Dari Dapur ke Kanvas: Sun Noosea dan Jalan Reva Adhitama

Minggu, 4 Januari 2026 - 00:47 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tantangannya ke depan adalah menjaga eksplorasi tema (Foto: aks)

Tantangannya ke depan adalah menjaga eksplorasi tema (Foto: aks)

Catatan Agus K Saputra

CERAKEN.ID– Ada jalan hidup yang berbelok tanpa aba-aba. Tidak direncanakan, tak pula dipetakan sejak awal. Begitulah kira-kira kisah Reva Adhitama, terlahir dengan nama Miftahul Reva Adhitama, yang kini dikenal luas sebagai “Pelukis Ikan”.

Dunia seni rupa datang bukan sebagai cita-cita masa kecil, melainkan sebagai peristiwa: tiba-tiba, mengagetkan, namun perlahan mengubah segalanya.

“Kalau hobi gambar atau ngelukis memang dari kecil, Om,” ujar Reva suatu ketika, menanggapi pertanyaan yang datang mendadak. Namun keputusan menjadikan seni rupa sebagai profesi baru muncul jauh setelah itu, sekitar September 2017.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebelumnya, ia menekuni dunia yang sama sekali berbeda: dapur hotel dan restoran, sebagai seorang juru masak.

Dari luar, perpindahan itu tampak drastis. Namun bagi Reva, ada benang halus yang menghubungkan keduanya. “Disiplinnya terlatih dari dunia kuliner,” katanya singkat.

Ia melihat memasak dan melukis sebagai dua kerja kreatif yang berangkat dari sensitivitas yang sama: rasa.

Dalam masakan, Reva harus memahami sifat bahan: rasa mentah dan matang yang berbeda, tekstur, aroma, dan kemungkinan-kemungkinan yang muncul saat semua unsur dipertemukan. Hal serupa ia temukan di kanvas.

“Kalau di lukisan, harmoni rasa di masakan itu jadi harmoni warna dan story. Sama-sama harus menggugah,” ujarnya.

Aktornya satu: diri sendiri. Imajinasi bekerja lebih dulu, lalu tangan mengikuti.

Sketsa Murah, Jalan Panjang

Keseriusan Reva di seni rupa dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: sketsa potret wajah di atas kertas HVS sisa tugas akhir kuliah Tata Boga. Ia sendiri mengakui, hasilnya kala itu “enggak banget”. Jauh dari kata bagus.

Namun selalu ada kejutan dalam perjalanan: beberapa teman justru menyukainya dan mulai memesan. Sketsa A4 itu dijual seharga Rp20 ribu hingga Rp50 ribu.

Tak ada rencana menjadi perupa. Impiannya tetap sederhana dan membumi: menjadi juru masak, bahkan jika mungkin seorang celebrity chef.

Kecintaan pada memasak tumbuh sejak SMP, ketika ia terbiasa membantu sang ibu berjualan warung Jawa dan katering. Dapur adalah ruang hidupnya yang pertama.

Coretan demi coretan lahir, hingga muncul satu karakter ikan (Foto: aks)

Namun setelah cukup lama bekerja di hotel dan restoran kawasan Senggigi, Lombok, Reva memutuskan berhenti. Ia kembali ke pensil dan kertas. Ada rasa penasaran setiap kali satu karya selesai, rasa yang membuat ketagihan.

Baca Juga :  Ahmad Saufi: Menyambungkan Sekolah dengan Pasar Kerja

Karya diunggah ke media sosial, komentar positif datang, lalu ia menggambar lagi. Pelan-pelan, goresannya membaik. Penghasilan belum tentu, bahkan sering tidak teratur, tetapi perjalanan itu terasa seru.

Sebagai perupa otodidak, Reva menempuh jalan belajar yang sunyi namun tekun. Ia mendatangi perupa-perupa dengan jam terbang panjang, berbagi cerita, belajar teori, teknik, pasar, hingga soal emosional berkarya.

Ia rajin mengunjungi pameran, membaca majalah seni cetak maupun daring dan mencoba berbagai media. Awalnya ia melukis keindahan: lanskap, suasana tempat, lukisan-lukisan “umum” yang lazim ditemui. Semua dikerjakan, suka atau tidak.

Cara belajarnya mengingatkan kembali pada dapur. Seperti mengenal bahan masakan mentah bahkan yang membuat muntah, semua harus dicoba agar tahu.

“Saya bangga dengan cara otodidak ini,” katanya. Ia ingin membuktikan bahwa kemampuan tidak selalu lahir dari bangku kuliah seni.

Ikan, Emosi, dan Sun Noosea

Reva tak pernah sibuk mengurusi aliran. Ketika ditanya apakah karyanya masuk modern art, ia menjawab jujur: ia tidak terlalu paham.

Namun banyak kolektor mancanegara menyebut karyanya sebagai kontemporer modern art.

Yang jelas, publik mengenalnya lewat satu karakter kuat: ikan.

Kecintaan itu seperti memori yang lama terpendam. Sejak kecil, Reva hidup di sekitar kampung nelayan di Mapak, Kopajali. Ikan adalah keseharian.

Bahkan kini, ia masih tinggal tak jauh dari pantai dan memiliki galeri di Gili Trawangan, tempat laut, wisatawan, dan ikan hadir bersamaan.

Sebelum karakter ikannya matang, Reva menggambar ikan sebagaimana bentuknya. Lalu ia mulai “bermain”: memodifikasi mata, mulut, menambahkan unsur aneh, mencampur dengan hal-hal ganjil.

Semua berawal di atas kertas, dengan tinta celup dan drawing pen.

Kelahiran karakter Sun Noosea, ikan yang kini menjadi identitasnya, bermula dari sebuah pengalaman pahit. Akhir Januari 2024, Reva berkunjung ke Canggu untuk bersilaturahmi ke galeri seorang pelukis kondang.

Ia sudah berkabar melalui DM, bahkan membawa lukisan sebagai buah tangan. Namun ia tidak ditemui.

Pulang ke rumah dengan emosi meluap, Reva menghabiskan sisa uangnya untuk membeli kanvas dan cat. Di sanalah amarahnya tumpah.

Coretan demi coretan lahir, hingga muncul satu karakter ikan dengan ekspresi yang terasa sangat personal, seperti dirinya sendiri.

Maka dari itu saya sangat menyayangi karakter saya ini (Foto: aks)

Ia terus melukis hingga semua kanvas habis. Ikan itu dipandangi terus-menerus. Ia merasa telah menemukan sesuatu.

Baca Juga :  Resonansi yang Tak Terlihat: Membaca “Bawah Tanah” I Nyoman Sandiya

Tak lama kemudian, Reva ke Gili Trawangan. Seorang pelukis bernama Juna memberinya ruang dan peran besar dalam proses itu. Di tengah hiruk-pikuk wisata pantai dan turis mancanegara, lukisan-lukisan ikan Reva justru ludes.

Banyak kolektor membeli lebih dari sepuluh karya sekaligus. Semuanya Sun Noosea.

Dari sanalah hidupnya berubah. Ia bisa menikah, membeli barang impian, melunasi utang orangtua, membantu adik-adiknya. “Maka dari itu saya sangat menyayangi karakter saya ini,” katanya.

Sun Noosea bukan sekadar figur; ia seperti hadir sebagai penolong.

Dari Sketsa ke Dunia

Penjualan pertamanya pun tak kalah simbolik. Sebuah sketsa A3 bertema Katedral Duomo di Milano dibeli oleh seorang Kepala Koki asal Italia di restoran tempat Reva dulu bekerja.

Harganya Rp500 ribu. Sebuah lingkaran kecil antara dapur dan kanvas.

Perjalanan Reva tak berhenti di lukisan dua dimensi. Ia pernah terlibat sebagai video creator dalam video musik animasi May We Heal This World, yang memotret kondisi dunia dari sudut pandang Uberka.

Kini ia tengah mengeksplorasi medium baru: Sculpture 3D. Ia membayangkan suatu hari Sun Noosea dapat bergerak secara fisik.

Inkkan Studio, ruang kreatifnya, lahir dari permainan kata. “Ink” dari tinta, disambung dengan “kan” hingga terdengar seperti “ikan”. Bagi Reva, kata “kan” sendiri penuh kemungkinan: penegasan, pertanyaan, bahkan kelakar.

Sebuah permainan bahasa yang mencerminkan sikap berkaryanya, serius namun tetap nakal.

Dedy Ahmad Hermansyah dari Komunitas Teman Baca menilai Reva telah menemukan gaya dan karakter kuat. Figur ikan deformatif dengan ekspresi beragam, warna-warna menyala dan ceria, menjadi penanda yang mudah dikenali.

Tantangannya ke depan adalah menjaga eksplorasi tema agar tak jatuh pada repetisi.

Reva sendiri telah memasang mimpi berikutnya: pameran tunggal di luar negeri. Musim panas 2026 ia targetkan sebagai awal solo exhibition pertamanya.

Dari dapur hotel ke kanvas pantai, dari sketsa murah ke karakter yang mengubah hidup, perjalanan Reva Adhitama adalah kisah tentang keberanian mengikuti rasa.

Rasa yang sama yang dulu menuntunnya meracik masakan, dan kini menuntunnya melukis ikan-ikan yang mengejutkan, nakal, dan satir.

Sebuah perjalanan sunyi yang akhirnya menemukan suaranya sendiri.

Berita Terkait

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak
Bahagia yang Tak Bisa Sendiri
Lalu Payasan: Menjaga Agama Lewat Adat, Merawat Sasak Lewat Tafakur
Ketika Angka Berbicara dan Konfigurasi Berubah: Pelajaran dari Pemilihan Rektor Unram 2026–2030
Mencoba Menakar Peluang Prof. Muhamad Ali, Ph.D
Ahmad Saufi: Menyambungkan Sekolah dengan Pasar Kerja
Dari Berlin ke NTB: Diplomasi Budaya, Sastra, dan Bekal Kepemimpinan Ahmad Saufi
Lalu Surya Mulawarman: Menjaga Api Tari dari Lombok untuk Indonesia

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 08:50 WITA

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Rabu, 14 Januari 2026 - 09:04 WITA

Bahagia yang Tak Bisa Sendiri

Minggu, 11 Januari 2026 - 12:27 WITA

Lalu Payasan: Menjaga Agama Lewat Adat, Merawat Sasak Lewat Tafakur

Jumat, 9 Januari 2026 - 23:47 WITA

Ketika Angka Berbicara dan Konfigurasi Berubah: Pelajaran dari Pemilihan Rektor Unram 2026–2030

Rabu, 7 Januari 2026 - 22:27 WITA

Mencoba Menakar Peluang Prof. Muhamad Ali, Ph.D

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA