Menyusuri Labirin Lakon Borka Bersama Sopiyan Sauri

Minggu, 7 Desember 2025 - 06:18 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Karakter Paman sendiri bukan peran kecil. Dalam struktur dramaturgi Borka, ia menjadi figur penyeimbang antara dunia bawah tanah dan tokoh utama. Sebuah posisi yang menuntut dimensi emosi dan kecerdikan (Foto: ist)

Karakter Paman sendiri bukan peran kecil. Dalam struktur dramaturgi Borka, ia menjadi figur penyeimbang antara dunia bawah tanah dan tokoh utama. Sebuah posisi yang menuntut dimensi emosi dan kecerdikan (Foto: ist)

CERAKEN.ID- Mataram- Dalam dunia teater, ada kalanya sebuah peran bukan sekadar tugas memerankan karakter, tetapi menjadi pintu masuk menuju pengalaman batin yang dalam. Demikianlah yang dirasakan Sopiyan Sauri, seorang guru pesantren yang sekaligus menjadi pemeran Paman dalam lakon Borka 2025.

Ia menggambarkan proses kreatifnya sebagai perjalanan menyusuri labirin: ruwet, penuh tikungan, dan menuntut ketelitian membaca tanda-tanda agar bisa menemukan jalan keluar. Metafora ini bukan hanya tentang kerumitan karya, melainkan juga tentang dinamika tumbuhnya kesadaran tubuh, teks, dan relasi antarpemain di dalam proses seni peran.

Sopiyan menegaskan bahwa lakon Borka bukan pertunjukan yang hanya bisa dipahami lewat penguasaan dialog atau hafalan naskah. Ada banyak lapisan simbol, tafsir, dan ritme tubuh yang mesti dibaca berulang kali.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bahkan, ia mengakui bahwa proses yang ia jalani seolah membuat para aktor harus saling membaca satu sama lain, sebuah dialog tak tertulis antara energi tubuh, respons emosional, dan intuisi panggung.

Di sini, peran Paman yang ia emban menjadi medan eksplorasi yang menuntut kebebasan: kebebasan membongkar teks, membiarkan tubuh menemukan bentuknya sendiri, dan menautkan seluruhnya dalam visi sutradara.

Baca Juga :  Resonansi yang Tak Terlihat: Membaca “Bawah Tanah” I Nyoman Sandiya

Kunci perjalanan itu terletak pada arahan sutradara, Eko Wahono. Bagi Sopiyan, Eko bukan sekadar pengarah teknis, melainkan sosok yang memediasi pertumbuhan artistik pemainnya.

Ia menawarkan pengalaman berbeda di setiap sesi latihan, seakan-akan memberi ruang bagi aktor untuk menggali lebih dalam karakter masing-masing tanpa kehilangan arah dari interpretasi keseluruhan lakon.

Pemahamannya yang menyeluruh terhadap kepribadian dan potensi tiap aktor membuat proses kreatif berjalan seperti proses meramu: seimbang, intuitif, dan tetap mengarah pada capaian tertentu.

“Karakter Paman sendiri bukan peran kecil. Dalam struktur dramaturgi Borka, ia menjadi figur penyeimbang antara dunia bawah tanah dan tokoh utama. Sebuah posisi yang menuntut dimensi emosi dan kecerdikan,”ujar Sopiyan.

Paman, seperti ditafsirkan Sopiyan, dikemas sebagai sosok licik, ambisius, dan penuh akal. Sebuah dimensi yang mengharuskannya mengolah tubuh dan teks dengan cara yang tidak kaku, bahkan cenderung merdeka.

Apalagi ia harus terus berhadapan dan berdialog dengan karakter Nenek, yang menjadi lawan main utamanya dalam menjaga ketegangan dan dinamika cerita. Dari sinilah peran Paman menjadi titik krusial yang harus terus diperhalus agar tetap relevan dalam keseluruhan bangunan lakon.

Baca Juga :  Pulang ke Palung: Phalonk, Tradisi yang Diciptakan Ulang, dan Jalan Pulang Seniman Daerah

Proses kreatif itu tidak mudah. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan setiap sesi latihan memaksanya untuk menemukan versi terbaik dari tubuh dan pemahamannya terhadap Paman. Namun, bagi Sopiyan, rasa lelah itu selalu tertutup oleh perasaan bahagia: kebahagiaan menjadi bagian dari proses bertumbuh bersama para aktor lain, pemusik, tim artistik, produser, hingga sutradara.

Ada suasana gotong royong artistik yang menghangatkan, mempertebal keyakinannya bahwa teater adalah ruang belajar yang tidak pernah selesai.

Pada akhirnya, bagi Sopiyan Sauri, Borka bukan hanya sebuah pentas. Ia adalah “paket lengkap”, sebuah sajian istimewa yang memadukan disiplin, eksplorasi, kebersamaan, dan kejutan-kejutan kreatif.

Dari seorang guru pesantren yang sehari-harinya akrab dengan ilmu dan pengajaran. Kini ia juga menjadi penjelajah labirin artistik yang menemukan kebebasan baru lewat tubuh, teks, dan imajinasi.

Perjalanan itu, sebagaimana sebuah labirin, mungkin tidak selalu lurus. Tetapi justru di situlah keindahannya: di antara belokan-belokan itulah seorang aktor menemukan dirinya.

Lakon Borka akan dipentaskan Teater Lho Indonesia di Festival Teater Indonesia pada 10 Desember 2025 di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Mataram. (Aks)***

Penulis : Aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : Liputan

Berita Terkait

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak
Bahagia yang Tak Bisa Sendiri
Lalu Payasan: Menjaga Agama Lewat Adat, Merawat Sasak Lewat Tafakur
Ketika Angka Berbicara dan Konfigurasi Berubah: Pelajaran dari Pemilihan Rektor Unram 2026–2030
Mencoba Menakar Peluang Prof. Muhamad Ali, Ph.D
Ahmad Saufi: Menyambungkan Sekolah dengan Pasar Kerja
Dari Dapur ke Kanvas: Sun Noosea dan Jalan Reva Adhitama
Dari Berlin ke NTB: Diplomasi Budaya, Sastra, dan Bekal Kepemimpinan Ahmad Saufi

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 08:50 WITA

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Rabu, 14 Januari 2026 - 09:04 WITA

Bahagia yang Tak Bisa Sendiri

Minggu, 11 Januari 2026 - 12:27 WITA

Lalu Payasan: Menjaga Agama Lewat Adat, Merawat Sasak Lewat Tafakur

Jumat, 9 Januari 2026 - 23:47 WITA

Ketika Angka Berbicara dan Konfigurasi Berubah: Pelajaran dari Pemilihan Rektor Unram 2026–2030

Rabu, 7 Januari 2026 - 22:27 WITA

Mencoba Menakar Peluang Prof. Muhamad Ali, Ph.D

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA