Catatan Agus K Saputra
CERAKEN.ID– Sore itu, di sebuah kedai kopi sederhana di pinggir Jalan Koperasi, Ampenan, obrolan mengalir tanpa agenda besar. Asap kopi mengepul, lalu lintas bergerak pelan.
Dan di tengah suasana yang tampak biasa itulah percakapan tentang sesuatu yang justru tak biasa berlangsung: soal values: nilai-nilai kemanusiaan yang hari ini terasa kian terpinggirkan.
Bang Adhar Hakim menyebutnya dengan nada tenang, namun sarat kegelisahan. Nilai, katanya, bukan sekadar konsep yang dibicarakan di ruang seminar atau buku tebal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Nilai adalah fondasi hidup yang seharusnya terus didengungkan, dijaga, dan dipraktikkan agar manusia terutama orang-orang baik, tetap bermanfaat bagi sesamanya.
“Kita sering lupa,” ujarnya sambil mengaduk kopi, “bahwa orang baik itu tidak otomatis aman.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi mengandung peringatan serius. Dalam realitas sosial hari ini, lingkungan yang buruk kerap bekerja secara halus namun efektif. Ia tidak selalu memaksa, tetapi menjebak.
Tidak langsung merusak, tetapi mengikis perlahan. Orang baik bisa terjerumus bukan karena niat awal yang salah, melainkan karena terus-menerus berada dalam situasi yang menormalisasi keburukan.
Lingkungan, dalam pengertian ini, bukan hanya soal tempat, tetapi juga suasana: pergaulan, wacana publik, hingga arus informasi yang dikonsumsi setiap hari.
Ketika keburukan diproduksi berulang-ulang, dibungkus sensasi, dan disajikan tanpa henti, ia perlahan kehilangan sifatnya sebagai sesuatu yang memalukan. Ia menjadi biasa. Bahkan, dalam banyak kasus, dianggap lumrah.
Di titik inilah bang Adhar menyinggung soal berita dan narasi. Menurutnya, bukan hanya tindakan buruk yang berbahaya, tetapi juga cara keburukan itu diceritakan.
“Berita buruk kalau terus-menerus dinarasikan secara intens, lama-lama dianggap normal. Bahkan bisa berubah jadi pembenaran,” katanya.
Fenomena ini terasa nyata di ruang publik kita hari ini. Media sosial, kanal berita, dan obrolan sehari-hari kerap dipenuhi oleh kisah-kisah tentang konflik, tipu daya, korupsi, dan pertikaian.
Bukan berarti fakta-fakta itu harus disembunyikan. Namun ketika porsi keburukan jauh lebih dominan dibandingkan kisah tentang kejujuran, kepedulian, dan keteladanan, ada risiko besar yang mengintai: publik kehilangan kompas nilai.
Yang lebih berbahaya, lanjut bang Adhar, adalah ketika situasi itu berbalik arah. Saat kebaikan justru dicurigai. Ketika niat tulus dianggap pencitraan. Ketika integritas dibaca sebagai kepura-puraan.
“Suatu ketika hal baik disampaikan malah dikatakan sesuatu yang buruk. Ini bahaya,” ujarnya tegas.
Bahaya itu bukan sekadar soal salah paham. Ia adalah tanda terjadinya distorsi nilai. Ketika kebaikan tidak lagi mendapat ruang aman untuk tumbuh, orang-orang baik akan menghadapi dilema: tetap bertahan dengan risiko disalahpahami, atau ikut arus demi keselamatan sosial.
Dalam kondisi seperti itu, menjaga nilai bukan perkara mudah. Ia menuntut keberanian moral. Menjadi baik bukan hanya soal niat personal, tetapi juga kesiapan menghadapi tekanan lingkungan.
Tidak semua orang sanggup. Tidak semua orang kuat. Maka, tanggung jawab menjaga nilai seharusnya tidak dibebankan pada individu semata.
Di sinilah pentingnya ekosistem kebaikan. Ruang-ruang diskusi yang sehat. Media yang adil dalam memberi porsi pada narasi positif.
Komunitas yang saling menguatkan. Dan percakapan-percakapan sederhana, seperti di kedai kopi pinggir jalan, yang mengingatkan kita bahwa nilai masih ada, masih relevan, dan masih layak diperjuangkan.
Bang Adhar tidak berbicara tentang utopia. Ia justru menekankan hal-hal kecil yang konsisten.
Menyebut kebaikan dengan jujur. Tidak ikut menertawakan integritas. Tidak terburu-buru menghakimi niat orang lain. Dan, yang terpenting, berani mengatakan bahwa sesuatu itu baik, meski dunia sekitar sedang gemar merayakan sebaliknya.
Sore merambat malam. Obrolan pun berakhir tanpa kesimpulan besar. Namun percakapan tentang nilai itu tertinggal menggema lebih lama daripada rasa kopi di lidah.
Di tengah riuh informasi dan kebisingan narasi, menjaga nilai memang terasa sunyi. Tetapi justru dari kesunyian itulah, kemanusiaan sering menemukan kembali maknanya.
Karena jika orang-orang baik berhenti bersuara, dan nilai-nilai dibiarkan larut dalam kebiasaan buruk, maka yang tersisa hanyalah dunia yang kehilangan arah, dan itu, seperti kata bang Adhar, sungguh berbahaya.
#Akuair-Ampenan, 04-01-2026
Penulis : aks
Editor : Editor Ceraken































