CERAKEN.ID– Sembari mendengarkan lagu U2 berjudul “Pride (In The Name of Love)”, sebuah lagu yang kerap mengingatkan pada keberanian moral dan pilihan-pilihan besar dalam sejarah, saya mencermati tahapan Pemilihan Rektor Universitas Mataram (Unram) periode 2026–2030. Ada semacam irama yang berulang: antara prosedur yang baku dan pertaruhan arah masa depan sebuah institusi.
Tahapan itu sudah jelas dan nyaris tak menyisakan ruang tafsir.
Pertama, 2–9 Januari 2026, pemilihan calon rektor dilakukan dalam Rapat Tertutup Senat bersama Menteri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kedua, 12–14 Januari 2026, penyampaian hasil pemilihan kepada Menteri.
Ketiga, 7 Maret 2026, penetapan sekaligus pelantikan rektor oleh Menteri.
Namun, di balik kronologi administratif yang tampak kaku itu, tersimpan dinamika yang jauh lebih kompleks: relasi antara suara senat, visi kementerian, dan figur-figur yang dianggap paling mampu menjawab tantangan zaman.
35 Persen yang Menentukan Arah
Sebagaimana diketahui publik kampus, ketentuan 35 persen suara Menteri dalam pemilihan rektor Perguruan Tinggi Negeri (PTN) bukanlah sekadar angka. Ia adalah instrumen kebijakan. Aturan ini, yang merujuk pada Permenristekdikti No. 1 Tahun 2015, memberikan Menteri porsi suara signifikan, sementara Senat memegang 65 persen suara.
Prosesnya dilakukan melalui pemungutan suara tertutup. Suara Menteri dan suara Senat digabungkan untuk menentukan pemenang. Secara matematis, ini berarti Menteri tidak selalu menentukan hasil akhir.
Namun secara politis dan strategis, 35 persen itu sering kali menjadi penentu arah, terutama ketika kontestasi berlangsung ketat atau ketika kementerian ingin mengirimkan pesan kebijakan yang lebih luas.
Pada titik inilah figur calon rektor tak lagi hanya dinilai dari popularitas internal, melainkan dari sejauh mana ia mampu menjadi representasi visi negara tentang pendidikan tinggi.
Konteks ini tak bisa dilepaskan dari figur Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) yang baru, Prof. Bryan Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D. Sejak awal, publik membaca bahwa kementerian ini akan digerakkan oleh DNA saintifik yang kuat.
Empat platform utama kerap disebut sebagai orientasi kebijakan beliau:
- Hilirisasi Riset – mendorong riset terapan agar bertransformasi menjadi produk, industri rintisan, atau solusi nyata.
- Kolaborasi Triple Helix – penguatan jejaring kampus–industri–pemerintah.
- Penguatan Sains dan Teknik – menjadikan kampus sebagai engine of innovation.
- Talent Mobility dan Digitalisasi – membangun ekosistem talenta dan kampus digital yang adaptif.
Platform ini bukan sekadar jargon. Ia adalah kacamata yang sangat mungkin digunakan Menteri untuk menilai para calon rektor: siapa yang paling mampu menerjemahkan gagasan-gagasan besar itu ke dalam konteks lokal kampus masing-masing.
Menakar Prof. Muhamad Ali
Dalam lanskap seperti itulah nama Prof. Muhamad Ali, Ph.D. menjadi menarik untuk ditakar. Bukan semata karena status akademiknya, melainkan karena irisan kuat antara profil personal, rekam jejak, dan arah kebijakan kementerian.
Keselarasan dengan Menteri Bryan tampak mencolok.
Titik kuatnya sangat tinggi. Prof. Ali adalah pemegang gelar Ph.D. dengan rekam jejak riset internasional yang nyata. Fokus keilmuannya di sektor peternakan dan pangan justru menempatkannya pada jantung isu strategis nasional: ketahanan dan kedaulatan pangan, bio-ekonomi, serta industri berbasis sumber daya hayati.
Di tangan narasi yang tepat, peternakan bukan lagi sektor tradisional, melainkan dapat dipresentasikan sebagai “bio-industry and food technology innovation hub”. Bahasa semacam ini adalah bahasa yang dipahami bahkan dirayakan oleh Menteri berlatar saintis dan insinyur.
Di sinilah peluang jitu itu berada. Kemampuan Prof. Ali membangun jejaring internasional, memahami logika publikasi global, dan menerjemahkan riset menjadi solusi terapan, adalah nilai tambah yang sulit diabaikan.
Peluang dukungan dari Menteri, jika ditakar secara rasional, tergolong sangat tinggi. Profil Prof. Ali mendekati apa yang selama ini dicari Kemendiktisaintek: Professor–Entrepreneur, atau setidaknya Professor–Innovator, yang mampu menjembatani laboratorium dengan pasar, riset dengan industri, dan kampus dengan kebutuhan bangsa.
Mengapa Prof. Ali Menguat? Jika dirangkum, munculnya Prof. Muhamad Ali sebagai kandidat utama bukanlah kebetulan. Setidaknya ada tiga alasan mendasar:
- Kesamaan Bahasa dan DNA
Sama-sama saintis, sama-sama berakar pada dunia riset, publikasi internasional, dan pendekatan berbasis data. Ini memudahkan komunikasi visi, terutama dalam forum-forum krusial bersama Menteri.
2. Misi yang Mudah Dikalibrasi
Visi Unram dapat dikalibrasi menjadi “Kampus Inovasi Berbasis Bio-Ekonomi dan Sumber Daya Lokal NTB”. Sebuah visi yang langsung sejalan dengan agenda nasional dan prioritas kementerian.
3. Sinyal ke Publik
Memilih Prof. Ali akan menjadi pernyataan simbolik yang kuat: bahwa Kemendiktisaintek di bawah Prof. Bryan Yuliarto serius mendorong kepemimpinan kampus berbasis sains, inovasi, dan hilirisasi riset.
Dalam kerangka ini, jika Menteri memutuskan murni berdasarkan keselarasan visi dan profil ideal kepemimpinan kampus era inovasi, maka labuhnya suara sangat mungkin mengarah kepada Prof. Ali. Keputusan tersebut akan mengirim pesan terang benderang tentang arah baru pendidikan tinggi Indonesia.
Seni Meyakinkan dan Skenario Lain
Namun, namanya juga menakar. Selalu ada kemungkinan lain. Salah satu diksi kunci dalam proses ini adalah kemampuan “membawakan diri”: bagaimana seorang calon rektor menyampaikan gagasan dalam bahasa yang dipahami Menteri: bahasa sains, data, peta jalan, dan terobosan.
Skenario alternatif tetap terbuka. Menteri bisa saja memilih untuk menghormati suara terbesar Senat, terutama jika pertimbangan stabilitas dan harmoni internal kampus dianggap paling krusial.
Dalam skenario ini, Menteri kemungkinan akan menuntut janji yang kuat dan roadmap yang rinci tentang lompatan inovasi yang akan dilakukan ke depan.
Di sisi lain, kompromi politik, meski kecil, juga mungkin terjadi. Suara Menteri dapat digunakan untuk memperkuat posisi Prof. Ali agar setara atau bahkan melampaui “pilihan Senat”, menciptakan dua kekuatan utama yang kemudian diuji lebih jauh melalui presentasi, wawancara, dan penilaian akhir.
Pada akhirnya, pemilihan rektor bukan hanya tentang siapa yang menang, melainkan tentang ke mana Unram akan dibawa.
Dan dalam konteks Indonesia yang sedang menatap Indonesia Emas 2045, pilihan-pilihan hari ini akan tercatat sebagai penentu arah sejarah kecil sebuah universitas di timur nusantara. (aks)
Penulis : aks
Editor : Ceralen Editor































