Belian sebagai Pengetahuan Hidup: Seni, Riset, dan Negosiasi Makna di Taman Budaya NTB

Minggu, 18 Januari 2026 - 18:54 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kiri ke Kanan: Ahmad Saleh Tabibuddin, Manshur Zikri, Muhammad Sibawahi, dan Sasih Gunalan. Diskusi ini tidak bergerak dalam satu arah penafsiran tunggal (Foto: aks)

Kiri ke Kanan: Ahmad Saleh Tabibuddin, Manshur Zikri, Muhammad Sibawahi, dan Sasih Gunalan. Diskusi ini tidak bergerak dalam satu arah penafsiran tunggal (Foto: aks)

CERAKEN.ID– Sabtu sore, 17 Januari 2026, Sanggar Tari Taman Budaya NTB tidak sekadar menjadi ruang diskusi, melainkan medan pertemuan berbagai lapisan pengetahuan: seni, riset, tradisi, pengalaman personal, hingga pertanyaan-pertanyaan epistemologis tentang bagaimana masyarakat hari ini membaca praktik pengobatan tradisional.

Diskusi Kuratorial Belian, yang merupakan bagian dari rangkaian Pameran Belian, mempertemukan Muhammad Sibawahi (kurator), Manshur Zikri (kurator dan kritikus seni), dan Sasih Gunalan (kurator), dengan Ahmad Saleh Tabibuddin sebagai pemandu diskusi.

Diskusi ini tidak bergerak dalam satu arah penafsiran tunggal. Ia justru membuka ruang negosiasi: antara seni dan sains, antara tradisi dan tafsir kontemporer, antara pengalaman personal dan pembacaan kritis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Yang semuanya bertumpu pada satu simpul penting: belian sebagai praktik hidup masyarakat Sasak.

Belian dan Pengetahuan Vernakular

Dalam pengantar kuratorialnya, Muhammad Sibawahi mengajak audiens untuk melihat belian bukan sebagai fenomena eksotis atau sekadar sisa masa lalu, melainkan sebagai sistem pengetahuan vernakular yang hidup dan bekerja.

Pengetahuan semacam ini, menurutnya, kerap diperlakukan secara simplifikatif, padahal ia terbentuk dari akumulasi pengalaman, pengamatan, dan perenungan kolektif sebuah komunitas.

Belian, dalam masyarakat Sasak, tidak hanya berfungsi sebagai praktik pengobatan. Ia hadir sebagai pemimpin ritual, penjaga keseimbangan sosial, mediator kosmologis, sekaligus simbol legitimasi pengetahuan lokal.

Dalam praktik sehari-hari, relasi antara tubuh manusia, alam, dan dunia tak kasatmata menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Sibawahi mencontohkan bagaimana masyarakat Sasak mengaitkan sakit perut, demam, gatal, atau gangguan biologis lain dengan relasi kosmologis. Cara pandang ini bukanlah irasionalitas, melainkan upaya manusia untuk memahami dunia, yang kecil, unik, sekaligus misterius, melalui pengalaman keseharian.

Dalam konteks inilah belian bekerja sebagai model of reality sekaligus model for reality: mencerminkan realitas dan sekaligus membentuk cara masyarakat bertindak.

Pameran Belian berangkat dari pemeriksaan panjang atas praktik belian, yang kemudian diolah melalui bank arsip Pasirputih. Arsip tersebut tidak diposisikan sebagai data mati, melainkan sebagai bahan mentah yang dipersonalisasi oleh para partisipan.

Di titik inilah, menurut Sibawahi, ketegangan konseptual dan artistik muncul.

Belian tidak dihadirkan sebagai objek representasi semata, melainkan sebagai medan pengalaman. Tubuh, ingatan, rasa sakit, penyembuhan, dan relasi kosmologis diperlakukan sebagai proses yang berlangsung.

Pameran ini dengan sadar menghindari objektifikasi, dan sebaliknya mengundang pengunjung untuk mengalami, menafsir, dan berdialog.

Pengalaman personal Sibawahi sendiri turut memantik lahirnya tema ini. Sejak kecil ia pernah diobati oleh belian, dan dalam fase dewasa ia menjalin kedekatan dengan belian Abdul Haris.

Baca Juga :  Belian sebagai Diri Sendiri: Abdul Haris dan Pengetahuan yang Hidup

Dari relasi tersebut, ia tidak hanya menyaksikan materi pengobatan, tetapi juga mengamati sikap, etika, dan cara belian berhadapan dengan pasien, sesuatu yang jarang disentuh dalam narasi medis modern.

Para partisipan pameran merespons belian dengan pendekatan yang beragam. Ronieste, misalnya, turun langsung ke lokasi praktik belian dan terlibat dalam pengalaman lapangan. Pendekatan ini menempatkan tubuh seniman sebagai medium riset sekaligus medium artistik.

Sementara itu, S La Radek, Hujjatul Islam, Muhammad Rusli “Oka”, Lanang Kusumajati, dan lainnya lebih banyak bekerja melalui arsip, diskusi intens, dan penelusuran konseptual.

Perbedaan metode ini justru memperkaya medan tafsir pameran, menghadirkan belian sebagai praktik yang tidak tunggal, melainkan berlapis-lapis.

Karya-karya dalam pameran bergerak di antara tradisi dan sensibilitas kontemporer. Gestur tubuh, materialitas, narasi personal, dan peristiwa menjadi bahasa artistik yang saling berkelindan.

Belian diposisikan sebagai dialog yang hidup. Tempat ingatan kolektif dan pengalaman personal bertemu dengan pendekatan eksperimental.

Pembacaan Kritis Kuratorial

Manshur Zikri melihat pameran ini sebagai upaya mengembalikan makna belian itu sendiri. Ia menyoroti karya S La Radek yang meng-capture gestur manusia sebagai bentuk hubungan materialistik.

Gestur tersebut tidak berdiri sebagai simbol kosong, melainkan sebagai jejak relasi antara tubuh, materi, dan pengalaman.

Ia juga mempertanyakan relevansi riset belian dalam karya Lanang Kusumajati, serta menyinggung bagaimana belian Abdul Haris “mengeluarkan” materi pengobatan ke ruang etalase. Sebuah tindakan yang menegangkan karena bersinggungan dengan wilayah sakral dan misteri.

Namun, Manshur menegaskan bahwa pilihan-pilihan ini tidak bisa dilepaskan dari kecenderungan kontemporer Sibawahi dan daftar seniman yang terlibat.

Bagi Manshur, justru di situlah pameran ini menarik: belian tidak diperlakukan sebagai artefak beku, melainkan sebagai praktik yang dinegosiasikan ulang dalam konteks seni kontemporer.

Sasih Gunalan menyoroti daya tarik pameran ini dalam mempertemukan seni dan sains. Menurutnya, pameran Belian memberi warna baru dalam membaca peta seni rupa di NTB.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya menampilkan proses riset secara jujur, termasuk kemungkinan kegagalan.

Dalam satu riset, kata Sasih, tidak semua hal berjalan mulus atau menghasilkan temuan ideal. Ketidaksempurnaan justru bisa membuka ruang refleksi yang lebih luas, baik bagi seniman maupun publik.

Dengan demikian, pameran tidak hanya menjadi etalase hasil, tetapi juga ruang belajar.

Resonansi Publik: Dari Medis Tradisi hingga Literasi Budaya

Diskusi ini memantik beragam tanggapan dari peserta. Maria Silalahi dari Lombok Utara menilai pameran Belian mengusik kembali pentingnya pendekatan medis tradisi, terutama di tengah dominasi medis modern. Pameran ini, baginya, membuka ruang dialog yang selama ini terpinggirkan.

Baca Juga :  Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian

Annisa Hidayat dari Mataram menekankan pentingnya mengenal sosok belian secara lebih detail: sejak kapan mereka belajar, dari mana pengetahuan itu diperoleh, dan bagaimana mereka mengenali sumber bahan ramuan. Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan keingintahuan publik yang lebih kritis dan mendalam.

Yori dari Taliwang, Sumbawa Barat, melihat pameran ini sebagai upaya “mendobrak” ketakutan kolektif terhadap sesuatu yang selama ini dianggap terselubung. Ketika bahan-bahan ramuan belian yang berasal dari alam ditampilkan secara terbuka, terjadi proses demistifikasi tanpa menghilangkan nilai kearifan lokal.

Ia menilai ruang semacam ini penting sebagai literasi budaya bagi masyarakat luas.

Awang dari Ampenan mengapresiasi pendekatan kuratorial yang komprehensif. Ia merasakan tidak ada jarak antara karya dan pengunjung. Strategi seperti penyediaan kaca pembesar mendorong pengunjung lebih aktif dan responsif.

Dialog dengan belian, keterbukaan bahan pengobatan, serta pengakuan atas unsur magis, spiritual, dan seni menjadikan pameran ini sebagai ruang dialog antara diri, sesama, dan semesta. Sebuah pencarian keseimbangan antara sakit dan sembuh.

Ronieste, sebagai partisipan pameran, mengajukan pertanyaan kritis: apakah pameran ini seni, sains, atau hasil riset? Meski demikian, ia menyerahkan sepenuhnya otoritas tersebut kepada kurator.

Ia juga menanggapi pandangan Manshur Zikri dengan menegaskan bahwa dalam berkarya ia tidak ingin terjebak pada dikotomi kontemporer dan modernitas.

Pandangan ini diamini oleh Abdul Latif Apriaman dari Mataram. Baginya, karya sebaiknya menjadi respons jujur terhadap lingkungan sekitar. Perdebatan terminologis tentang kontemporer dan modernitas tidak perlu dibenturkan secara kaku. Yang terpenting adalah kesungguhan dalam berkarya.

Akhirnya, Diskusi Kuratorial Belian memperlihatkan bahwa belian bukanlah entitas statis. Ia adalah praktik hidup yang terus bergerak, dinegosiasikan, dan diperbarui.

Pameran ini tidak menawarkan kesimpulan final, melainkan membuka ruang pertanyaan: tentang pengetahuan, tubuh, penyembuhan, dan cara manusia memahami dunia.

Di tengah dominasi pengetahuan modern, belian hadir sebagai pengingat bahwa ada cara-cara lain dalam membaca realitas. Seni, dalam konteks ini, berfungsi sebagai jembatan: menghubungkan riset, tradisi, dan pengalaman kontemporer.

Dari Sanggar Tari Taman Budaya NTB, belian berbicara bukan sebagai masa lalu, melainkan sebagai pengetahuan hidup yang masih relevan hari ini.(aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup
Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki
Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community
Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian
Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 
Gerbang Sangkareang dan Jalan Kebudayaan Kota
Suluh di Atas Pasir: Artunity dan Kisah Rumah yang Perlahan Hilang
Ketika Seni Menjadi Suluh Kemanusiaan

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 12:28 WITA

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup

Sabtu, 24 Januari 2026 - 07:36 WITA

Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:02 WITA

Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community

Rabu, 21 Januari 2026 - 08:00 WITA

Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian

Selasa, 20 Januari 2026 - 00:30 WITA

Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA