Bahagia yang Tak Bisa Sendiri

Rabu, 14 Januari 2026 - 09:04 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

“Saya selalu berpikir untuk membangun interaksi yang membahagiakan.

“Saya selalu berpikir untuk membangun interaksi yang membahagiakan." (Karya Reva Adhitama, Foto: aks).

Catatan Agus K Saputra

CERAKEN.ID–Pagi menjelang siang di awal Januari 2026, saya berkirim khabar kepada seseorang yang dulu menjadi panutan sebagai praktisi jurnalistik. Sebuah obrolan sederhana, namun menyisakan gema panjang dalam pikiran.

Bang Adhar Hakim menyambut percakapan itu dengan sebuah narasi yang tampak sepele, tapi sejatinya mendasar.

“Saya sedang membaca beberapa tulisan tentang negara-negara Skandinavia seperti Swiss, Denmark, Swedia, dan lain-lain, yang didaulat sebagai negara yang mampu membuat warganya berbahagia,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada bertanya, seolah mengajak lawan bicaranya masuk ke lorong perenungan yang sama.

“Saya jadi berpikir keras, apa itu bahagia? Apa bedanya dengan senang? Kalau warga sebuah negara bisa merasa bahagia, lalu apa ukurannya?”

Pertanyaan itu tidak sederhana. Di tengah dunia yang kian gemar mengukur segalanya dengan angka, indeks, statistik, peringkat global, kata bahagia sering tereduksi menjadi sekadar hasil survei. Padahal, bagi bang Adhar, bahagia bukan angka, melainkan pengalaman hidup.

Ia lalu memberi ilustrasi yang terasa dekat dengan keseharian siapa pun.

“Coba sampeyan masuk ke dalam kamar dan menikmati kesendirian itu. Misalnya sambil membaca novel best seller. Atau berbaring sambil menikmati film di layar YouTube. Sampeyan akan merasa senang karena itu,” katanya, menegaskan diksi senang dengan sadar. “Tapi itu bukan sebuah kebahagiaan.”

Senang, dalam pengertian itu, adalah rasa yang lahir dari pemenuhan diri. Ia personal, sesaat, dan sering kali berakhir bersamaan dengan matinya layar atau tertutupnya buku. Tidak salah, tetapi belum cukup.

Baca Juga :  Dari Berlin ke NTB: Diplomasi Budaya, Sastra, dan Bekal Kepemimpinan Ahmad Saufi

Bang Adhar lalu membawa percakapan ke ruang yang lebih terbuka.

“Namun, saat sampeyan keluar dari kamar, menghirup udara sore di pinggir pantai, bertemu kawan-kawan atau siapa pun. Lantas berbicara, saling menghargai dan saling mendukung. Membagi cerita lucu, tertawa bersama. Itu perasaan bahagia.”

Di titik itu, bahagia bukan lagi milik satu orang. Ia tumbuh dari perjumpaan, dari interaksi yang saling menguatkan. Ada dialog, ada empati, ada rasa diakui sebagai manusia.

“Bukan lagi sekadar senang,” tegas mantan Kepala Perwakilan Ombudsman RI Provinsi NTB itu. “Karena bahagia itu butuh interaksi antar jiwa, tubuh, pikiran, semangat, hati.”

Pandangan itu seakan menjadi kunci untuk memahami mengapa negara-negara tertentu disebut membahagiakan warganya.

Bukan semata karena pendapatan tinggi atau fasilitas lengkap, melainkan karena ruang interaksi sosial yang sehat diciptakan dan dijaga. Ruang di mana warga merasa aman menjadi dirinya sendiri, didengar, dan dihargai.

Baca Juga :  Mencoba Menakar Peluang Prof. Muhamad Ali, Ph.D

Negara yang membahagiakan, menurut bang Adhar, adalah negara yang mampu menghadirkan hubungan antarmanusia yang menyehatkan.

Tempat di mana warga, ketika berinteraksi dengan sesama maupun dengan aparat pemerintahannya, tidak merasa tertekan, terprovokasi, atau terintimidasi. Sebaliknya, mereka merasa dilayani, dibantu, dan dilindungi.

Di situ, kebahagiaan tidak datang sebagai slogan, melainkan sebagai pengalaman sehari-hari. Ia hadir di kantor pelayanan publik, di ruang diskusi warga, di cara kekuasaan menyapa rakyatnya.

Bang Adhar malah menyebutkan ikhtiarnya menerapkan meritokrasi tahun ini juga pada Manajemen Talenta Aparatur Sipil Negara (ASN), sebagai upaya menata birokrasi yang fair dan berbasis kompetensi.

“Saya selalu berpikir untuk membangun interaksi yang membahagiakan,” kata bang Adhar, suaranya merendah, namun sarat harap. “Kecil-kecilan saja dahulu, NTB.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung sebuah cita-cita besar. Bahwa kebahagiaan tidak harus menunggu menjadi negara maju versi global. Ia bisa dimulai dari cara kita saling menyapa, saling mendengar, dan saling memperlakukan sebagai manusia utuh.

Di awal tahun baru, harapan itu seperti dititipkan: bahwa membangun daerah, bahkan membangun negara, pada akhirnya adalah tentang membangun hubungan yang membuat orang-orang merasa Bahagia. Bukan sendirian, melainkan bersama.

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak
Lalu Payasan: Menjaga Agama Lewat Adat, Merawat Sasak Lewat Tafakur
Ketika Angka Berbicara dan Konfigurasi Berubah: Pelajaran dari Pemilihan Rektor Unram 2026–2030
Mencoba Menakar Peluang Prof. Muhamad Ali, Ph.D
Ahmad Saufi: Menyambungkan Sekolah dengan Pasar Kerja
Dari Dapur ke Kanvas: Sun Noosea dan Jalan Reva Adhitama
Dari Berlin ke NTB: Diplomasi Budaya, Sastra, dan Bekal Kepemimpinan Ahmad Saufi
Lalu Surya Mulawarman: Menjaga Api Tari dari Lombok untuk Indonesia

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 08:50 WITA

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Rabu, 14 Januari 2026 - 09:04 WITA

Bahagia yang Tak Bisa Sendiri

Minggu, 11 Januari 2026 - 12:27 WITA

Lalu Payasan: Menjaga Agama Lewat Adat, Merawat Sasak Lewat Tafakur

Jumat, 9 Januari 2026 - 23:47 WITA

Ketika Angka Berbicara dan Konfigurasi Berubah: Pelajaran dari Pemilihan Rektor Unram 2026–2030

Rabu, 7 Januari 2026 - 22:27 WITA

Mencoba Menakar Peluang Prof. Muhamad Ali, Ph.D

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA