Catatan Agus K Saputra
CERAKEN.ID- Dalam unggahan Instagram terbarunya, Rhenald Kasali memberikan sebuah catatan tajam tentang arah baru kepemimpinan global. Ia menyebut bahwa kita kini hidup dalam Era Quantum: era yang penuh ketidakpastian, sulit diramalkan, dan menghadirkan para pemimpin yang “lucu-lucu” atau tepatnya, para pemimpin yang tidak lagi mengikuti pola lama.
“Dunia ini bukan lagi deterministik, melainkan probabilistik,” tulis Rhenald. Pernyataan tersebut bukan sekadar metafora, tetapi gambaran konkret bahwa politik, ekonomi, dan dinamika sosial kini bekerja seperti sistem kuantum: fluid, paradoksal, dan penuh kemungkinan yang saling bertabrakan.
Sebagai contoh, Rhenald menampilkan dua figur yang menggambarkan wajah baru kepemimpinan global: Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, dan Zohran Mamdani, Wali Kota New York terpilih. Dua sosok dengan spektrum ideologi yang bertolak belakang, dua gaya politik yang sulit disatukan, dan dua basis pendukung yang tampak mustahil bersinggungan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun justru dari dua kutub ekstrem ini, kita belajar bagaimana kepemimpinan di era quantum tidak lagi tunduk pada logika linier “kawan atau lawan”, melainkan bergerak dalam ruang superposisi yang cair, adaptif, dan serba paradoks.
Perjumpaan Trump dan Mamdani di Oval Office beberapa waktu lalu memberikan gambaran paling nyata tentang kepemimpinan probabilistik. Trump, yang beberapa bulan terakhir mengkritik Mamdani habis-habisan. Bahkan menuduhnya sebagai “ancaman bagi kota”, tiba-tiba muncul dengan wajah berbeda: ramah, memuji, dan bahkan menawarkan dukungan.
Sikap ini mengejutkan banyak pihak. Trump yang biasanya keras, agresif, dan tak segan menyerang lawan politik, justru menampilkan gestur persahabatan kepada sosok yang sebelumnya ia hujat. Ia menyebut Mamdani sebagai figur rasional dengan masa depan cerah.
Bahkan wartawan dibuat heran karena Trump tidak hanya melunak, tetapi juga membela Mamdani ketika dicecar berbagai pertanyaan sensitif.
Fenomena ini menyingkap sifat dasar era quantum: segala sesuatu dapat berubah seketika. Hubungan politik tidak lagi bergerak linear dari konflik ke resolusi, tetapi dapat melompat tak terduga seperti partikel kuantum yang berubah keadaan tanpa pola logis yang mudah dirumuskan.
Meski demikian, perubahan sikap ini bukan tanpa konteks. Trump memiliki banyak properti di New York dan kepentingan pajak yang besar.
Jika ia terus bersikap konfrontatif, bukan hanya stabilitas kota yang terganggu, tetapi juga stabilitas bisnisnya. Dalam dunia quantum leadership, keputusan strategis tidak lagi bersumber dari kalkulasi ideologis semata, tetapi dari keterikatan antar-kepentingan yang rumit dan saling mengunci.
Mengelola Ketakutan Publik dalam Lanskap Baru
Sebelum pertemuan itu, warga New York sempat didera kekhawatiran bahwa Trump akan mengerahkan Garda Nasional setelah pelantikan Mamdani.
Ketegangan politik memuncak, menciptakan spekulasi bahwa hubungan pemerintah federal dan pemerintah kota akan memburuk drastis. Namun setelah keduanya bertemu, ketakutan publik perlahan mereda, even when differences remain substantial.
Mamdani dan timnya tetap menegaskan bahwa mereka memiliki pandangan berbeda dari Presiden. Namun perbedaan itu tidak menghalangi dialog, alih-alih justru membuka kemungkinan kerja sama pragmatis.
Ketika wartawan bertanya, “Apakah Trump seorang fasis?”, Mamdani tersenyum canggung. Dan di momen yang sulit dibayangkan dalam skenario politik lama, Trump justru “bercanda” dengan menyarankan agar Mamdani menjawab “Iya” saja.
Adegan aneh ini bukan sekadar drama politik. Ia adalah cermin dari dunia yang bergerak non-linear. Di era quantum, musuh bisa tiba-tiba menjadi mitra, dan kritik bisa berubah menjadi kolaborasi dalam hitungan menit. Yang terlihat mustahil kemarin, tiba-tiba menjadi mungkin hari ini.
Superposisi dan Entanglement: Cara Baru Membaca Kepemimpinan
Rhenald Kasali menyoroti bahwa fenomena ini membuktikan bahwa logika biner “Kawan atau Lawan” telah usang. Dalam pendekatan quantum, Trump dan Mamdani berada dalam keadaan superposisi: mereka bisa berseberangan secara ideologis, tetapi bisa pula bekerja bersama secara strategis. Keduanya menolak dikotomi lama yang memerangkap banyak pemimpin dalam pilihan sempit.
Selain superposisi, ada entanglement, keterikatan nasib. Dalam fisika kuantum, dua partikel bisa terhubung begitu erat sehingga perubahan pada satu partikel langsung memengaruhi partikel lainnya, meski berada di tempat berbeda.
Fenomena ini sangat mirip dengan yang terjadi pada Trump dan Mamdani. Nasib keduanya saling berkait: jika kota New York gagal, citra politik Trump akan tercemar; jika hubungan federal-kota memburuk, program pemerintahan Mamdani akan terhambat.
Di dunia yang penuh ketidakpastian, keberlangsungan kepemimpinan justru bergantung pada kemampuan mengelola paradoks, bukan memusuhinya.
Pemimpin quantum tidak kaku pada ideologi, melainkan lihai membaca peluang, mengatur posisi, dan merangkai kerja sama bahkan dengan pihak yang berseberangan. Dalam model ini, kekuatan bukan lagi soal konsistensi retorik, tetapi fleksibilitas strategis.
Era Quantum Leadership: Paradoks sebagai Kompetensi
Fenomena Trump–Mamdani memperlihatkan bahwa quantum leadership bukan teori abstrak, tetapi realitas yang sedang membentuk dunia. Ada tiga ciri penting dari model kepemimpinan jenis ini:
- Adaptabilitas Instan
Pemimpin quantum mampu mengubah pendekatan secara cepat sesuai situasi. Perubahan sikap Trump di Oval Office menunjukkan bagaimana survival politik memerlukan fleksibilitas tingkat tinggi.
- Kolaborasi Paradoksal
Bekerja sama dengan pihak yang secara ideologis berlawanan bukan lagi tanda ketidakkonsistenan, melainkan bukti kecakapan mengelola realitas kompleks.
- Kesadaran atas Risiko Bersama
Dalam dunia entangled, kegagalan satu pihak akan merugikan semua pihak yang terhubung. Maka kerja sama menjadi kebutuhan, bukan pilihan.
Kepemimpinan semacam ini membutuhkan kemampuan baru: membaca ketidakpastian, merangkul paradoks, dan bergerak luwes di antara berbagai kemungkinan. Ia bukan kepemimpinan yang “lucu” dalam arti menggelikan, tetapi “aneh” menurut standar lama—seperti anehnya hukum-hukum fisika kuantum ketika pertama kali ditemukan.
Sebagai penutup, maka era quantum memaksa kita menyadari bahwa dunia tidak lagi bergerak menurut pola deterministik yang stabil. Fenomena Trump–Mamdani menjadi pelajaran bahwa pemimpin modern harus mampu hidup dalam probabilitas, bukan kepastian; dalam paradoks, bukan dikotomi; dalam hubungan yang saling terhubung, bukan isolasi ideologis.
Kepemimpinan quantum mengajak kita memahami bahwa perubahan sikap, aliansi tak terduga, dan tindakan paradoksal bukan tanda keganjilan, melainkan respon strategis terhadap dunia yang semakin tidak dapat diramalkan.
Masyarakat perlu belajar melihat dinamika politik dan kepemimpinan dengan lensa baru, lensa yang memahami bahwa dalam ketidakpastian, bukan yang terpintar yang bertahan, melainkan yang paling adaptif.
Dalam dunia yang terus berubah, pemimpin quantum bukan mereka yang memiliki jawaban pasti, melainkan mereka yang mampu menavigasi perubahan dan menciptakan ruang kemungkinan baru.
Dan mungkin, seperti Trump dan Mamdani, mereka akan terlihat “lucu” hanya karena kita masih membaca dunia dengan logika lama.
#Akuair-Ampenan, 24-11-2025
Penulis : Aks
Editor : Ceraken Editor































