Di Saung dan Rak Buku: Nasrudin, Sawah, dan Denyut Literasi Komunitas Teman Baca

Selasa, 24 Februari 2026 - 16:05 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

“Bagi saya, membaca itu sebuah kebutuhan seperti halnya kita butuh makan ketika kita lapar,” kata Nas (Foto: Teman Baca/ceraken.id)

“Bagi saya, membaca itu sebuah kebutuhan seperti halnya kita butuh makan ketika kita lapar,” kata Nas (Foto: Teman Baca/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di sela musim tanam padi dan rutinitas merawat pepaya serta pisang, Nasrudin menemukan ruang sunyi yang tak kalah subur dari sawahnya: lembar-lembar buku. “Jam istirahat siang dan sore saya gunakan untuk membaca di saung kebun,” tuturnya suatu hari.

Kalimat itu dikutip ulang oleh Dedy Ahmad Hermansyah, pendiri Komunitas Teman Baca, di akun media sosialnya. Di sana, kisah Nas, begitu ia biasa disapa, mengalir sederhana, tetapi menyisakan gema panjang tentang makna membaca di tengah tekanan ekonomi dan ritme hidup yang kian cepat.

Sebulan sebelumnya, Nas meminjam buku tebal Politik karya Aristoteles. Hari ini ia mengembalikannya, lalu membawa pulang dua novel karya Emile Zola: Germinal dan The Belly of Paris.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pilihan yang tidak ringan untuk pembaca yang membagi waktunya antara kebun, keluarga, dan pencarian kerja baru. Namun di situlah letak daya hidup perpustakaan komunitas: pada pembaca yang membaca bukan untuk gaya, melainkan untuk menjaga nyala batin.

Dulu, Nas kerap datang larut malam ke perpustakaan komunitas, sepulang bekerja di toko kelontong di Kota Mataram. Kini ia tak lagi bekerja di sana.

Ada tawaran pekerjaan dengan jam masuk pukul enam pagi, tetapi ia menolaknya. “Saya kan punya anak, dan itu waktu untuk mereka,” katanya.

Pilihan itu mungkin terdengar sederhana, namun di baliknya ada prioritas yang tegas: keluarga dan waktu yang utuh.

Dalam ruang-ruang jeda itulah buku hadir. Membaca menjadi jeda yang produktif, bukan sekadar pelarian, melainkan latihan berpikir.

Ketika ia membuka Politik, Nas berjumpa dengan gagasan klasik tentang negara, kebajikan, dan warga. Ketika ia menyelami Germinal, ia masuk ke lorong tambang Prancis abad ke-19, menyaksikan getir perjuangan buruh dan desakan perubahan sosial.

Sementara The Belly of Paris membawanya ke pasar Les Halles, tempat denyut ekonomi dan moralitas saling bersinggungan.

Salah satu penjaga perpustakaan menuturkan kepada Dedy, Germinal sering dibicarakan karena satu adegannya yang kelam dan kontroversial. Ada sejarawan yang menyebut kisah penyiletan tubuh jenderal oleh perempuan-perempuan Gerwani pada 1965 sebagai rekaan media militer, dan konon terinspirasi dari adegan dalam novel tersebut.

Terlepas dari perdebatan historiografisnya, pernyataan itu menunjukkan satu hal: sastra bisa merembes ke ruang-ruang politik dan membentuk imajinasi publik. Novel bukan sekadar cerita; ia dapat menjadi sumber metafor, bahkan propaganda.

Bagi Nas, keterkaitan semacam itu mungkin tidak selalu ia uraikan secara akademik. “Walaupun saya kadang kurang paham isi buku yang dibaca,” katanya sembari tertawa.

Namun pengakuan jujur itu justru menegaskan esensi membaca sebagai proses, bukan hasil instan. Memahami sepenuhnya bukan syarat untuk bertumbuh; yang penting adalah kesediaan untuk terus membuka halaman.

Baca Juga :  Menjaga Keselamatan di Jalan Raya: Komitmen Bersama melalui Operasi Keselamatan Rinjani 2026
Akar Kegemaran: Dari Majalah Anak ke Rak Komunitas

Ketika ditanya sejak kapan ia menyukai membaca, Nas menyebut masa sekolah dasar. Di perpustakaan sekolah, ia berkenalan dengan majalah anak seperti Bobo.

Dari sana, kebiasaan itu tumbuh pelan-pelan. Bacaan anak mungkin tampak ringan, tetapi ia sering menjadi pintu pertama menuju dunia literasi.

Ia bergabung dengan Komunitas Teman Baca setelah bekerja di Ampenan. Akses menjadi kunci. “Harga buku kan lumayan mahal,” ujarnya.

Di komunitas itulah ia bisa meminjam buku siang atau malam. Perpustakaan kecil dengan jam buka lentur menjadi oase bagi pembaca dengan jam kerja tak menentu.

Di tengah harga buku yang melesat dan minat baca yang kerap diratapi menurun, model berbagi seperti ini menghadirkan solusi nyata: akses murah, bahkan gratis.

Sesekali, jika ada rezeki lebih, Nas membeli buku di toko buku seperti Gramedia. “Karena saya beli buku itu sebuah pencapaian finansial yang lumayan,” katanya.

Kalimat itu menyentil realitas ekonomi pembaca kelas pekerja. Membeli buku bukan transaksi biasa.

Ia adalah peristiwa kecil yang dirayakan, hasil menyisihkan gaji setelah kebutuhan anak dan istri terpenuhi. Buku menjadi simbol daya tahan dan harapan.

Membaca sebagai Kebutuhan

“Ada sesuatu yang hilang jika tidak membaca buku?” sebuah tanya terlontar begitu saja. “Kurang nyaman aja kalau sehari aja nggak baca buku,” jawab Nas.

Ia mengibaratkannya seperti orang yang terbiasa ngopi di pagi hari lalu tiba-tiba tak minum kopi, ada yang kurang. Perumpamaan ini sederhana, tetapi kuat. Membaca baginya bukan hobi musiman, melainkan kebutuhan harian.

Dalam ekosistem literasi, pembaca seperti Nas adalah denyut nadi. Dedy menulis, “Pembaca jenis inilah yang terus mengalirkan darah kehidupan perpustakaan kami.”

Ia bukan pembaca yang gaduh di media sosial, bukan pula kolektor yang memamerkan rak. Ia pembaca yang menyelinap di antara jam istirahat, membaca di saung kebun, dan kembali ke rumah dengan kepala penuh pertanyaan.

Nas belum menulis esai atau artikel dari hasil bacaannya. Namun ia sesekali membuat video ulasan buku di media sosial. Di era digital, bentuk ajakan membaca tidak harus berupa tulisan panjang; ia bisa hadir sebagai video singkat yang jujur dan personal.

Baca Juga :  HARUM Episode Kedua: Setahun Menjaga Harapan, Melompat Menuju Masa Depan Mataram

Ketika ditanya tentang tagline komunitas, “Banyak Teman Banyak Baca”, Nas menafsirkan sebagai semboyan kebersamaan.

Bergabung dengan komunitas berarti bertemu orang-orang “satu frekuensi”, yang rata-rata suka dan banyak membaca. Lingkungan semacam itu, katanya, membuat kita otomatis banyak baca juga.

Komunitas sebagai Ruang Tumbuh

Kisah Nas menegaskan bahwa literasi bukan semata soal ketersediaan buku, tetapi juga soal jejaring. Komunitas menghadirkan ruang aman untuk bertanya, berdiskusi, dan meminjam.

Ia menghapus jarak antara pembaca dan buku, terutama bagi mereka yang penghasilannya terbatas.

Di Kota Mataram dan sekitarnya, inisiatif-inisiatif akar rumput seperti Komunitas Teman Baca menjadi simpul penting. Mereka bekerja tanpa gemuruh, sering kali tanpa dukungan besar.

Namun dari rak-rak sederhana itu, lahir percakapan tentang filsafat Yunani, realisme Prancis, hingga sejarah Indonesia yang kontroversial. Bayangkan lintasan gagasan itu: dari Aristoteles ke Zola, dari tambang batu bara ke sawah Lombok.

Membaca di saung kebun juga menghadirkan metafor yang indah. Seperti menanam padi, membaca adalah kerja yang tak langsung panen.

Ia butuh kesabaran, ketekunan, dan perawatan. Hasilnya tidak selalu kasat mata, tetapi terasa dalam cara seseorang memandang dunia.

Nas mungkin tidak selalu memahami setiap teori politik atau simbolisme sastra, tetapi ia sedang menanam benih-benih berpikir kritis.

Di tengah gempuran gawai dan konten cepat, kisah Nas terdengar nyaris aneh atau justru menghangatkan. Ia mengakui kadang tidak sepenuhnya paham, tetapi tetap membaca.

Ia menganggap membeli buku sebagai pencapaian finansial. Ia memilih jam kerja yang tidak merampas waktu anak-anaknya. Ia membaca bukan untuk tampak pintar, melainkan agar merasa utuh.

Pada akhirnya, literasi bukan hanya statistik minat baca atau jumlah judul terbit tiap tahun. Ia adalah cerita-cerita kecil seperti ini: seorang ayah yang membaca di saung kebun; seorang pendiri komunitas yang membuka pintu siang dan malam; percakapan tentang novel abad ke-19 yang menjalar ke sejarah bangsa.

“Bagi saya, membaca itu sebuah kebutuhan seperti halnya kita butuh makan ketika kita lapar,” kata Nas.

Kalimat itu menutup percakapan dengan kesederhanaan yang tegas. Di sana, membaca bukan slogan, bukan kampanye, melainkan praktik hidup.

Di sawah yang ditanami padi, di kebun pepaya dan pisang, di rak-rak komunitas yang bersahaja, api kecil itu terus menyala. Dan mungkin, dari saung-saung sederhana semacam itulah, masa depan literasi tumbuh: pelan, tekun, dan penuh harapan. (aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Menuju Kota Bersih: Di Tengah Krisis TPA, Asa Itu Tetap Menyala
Penjaga di Malam Ramadan: Merawat Kerukunan dari Griya Pagutan Indah, Mataram
Merajut Sinergi Pembangunan: Mataram Menata RKPD 2027
Menjaga Harum Kota: Refleksi Kepemimpinan Mohan–Mujib Menuju Mataram 2045
HARUM Episode Kedua: Setahun Menjaga Harapan, Melompat Menuju Masa Depan Mataram
Loang Baloq: Simpul Religi, Sejarah, dan Ekonomi Kreatif Kota Mataram
Opsen di Kuitansi Pajak: Kenapa Terlihat Naik Padahal Hampir Sama?
BPK NTB 2026: Menjaga Warisan, Menata Masa Depan Kebudayaan

Berita Terkait

Jumat, 27 Februari 2026 - 10:07 WITA

Menuju Kota Bersih: Di Tengah Krisis TPA, Asa Itu Tetap Menyala

Rabu, 25 Februari 2026 - 10:09 WITA

Penjaga di Malam Ramadan: Merawat Kerukunan dari Griya Pagutan Indah, Mataram

Selasa, 24 Februari 2026 - 16:05 WITA

Di Saung dan Rak Buku: Nasrudin, Sawah, dan Denyut Literasi Komunitas Teman Baca

Senin, 23 Februari 2026 - 15:35 WITA

Merajut Sinergi Pembangunan: Mataram Menata RKPD 2027

Senin, 23 Februari 2026 - 14:01 WITA

Menjaga Harum Kota: Refleksi Kepemimpinan Mohan–Mujib Menuju Mataram 2045

Berita Terbaru

Tempah Dedoro mengajak masyarakat untuk bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan sendiri (Foto: ist)

AJONG MENTARAM

Menuju Kota Bersih: Di Tengah Krisis TPA, Asa Itu Tetap Menyala

Jumat, 27 Feb 2026 - 10:07 WITA