Oleh Lalu Surya Mulawarman – Kepala Taman Budaya Prov. NTB
CERAKEN.ID– Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki posisi strategis dalam perjalanan kebudayaan daerah.
Lembaga ini tidak sekadar menjadi ruang pertunjukan seni, tetapi juga pusat pelestarian, pengembangan, kreativitas, sekaligus transformasi nilai budaya masyarakat NTB.
Dalam konteks visi pembangunan daerah bertajuk NTB Makmur Mendunia, peran Taman Budaya menjadi semakin penting dan membutuhkan akselerasi yang terarah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertanyaannya kemudian, bagaimana Taman Budaya NTB dapat bergerak lebih cepat dan relevan sehingga mampu menjadi motor penggerak kebudayaan daerah di tengah tantangan globalisasi dan industri kreatif yang terus berkembang?
Program NTB Makmur Mendunia menempatkan daerah tidak hanya sebagai tujuan wisata, tetapi juga sebagai pusat pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal yang mampu bersaing di tingkat global.
Di sini, kebudayaan menjadi fondasi penting, sebab pariwisata, ekonomi kreatif, hingga identitas daerah berakar pada kekuatan budaya masyarakatnya.
Taman Budaya NTB selama ini telah menjalankan fungsi sebagai ruang pementasan seni, pameran, festival budaya, hingga pembinaan seniman. Namun tantangan kekinian menuntut lembaga ini tidak hanya menjadi penyelenggara kegiatan, tetapi juga menjadi pusat inovasi kebudayaan yang hidup, adaptif, dan produktif.
Artinya, Taman Budaya perlu bergerak dari sekadar ruang acara menjadi ekosistem budaya yang berkelanjutan.
Revitalisasi Fungsi sebagai Pusat Kreativitas
Langkah pertama dalam akselerasi adalah revitalisasi fungsi Taman Budaya sebagai pusat kreativitas. Ruang-ruang yang tersedia perlu dimanfaatkan secara optimal sebagai laboratorium seni dan budaya.
Workshop rutin, inkubasi seniman muda, residensi seniman lokal dan internasional, hingga pelatihan manajemen seni dapat menjadi agenda berkelanjutan. Seniman tidak hanya datang untuk tampil, tetapi juga untuk belajar, berkolaborasi, dan menciptakan karya baru.
Generasi muda menjadi kunci. Tanpa regenerasi, kebudayaan hanya menjadi nostalgia. Karena itu, Taman Budaya harus membuka ruang bagi komunitas kreatif, pelajar, mahasiswa, hingga kreator digital untuk mengembangkan karya berbasis budaya lokal.
Budaya perlu hadir dalam bentuk yang dekat dengan generasi sekarang, termasuk melalui musik modern berbasis tradisi, film, animasi, konten digital, hingga seni pertunjukan kontemporer.
Transformasi Digital sebagai Gerbang Mendunia
Akselerasi berikutnya adalah digitalisasi program dan dokumentasi budaya. Di era digital, panggung budaya tidak lagi terbatas pada ruang fisik. Dunia digital memungkinkan pertunjukan seni NTB disaksikan lintas negara.
Taman Budaya NTB dapat membangun arsip digital seni dan budaya daerah, mendokumentasikan pertunjukan, ritual adat, musik tradisional, hingga karya perupa lokal dalam platform digital yang mudah diakses publik global.
Streaming pertunjukan, festival budaya daring, hingga kolaborasi dengan kreator konten menjadi strategi memperluas jangkauan budaya NTB. Dengan demikian, seni dan budaya lokal tidak hanya hidup di ruang lokal, tetapi juga dikenal secara internasional.
Inilah salah satu jalan agar NTB benar-benar “mendunia” melalui budayanya.
Sinergi dengan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
Akselerasi peran Taman Budaya juga perlu disinergikan dengan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Setiap kunjungan wisata ke NTB idealnya tidak hanya menawarkan panorama alam, tetapi juga pengalaman budaya.
Taman Budaya dapat menjadi pusat agenda budaya daerah yang terjadwal sepanjang tahun. Wisatawan yang datang memiliki pilihan untuk menikmati pertunjukan seni, pameran budaya, hingga festival tradisi secara rutin.
Lebih jauh, karya seni dan produk kreatif berbasis budaya dapat dikembangkan sebagai komoditas ekonomi kreatif. Perajin, seniman, musisi, dan pelaku seni pertunjukan perlu didukung agar karya mereka memiliki nilai ekonomi tanpa kehilangan nilai budaya.
Dengan demikian, budaya bukan hanya dilestarikan, tetapi juga memberikan kesejahteraan bagi pelakunya.
Penguatan Kolaborasi dan Partisipasi Komunitas
Akselerasi tidak dapat berjalan tanpa kolaborasi. Taman Budaya perlu menjadi simpul pertemuan antara pemerintah, komunitas seni, akademisi, sektor swasta, dan pelaku ekonomi kreatif.
Komunitas seni di NTB sebenarnya sangat hidup. Namun mereka sering berjalan sendiri-sendiri. Taman Budaya dapat mengambil peran sebagai penghubung, fasilitator, sekaligus ruang bersama untuk kolaborasi lintas komunitas dan lintas disiplin.
Keterlibatan masyarakat juga penting agar kebudayaan tidak terpisah dari kehidupan sehari-hari. Program budaya perlu hadir hingga tingkat desa, sekolah, dan komunitas lokal sehingga budaya menjadi bagian dari kehidupan, bukan sekadar tontonan.
Pada akhirnya, akselerasi Taman Budaya NTB bukan semata soal memperbanyak acara, tetapi bagaimana menjadikan budaya sebagai identitas kuat NTB di mata dunia.
Provinsi ini memiliki kekayaan budaya Sasak, Samawa, Dompu, dan Mbojo yang unik. Jika dikelola secara kreatif dan profesional, kekayaan ini dapat menjadi kekuatan global yang membedakan NTB dari daerah lain.
Program NTB Makmur Mendunia membutuhkan dukungan sektor budaya sebagai roh pembangunan. Taman Budaya NTB berada di posisi strategis untuk memastikan kebudayaan tetap hidup, berkembang, dan memberi manfaat ekonomi serta identitas bagi masyarakat.
Dengan akselerasi yang tepat, Taman Budaya NTB tidak hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi menjadi pusat peradaban budaya yang menghubungkan tradisi, kreativitas, dan masa depan NTB di panggung dunia.*
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor


































