat masalah, merumuskan solusi, dan mengimplementasikannya dalam skala nyata.

Inilah yang membuat PSIU berdiri di atas tiga pilar utama: Edukasi dan Literasi Inovasi Sosial, Inkubasi dan Pendampingan Proyek, serta Kemitraan dan Kolaborasi.

1.Edukasi dan Literasi Inovasi Sosial

Pilar pertama ini menekankan bahwa inovasi sosial hanya bisa tumbuh dari pemahaman yang kuat tentang konsep, metode, dan nilai yang menjadi fondasinya. Mahasiswa diperkenalkan pada gagasan social entrepreneurship, design thinking, human-centered development, hingga sustainable innovation.

Tujuannya adalah membentuk pola pikir bahwa kegiatan ekonomi dapat berjalan seiring dengan kepedulian sosial.

  1. Kurikulum Terintegrasi

Setiap fakultas didorong mengintegrasikan materi inovasi sosial ke dalam perkuliahan. Misalnya:

  • Fakultas Ekonomi dan Bisnis menghadirkan modul Bisnis Sosial Berbasis Komunitas.
  • Fakultas Teknik mengembangkan Teknologi Tepat Guna untuk Kemandirian Desa.
  • Fakultas Kesehatan Masyarakat memperkuat kajian Intervensi Sosial Berbasis Data Kesehatan.
  • Fakultas Hukum memperkenalkan Kebijakan Publik untuk Inovasi Sosial.

Pendekatan lintas disiplin ini menciptakan ruang kolaborasi yang kaya: mahasiswa teknik dapat berkolaborasi dengan mahasiswa ekonomi dalam perancangan model bisnis, sementara mahasiswa kesehatan masyarakat memberikan analisis dampak sosial, dan mahasiswa hukum menyiapkan kerangka regulasinya.

  1. Lokakarya, Bootcamp, dan Sekolah Sosial
Baca Juga :  Resonansi yang Tak Terlihat: Membaca “Bawah Tanah” I Nyoman Sandiya

PSIU juga menghadirkan program non-kurikuler seperti:

  • Social Innovation Bootcamp – pelatihan intensif 2–3 hari tentang problem framing, riset lapangan cepat, dan prototyping.
  • Sekolah Inovasi Desa – project-based learning di desa mitra, fokus pada ketahanan pangan, sanitasi, hingga pengelolaan sampah.
  • Kelas Master dengan Praktisi Nasional – menghadirkan founder startup sosial, aktivis NGO, dan tokoh perubahan sosial.
  1. Penumbuhan Empati Akademik

Empati menjadi fondasi inovasi sosial. Program seperti Satu Minggu Tinggal di Desa, kunjungan ke kelompok rentan, hingga dialog komunitas dijadikan pengalaman wajib. Mahasiswa belajar bahwa solusi terbaik lahir dari kedekatan dengan realitas masyarakat.

Dengan kekuatan sosial-budaya NTB sebagai panggungnya, PSIU memiliki potensi menjadi model inovasi sosial tingkat nasional, bahkan menjadi inspirasi bagi perguruan tinggi lain di Indonesia.
2.Inkubasi dan Pendampingan Proyek

Pilar kedua menjadikan kampus sebagai ruang produktif untuk melahirkan proyek nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat.

  1. Inkubator Gagasan dan Riset

PSIU menyediakan co-working space, laboratorium kreatif, hingga studio pengembangan produk. Mahasiswa mendapatkan:

  • mentoring profesional,
  • fasilitas uji coba,
  • pelatihan keterampilan bisnis sosial,
  • workshop social impact assessment,
  • penyusunan business model sustainability.

Setiap proyek wajib menyusun roadmap dampak untuk memastikan keberlanjutan dan kesesuaian dengan nilai lokal NTB.

  1. Praktik Baik dari Lintas Fakultas

Sejumlah contoh proyek menggambarkan kekuatan kolaboratif PSIU:

  1. Fakultas Peternakan – “Susu untuk Desa”

Program pengolahan susu yang sebagian keuntungannya dialokasikan untuk program gizi anak pesisir dan edukasi stunting.

2. Fakultas Teknik – “Biogenerator Kampung Energi”

Mini-biogenerator berbahan limbah organik, dikelola dengan model koperasi desa.

3. Fakultas Pertanian – “Urban Farming Berbasis IoT”

Sistem hidroponik sensor otomatis yang hasil penjualannya digunakan untuk pelatihan ibu rumah tangga.

4. Fakultas Kedokteran – “Klinik Edukasi Kesehatan Remaja”

Layanan konsultasi kesehatan gratis dan sistem rujukan sederhana untuk SMA pinggiran kota.

5. Fakultas Hukum – “Rumah Advokasi Kebijakan Desa”

Pendampingan penyusunan Peraturan Desa untuk perlindungan kelompok rentan.

Baca Juga :  Pulang ke Palung: Phalonk, Tradisi yang Diciptakan Ulang, dan Jalan Pulang Seniman Daerah

Proyek-proyek ini menunjukkan bahwa PSIU bukan sekadar program kampus, tetapi ekosistem gerakan sosial.

  1. Akselator Inovasi

Proyek yang berkembang lebih dari satu semester dapat masuk tahap akselerasi, mencakup:

  • penyusunan pitch deck,
  • pendanaan eksternal,
  • penguatan jejaring mitra,
  • pilot project berskala lebih luas.

Melalui akselerator ini, inovasi mahasiswa berpeluang menjadi bisnis sosial berkelanjutan.

“Inilah yang harus kita implementasikan, sebagai bagian dari how to learn live together in peace and harmony,”
3. Kemitraan dan Kolaborasi

Pilar ketiga menegaskan bahwa inovasi sosial membutuhkan jejaring multipihak.

  1. Kemitraan Pemerintah

PSIU bekerja sama dengan:

  • Dinas Sosial NTB (pemberdayaan kelompok rentan),
  • Dinas Ketahanan Pangan (urban farming dan pangan lokal),
  • Pemerintah desa (Desa Inovasi).

Kolaborasi ini memudahkan integrasi inovasi kampus ke dalam program pembangunan daerah.

  1. Kolaborasi dengan Dunia Industri

Sektor swasta memberikan dukungan berupa:

  • CSR untuk inovasi sosial,
  • pelatihan profesional,
  • peluang magang,
  • dukungan teknologi dan pendanaan.

Contohnya, bank mendukung modul keuangan mikro sosial; perusahaan teknologi menyokong pengembangan aplikasi layanan publik.

  1. Keterlibatan Organisasi Sosial

NGO dan komunitas menjadi jembatan antara kampus dan lapangan. Mahasiswa belajar memahami realitas sosial melalui pengalaman langsung.

  1. Ekosistem Inovasi Sosial yang Inklusif

Dengan tiga pilar ini, PSIU membentuk alur inovasi yang terstruktur: ide tumbuh di kelas, diperdalam di inkubator, diuji di lapangan, lalu diperkuat melalui jejaring mitra.

Program Social Innopreneurship Universitas Mataram bukan hanya platform pendidikan, tetapi sebuah gerakan perubahan yang menjadikan mahasiswa sebagai jantung inovasi sosial.
Simpulan

Program Social Innopreneurship Universitas Mataram bukan hanya platform pendidikan, tetapi sebuah gerakan perubahan yang menjadikan mahasiswa sebagai jantung inovasi sosial.

Dengan pendekatan lintas disiplin, pendampingan berbasis proyek, dan dukungan multipihak, PSIU mempersiapkan generasi yang cerdas, peduli, dan mampu menerjemahkan gagasan menjadi dampak nyata.

Unram menunjukkan bahwa kampus bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi ruang terbaik untuk menumbuhkan empati, keberanian, dan komitmen menghadirkan perubahan.

Dengan kekuatan sosial-budaya NTB sebagai panggungnya, PSIU memiliki potensi menjadi model inovasi sosial tingkat nasional, bahkan menjadi inspirasi bagi perguruan tinggi lain di Indonesia.

“Inilah yang harus kita implementasikan, sebagai bagian dari how to learn live together in peace and harmony,” tegas Prof. Ali.

#Akuair-Ampenan, 19-11-2025

Penulis : Agus K Saputra

Editor : Ceraken Editor

Berita Terkait

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak
Bahagia yang Tak Bisa Sendiri
Lalu Payasan: Menjaga Agama Lewat Adat, Merawat Sasak Lewat Tafakur
Ketika Angka Berbicara dan Konfigurasi Berubah: Pelajaran dari Pemilihan Rektor Unram 2026–2030
Mencoba Menakar Peluang Prof. Muhamad Ali, Ph.D
Ahmad Saufi: Menyambungkan Sekolah dengan Pasar Kerja
Dari Dapur ke Kanvas: Sun Noosea dan Jalan Reva Adhitama
Dari Berlin ke NTB: Diplomasi Budaya, Sastra, dan Bekal Kepemimpinan Ahmad Saufi

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 08:50 WITA

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Rabu, 14 Januari 2026 - 09:04 WITA

Bahagia yang Tak Bisa Sendiri

Minggu, 11 Januari 2026 - 12:27 WITA

Lalu Payasan: Menjaga Agama Lewat Adat, Merawat Sasak Lewat Tafakur

Jumat, 9 Januari 2026 - 23:47 WITA

Ketika Angka Berbicara dan Konfigurasi Berubah: Pelajaran dari Pemilihan Rektor Unram 2026–2030

Rabu, 7 Januari 2026 - 22:27 WITA

Mencoba Menakar Peluang Prof. Muhamad Ali, Ph.D

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA