Citra Perempuan Dalam Puisi Barat

Minggu, 23 November 2025 - 08:50 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 Menjadi diri sendiri dengan prinsip yang ditanamkan orang tua atau orang yang digugu (Foto: ist)

Menjadi diri sendiri dengan prinsip yang ditanamkan orang tua atau orang yang digugu (Foto: ist)

Oleh: Nuriadi Sayip*

CERAKEN.ID- Di Barat, cinta yang non material itu dikenal dengan istilah “Cinta Platonis” (Platonic Love). Ah, jadi ingat puisi Inggris yang berjudul “Love’s Alchemy” karya John Donne (penyair Inggris) pada abad ke-17.

Pada saat yang sama cinta fisik (material) yang menyatukan juga sudah berkali-kali digambarkan sebagai penyatuan diri dalam satu ikatan fisik dan bathin yang digambarkan begitu indah melalui metafor-metafor alam seperti dalam puisi “Love’s Philosophy” karya P.B. Shelley, penyair Inggris lainnya di era Romantisisme abd ke-19.

Namun terlepas material atau non material, semua tersatukan dalam semangat spiritualitas. Semangat spiritualitas yang saya maksud adalah Kesadaran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jadi cinta yang dibangun dari kesadaran akan membawa rasa keteduhan dan penerimaan dari masing-masing.

Tidak ada sikap posesivitas yang berlebihan!

Dalam teori feminisme, ada dua konsep memang yang dipertunjukkan dan dipertentangkan sebagai dasar berpikir pergerakannya. Yaitu konsep Good Woman dan New Woman.

Konsep Good Woman adalab citra dan ajaran yang dibangun oleh para tokoh-tokoh di masa lalu. Perempuan yang baik, yang bakti dan bertugas menjaga ranah domestik dan menjadi sosok Ibu bagi semua.

Baca Juga :  Perspektif Kebudayaan NTB Mendunia: Dari Bumi Gora ke Panggung Global

Penggambaran ini dengan detail dilukis oleh Elizabeth Chandler dalam puisinya yang berjudul “Woman” pada awal abad ke-19. Inilah citra yang teraplikatif ke dalam kesadaran teologis.

Namun kaum Feminis tidak memandang hal itu lagi sebagai sebuah “keistimewaan”. Mereka ingin berwujud sebagai New Woman, yang harus diperlakukan setara dan bisa apa saja sebagaimana laki-laki di ranah publik.

Dia ingin menjadi imam untuk laki-laki. Seminimal-minimalnya, dia ingin berposisi atau diposisikan sebatas partner kolaboratif dengan laki-laki dan lalu berhak atas diri laki-laki seutuhnya

Mengapa terjadk pergeseran perubahan dalam peradaban? Menurut saya, yang membuat perubahan itu adalah paradigma berpikir manusia yang terkondisikan oleh tren dan semangat zaman. Paradigma itu bisa berupa kemajuan intelektual dan teknologi.

Gerakan feminisme adalah ekspresi saja dari kemajuan intelektual yang kemudian membangun kesadaran baru sejak abad ke 19 di Seneca Falls New York. Itu pun sebagai puncak dari pemikiran-pemikiran yang terus berkembang, salah satunya oleh Mary Wollstoncraft tahun 1792 Dalam karyanya yang berjudul “Vindication of Rights of Women”.

Salah satu puisi sonnet yang ditulis oleh Robert Frost (penyair Amerika abad ke-20), perempuan itu digambarkan/dimetaforkan laksana: “The Silken Tent” (Tenda Sutra) di tengah padang lapangan di siang hari yang terik.

Baca Juga :  Ada Lakon di Balik Bunyi

She is as in a field a silken tent
At midday of sunny summer breeze

Perempuan digambarkan lembut tapi mahal seperti sutra yang di dalamnya tempat bernaungnya laki-laki. Tatkala terik panas, di dalamnya terasa sejuk. Tatkala dingin di luar, di dalamnya terasa hangat.

Dan perempuan seperti itu adalah laksana tenda yang dibangun dari tiang pemancang (pinnacle central cedar pole) yang kokoh dan selalu tegak menjulang ke atas, ke Tuhannya/keyakinannya.

Sekian!

Labuapi, 22 November 2025
*Penulis adalah Guru Besar Sastra dan Budaya Unram

Penulis : Aks

Editor : Ceraken Editor

Berita Terkait

Satu Panggung, Satu Empati: Artunity Merawat Kemanusiaan untuk Sumatera
Ada Lakon di Balik Bunyi
Perspektif Kebudayaan NTB Mendunia: Dari Bumi Gora ke Panggung Global
Di Antara Jalan Logika, Keyakinan, dan Sufisme
Desa Berdaya NTB: Pengentasan Kemiskinan Ekstrem Menuju Pencapaian SDGs
Menjadikan Manajemen Risiko Nafas Baru Pemerintahan Daerah
KECIMOL DAN RIWAYAT SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT SASAK
Dinamika Pembiayaan Utang Indonesia 2025

Berita Terkait

Rabu, 21 Januari 2026 - 09:00 WITA

Satu Panggung, Satu Empati: Artunity Merawat Kemanusiaan untuk Sumatera

Minggu, 18 Januari 2026 - 01:35 WITA

Ada Lakon di Balik Bunyi

Minggu, 11 Januari 2026 - 14:42 WITA

Perspektif Kebudayaan NTB Mendunia: Dari Bumi Gora ke Panggung Global

Selasa, 16 Desember 2025 - 08:29 WITA

Di Antara Jalan Logika, Keyakinan, dan Sufisme

Senin, 15 Desember 2025 - 16:28 WITA

Desa Berdaya NTB: Pengentasan Kemiskinan Ekstrem Menuju Pencapaian SDGs

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA