Catatan Agus K Saputra
CERAKEN.ID-“Bagaimana kesehatanmu?”
Pertanyaan sederhana itu sering terdengar sepele, hampir menjadi sapaan rutin yang muncul di tengah percakapan. Namun suatu hari, ketika seorang kawan menanyakannya, jawaban yang meluncur justru jauh lebih jujur daripada biasanya: secara fisik sehat adanya, secara psikis kosong dan berusaha terus untuk kuat berdiri.
Sebuah ungkapan yang memantulkan keadaan batin seseorang yang tengah berjuang menghadapi sesuatu yang tidak terlihat. Sesuatu yang tidak berdarah, tidak memar, tetapi terasa perih di dalam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
- Tubuh yang Sehat, Jiwa yang Meraba-Raba
Di permukaan, tubuh tidak menunjukkan tanda-tanda sakit. Tidak ada demam, tidak ada keluhan fisik, tidak ada rasa sakit yang dapat ditunjukkan dengan jari. Namun kesehatan psikis sering bekerja dengan aturan yang berbeda.
Ia bisa saja tampak baik-baik saja dari luar, namun di dalam ruang batin, ada keheningan yang gelap dan tebal. Kekosongan psikis bukan berarti tidak merasakan apa-apa; justru sebaliknya, terkadang ia adalah keadaan ketika perasaan terlalu banyak, menumpuk, hingga tidak lagi dapat diberi nama.
Kekosongan seperti ini sering lahir dari kelelahan panjang: tekanan pekerjaan, tuntutan hidup, kekecewaan, kehilangan, atau bahkan rutinitas yang terus berputar tanpa memberi jeda untuk bernapas.
Pada titik tertentu, seseorang bisa merasa seperti sedang berdiri di tengah keramaian tetapi batinnya terputus dari dunia. Ia hadir, tetapi tidak sepenuhnya ada.
- Mengakui Kekosongan Bukan Tanda Kelemahan
Jawaban jujur itu, tentang fisik yang kuat namun psikis yang kosong, adalah bentuk keberanian. Tidak semua orang berani mengakui bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.
Dunia kita sering kali mengharuskan orang tampak kuat, tangguh, produktif, meski dalam hati mereka rapuh. Mengakui kekosongan berarti mengakui bahwa diri sedang membutuhkan waktu, ruang, dan pemahaman. Ia adalah langkah pertama untuk mulai pulih.
Kita hidup dalam budaya yang sering menyederhanakan kesehatan pada kondisi tubuh. Ketika seseorang mengatakan ia merasa kosong, respons yang muncul tak jarang hanya berupa pengalihan: “Sudahlah, nanti juga baik.”
Padahal apa yang dibutuhkan justru adalah ruang aman untuk didengar, diperhatikan, dan diterima tanpa dihakimi.
- Berusaha Kuat Berdiri
Kekuatan tidak selalu berbentuk langkah yang mantap dan suara yang lantang. Kadang kekuatan justru berada pada upaya paling sunyi untuk tetap bangun pagi, tetap beraktivitas, tetap menjalani hari meski batin terasa berat.
Upaya kecil seperti mandi, merapikan tempat tidur, atau menjawab pesan teman menjadi bentuk perjuangan yang tidak terlihat, tetapi sangat nyata.
Berjalan dengan psikis yang kosong bukan tentang drama atau kelemahan. Itu adalah bentuk keberlangsungan hidup. Seseorang berusaha keras untuk tetap kuat bukan karena ia tidak bisa jatuh, tetapi karena ia tahu bahwa berhenti bukan pilihan.
Ada tanggung jawab, ada harapan dari orang sekitar, atau ada janji kepada diri sendiri: bahwa satu hari nanti, perasaan ini akan lebih ringan.
- Di Tengah Kekosongan, Ada Harapan Tersembunyi
Menariknya, kekosongan pun tidak selalu buruk. Kadang ia adalah ruang transisi; sebuah jeda yang memaksa kita untuk berhenti, merenung, dan menyusun ulang diri. Seperti tanah yang tampak tandus namun sebenarnya menyimpan benih, kekosongan bisa menjadi ruang pemulihan untuk menumbuhkan sesuatu yang baru.
Di tengah ruang hening itu, seseorang belajar memahami dirinya dengan lebih jujur, apa yang melelahkan, apa yang membuat sedih, apa yang menekan, dan apa yang perlu dilepaskan. Dengan demikian, kekosongan bukan akhir, melainkan pintu awal bagi perjalanan kembali menuju diri yang lebih utuh.
- Kesadaran bahwa Kita Tidak Sendiri
Ada satu hal penting yang sering terlupakan: banyak orang yang merasakan hal serupa. Kita hanya jarang saling mengakuinya. Manusia sering memilih diam karena takut dianggap lemah, takut merepotkan, atau takut tidak dipahami.
Padahal, ketika seseorang berani menjawab dengan jujur bahwa ia sedang kosong, ia sedang membuka kesempatan bagi orang lain untuk hadir dan menemani. Terkadang, perasaan untuk kuat berdiri menjadi lebih ringan ketika ada yang mengulurkan tangan.
Pertanyaan sederhana “Bagaimana kesehatanmu?” bisa menjadi titik awal percakapan yang menyentuh dan menyembuhkan. Karena pada dasarnya, manusia bukan hanya butuh tubuh yang sehat, tetapi juga batin yang mendapatkan tempat untuk diterima.
Dengan demikian jawaban, fisik sehat, psikis kosong, dan sedang berusaha kuat berdiri, adalah cermin yang menunjukkan bahwa kesehatan manusia tidak pernah satu dimensi.
Ia adalah perpaduan antara raga yang berfungsi dan jiwa yang bernafas. Ketika salah satu pincang, manusia akan terus mencari keseimbangan, walaupun perlahan, walaupun dengan napas berat.
Kekosongan bukan tanda runtuh. Ia adalah fase penting di mana diri sedang mencari arah, sedang membangun ulang fondasi untuk kembali berdiri lebih kokoh. Selama seseorang masih berusaha untuk kuat, sekecil apa pun, ia sedang memenangkan dirinya sendiri. Hari demi hari.
#Akuair-Ampenan, 05-12-2025
Penulis : Aks
Editor : Editor Ceraken































