Loang Baloq: Simpul Religi, Sejarah, dan Ekonomi Kreatif Kota Mataram

Senin, 23 Februari 2026 - 08:00 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bagi banyak peziarah, Loang Baloq adalah gerbang spiritual (Foto: aks/ceraken.id)

Bagi banyak peziarah, Loang Baloq adalah gerbang spiritual (Foto: aks/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Salah satu penanda penting Kota Mataram adalah Makam Loang Baloq. Situs ini bukan sekadar kompleks pemakaman tua di tepi pantai, melainkan simpul sejarah, religi, dan kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat.

Jika dikelola secara terarah dan berkelanjutan, Loang Baloq tidak hanya menjadi ruang wisata, tetapi juga pusat pembelajaran sejarah Islam Lombok, laboratorium kebudayaan, serta penggerak ekonomi kreatif berbasis lokal.

Terletak di Kelurahan Tanjung Karang, Kecamatan Sekarbela, sekitar enam kilometer dari pusat Kota Mataram, kawasan ini berdampingan langsung dengan garis pantai.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perpaduan antara wisata religi dan bahari menjadikannya salah satu ikon budaya di Pulau Lombok. Pada sore hari, peziarah dapat menyaksikan matahari terbenam di ufuk barat, sementara aroma ikan bakar dari lapak-lapak kuliner menyatu dengan semilir angin laut.

Namun, daya tarik Loang Baloq bukan semata pada lanskapnya. Ia menyimpan narasi panjang tentang penyebaran Islam, perjumpaan budaya, dan tradisi lokal yang terus diwariskan lintas generasi.

Jejak Ulama dari Jazirah Arab

Di kompleks ini dimakamkan seorang tokoh penyebar Islam yang dihormati masyarakat Lombok, yakni Maulana Syeikh Gauz Abdurrazak, yang juga dikenal sebagai Sayyid Tohri. Berdasarkan penuturan sejarah lisan, beliau berasal dari Jazirah Arab dan tiba di Nusantara pada abad ke-19.

Tahun 1866 disebut sebagai momentum kedatangannya ke Palembang sebelum melanjutkan perjalanan hingga mendarat di pesisir Ampenan, wilayah yang kini menjadi bagian dari Kota Mataram.

Dari pesisir inilah ajaran Islam disampaikan melalui pendekatan dakwah yang santun dan adaptif terhadap budaya lokal. Petuah-petuahnya dipercaya dan diterima masyarakat Sasak. Selain makam beliau, terdapat pula Makam Datuk Laut dan Makam Anak Yatim, yang sama-sama menjadi tujuan ziarah.

Situs ini bukan hanya ruang memorial, tetapi juga ruang pengalaman spiritual yang membangun relasi batin antara masa lalu dan masa kini (Foto:aks/ceraken.id)

Bagi banyak peziarah, Loang Baloq adalah gerbang spiritual. Akeu, seorang peziarah, menyebut tempat ini sebagai “pintu pembuka” sebelum melanjutkan ziarah ke makam-makam lain di Pulau Lombok. Bagi dirinya, datang ke Lombok terasa belum lengkap tanpa berdoa terlebih dahulu di Loang Baloq.

Narasi ini memperlihatkan bahwa situs tersebut bukan hanya ruang memorial, tetapi juga ruang pengalaman spiritual yang membangun relasi batin antara masa lalu dan masa kini.

Nama Loang Baloq sendiri menyimpan makna unik. Dalam bahasa Sasak, “loang” berarti lubang dan “baloq” sering diartikan sebagai buaya. Konon, dahulu kawasan ini merupakan pohon beringin besar yang berlubang dan menjadi sarang buaya.

“Di sana dulu memang masih ditemukan adanya buaya sekitaran muara Sungai. Akses ke sana untuk berziarah ke makam karomah di dalam pohon beringin, yang sekarang kita bisa ziarahi, dulu menggunakan perahu kecil melewati alur sungai,” ujar Lalu Martawang, Asisten I Setda Kota Mataram.

Versi lain menyebutkan “baloq” berarti buyut atau leluhur.

Baca Juga :  Menjemput Ramadhan dengan Kebersihan Jiwa

Perbedaan tafsir ini justru memperkaya khazanah cerita rakyat. Ia menunjukkan bagaimana satu situs dapat hidup dalam berbagai narasi, bergantung pada sudut pandang masyarakat yang mewarisinya.

Di sinilah pentingnya pengelolaan berbasis storynomics tourism, mengemas cerita sebagai daya tarik utama tanpa menghilangkan nilai sakralnya.

Salah satu tradisi unik yang masih berlangsung hingga kini adalah saur sesangi, yakni praktik mengikatkan sesuatu pada akar gantung pohon beringin sebagai bentuk nazar.

Keyakinan masyarakat setempat menyebutkan bahwa jika seseorang mengikat akar sambil memanjatkan doa, hajatnya akan lebih cepat terkabul. Ketika keinginan tersebut terpenuhi, mereka akan kembali untuk melepaskan ikatan itu.

Tradisi ini menjadi ciri khas Loang Baloq. Ia bukan sekadar praktik spiritual, melainkan bagian dari memori kolektif masyarakat Sasak.

Setelah berziarah, pengunjung dapat menikmati panorama laut (Foto: aks/ceraken.id)

Aktivitas lain yang kerap dilakukan adalah ngurisan, ritual memotong rambut bayi sebagai simbol doa dan harapan bagi masa depan sang anak.

Pada momen-momen tertentu, seperti Idul Fitri, Lebaran Ketupat, yang dirayakan sepekan setelah Idul Fitri, dan Maulid Nabi Muhammad SAW, kompleks makam dipenuhi peziarah.

Edi, penjaga makam yang telah bertugas selama 15 tahun, mengisahkan bahwa jumlah pengunjung bisa meningkat berkali-kali lipat pada periode tersebut. Arus manusia yang datang dari berbagai daerah di Lombok, bahkan luar NTB, menciptakan denyut ekonomi yang terasa hingga ke pelaku UMKM di sekitar kawasan.

Dari ODCB ke Pusat Edukasi Sejarah

“Secara kategorisasi, Loang Baloq lebih tepat disebut sebagai Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) untuk situs makam keramatnya, bukan cagar alam. Nilai utamanya terletak pada aspek sejarah dan budaya,” terang Guru Besar Sastra dan Budaya Universitas Mataram, Prof. Dr. H. Nuriadi, SS.,M.Hum.

Prof. Nuriadi menambahkan, secara Undang-Undang No 11 tahun 2010, “Ya begitu. Perlu ada revisi yang di dalamnya ada aturan peralihan dahulu, guna menetapkan cagar-cagar budaya yang sebelumnya sudah ditetapkan oleh Undang-Undang sebelumnya supaya tidak gugur lagi gara-gara berlakunya Undang-Undang tersebut.”

Status ini semestinya menjadi pintu masuk untuk upaya pelestarian yang lebih sistematis, termasuk dokumentasi sejarah, penataan kawasan, dan edukasi publik. Sebagai ruang belajar, Loang Baloq memiliki potensi besar untuk menjadi pusat literasi sejarah Islam di Lombok.

Sekolah-sekolah dapat menjadikannya lokasi kunjungan edukatif. Pemandu wisata lokal dapat dilatih untuk menyampaikan narasi sejarah secara komprehensif dan kontekstual. Panel informasi multibahasa bisa dipasang untuk menjangkau wisatawan mancanegara.

Baca Juga :  Mataram Terinformatif: Hangatnya Silaturahmi, Kuatnya Komitmen Keterbukaan Informasi

Upaya tersebut akan mengubah persepsi publik: dari sekadar tempat berziarah menjadi ruang refleksi sejarah dan kebudayaan.

Keunggulan Loang Baloq terletak pada perpaduannya dengan wisata pantai. Setelah berziarah, pengunjung dapat menikmati panorama laut dan kuliner khas seperti sate bulayak serta ikan bakar.

Sinergi antara wisata religi dan bahari membuka peluang ekonomi kreatif (Foto: aks/ceraken.id)

Lanskap ini menghadirkan harmoni antara sakralitas dan rekreasi.

Potensi ini pernah mendapat pengakuan nasional ketika kawasan Loang Baloq masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022. Penghargaan tersebut menyoroti kekuatan kombinasi potensi bahari, kuliner, dan budaya yang dimiliki kawasan ini.

Lalu Martawang mengingatkan, sinergi antara wisata religi dan bahari membuka peluang ekonomi kreatif. Pelaku usaha lokal dapat mengembangkan produk suvenir berbasis cerita sejarah Loang Baloq, kuliner khas dengan branding yang kuat, hingga pertunjukan seni tradisional pada momen tertentu.

“Lapangan kerja baru dapat tercipta dari sektor pemandu wisata, pengelola parkir, hingga pengrajin lokal,” kata Martawang.

Meski memiliki potensi besar, pengelolaan Loang Baloq masih menghadapi tantangan klasik: penataan kawasan, kebersihan, regulasi pedagang, hingga keseimbangan antara komersialisasi dan kesakralan. Pengunjung diimbau berpakaian sopan dan menjaga kebersihan, tetapi imbauan tersebut perlu diiringi pengawasan serta fasilitas yang memadai.

Diperlukan model tata kelola kolaboratif yang melibatkan pemerintah daerah, tokoh agama, komunitas budaya, dan pelaku usaha. Konsep pengembangan harus berbasis pelestarian, bukan eksploitasi.

Penataan ruang yang ramah peziarah sekaligus nyaman bagi wisatawan umum menjadi kunci.

Lebih jauh, Loang Baloq dapat diintegrasikan dalam paket wisata religi Lombok yang terstruktur. Dengan demikian, ia benar-benar menjadi “pintu pembuka” bagi perjalanan spiritual di pulau ini, sebagaimana diungkapkan Akeu.

Menjaga Sakralitas, Menggerakkan Ekonomi

Pada akhirnya, Loang Baloq adalah cermin identitas Kota Mataram. Ia menyatukan sejarah dakwah, tradisi lokal, dan dinamika ekonomi modern dalam satu ruang yang sama.

Di bawah rindang beringin tua dan debur ombak pantai, tersimpan pesan tentang harmoni antara iman, budaya, dan kesejahteraan.

Jika dikelola dengan visi jangka panjang, Loang Baloq dapat menjadi pusat pembelajaran sejarah Islam Lombok, ruang ekspresi budaya Sasak, serta motor ekonomi kreatif berbasis lokal. Sakralitasnya tetap terjaga, sementara manfaat ekonominya dirasakan masyarakat sekitar.

Di sanalah letak kekuatannya: bukan hanya sebagai makam, tetapi sebagai simpul peradaban kecil yang terus hidup di jantung Kota Mataram.(aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Opsen di Kuitansi Pajak: Kenapa Terlihat Naik Padahal Hampir Sama?
BPK NTB 2026: Menjaga Warisan, Menata Masa Depan Kebudayaan
Mataram Terinformatif: Hangatnya Silaturahmi, Kuatnya Komitmen Keterbukaan Informasi
Menjaga Warisan, Menata Masa Depan: Mendesak Reformasi Pendanaan dan Tata Kelola Cagar Budaya di NTB
Satgas Bencana dan Semangat Kebersamaan di Jantung Kota Mataram
Konsultasi Publik RKPD 2027: Menyatukan Arah Pembangunan Kota Mataram
Mayura dan Ikhtiar Merawat Ingatan Kota
Jejak Maulana Syaikh di Museum NTB: Merawat Warisan Ulama, Pendidik, dan Pejuang Kebangkitan Tanah Air

Berita Terkait

Senin, 23 Februari 2026 - 08:00 WITA

Loang Baloq: Simpul Religi, Sejarah, dan Ekonomi Kreatif Kota Mataram

Kamis, 19 Februari 2026 - 17:25 WITA

Opsen di Kuitansi Pajak: Kenapa Terlihat Naik Padahal Hampir Sama?

Kamis, 19 Februari 2026 - 16:39 WITA

BPK NTB 2026: Menjaga Warisan, Menata Masa Depan Kebudayaan

Kamis, 19 Februari 2026 - 09:16 WITA

Mataram Terinformatif: Hangatnya Silaturahmi, Kuatnya Komitmen Keterbukaan Informasi

Sabtu, 14 Februari 2026 - 07:25 WITA

Menjaga Warisan, Menata Masa Depan: Mendesak Reformasi Pendanaan dan Tata Kelola Cagar Budaya di NTB

Berita Terbaru

Bagi banyak peziarah, Loang Baloq adalah gerbang spiritual (Foto: aks/ceraken.id)

AJONG MENTARAM

Loang Baloq: Simpul Religi, Sejarah, dan Ekonomi Kreatif Kota Mataram

Senin, 23 Feb 2026 - 08:00 WITA

Pertanyaannya kini sederhana: apakah kita masih mau mendengar suara air? (Foto: aks/ceraken.id)

BEDAH BUKU

Molang Maliq Mualan Benyer dan Kebangkitan Tradisi di Telaga Waru

Minggu, 22 Feb 2026 - 19:55 WITA

Transformasi ini bukan sekadar perubahan angka statistik, tetapi perubahan cara desa memaknai perannya dalam ekonomi regional (Foto: ist)

INFORIAL

Dari Sawah ke Sinyal: Momentum Transformasi Ekonomi Desa di NTB

Sabtu, 21 Feb 2026 - 15:42 WITA