CERAKEN.ID — Delapan tahun lalu, sebuah perjalanan sederhana ke utara menyisakan kenangan yang hingga kini masih terasa hangat. Siang itu, perjalanan ditempuh menuju Tanjung di Lombok Utara, melalui jalur berliku hutan Pusuk, ditemani hujan yang turun tidak merata, kadang deras, kadang hanya menyisakan gerimis yang menggantung di antara pepohonan.
Sebenarnya ada jalur lain yang lebih nyaman melalui pesisir Senggigi, dengan panorama laut yang memanjakan mata dan jalanan mulus yang lebih mudah dilalui. Namun, jalur itu terasa terlalu jauh untuk ditempuh.
Maka pilihan tetap jatuh pada jalan berkelok di tengah hutan, seakan perjalanan memang ingin menawarkan kesan petualangan kecil sebelum tiba di tujuan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertemuan hari itu bukan sekadar perjalanan biasa. Ia adalah janji lama yang akhirnya dapat ditunaikan.
Setelah sekian lama hanya bersenda gurau dan merencanakan pertemuan tanpa kepastian, kali ini semuanya terwujud. Kami tiba di sebuah rumah sawah yang asri, suasananya teduh, sederhana, dan terasa akrab sejak langkah pertama.
Di tempat semisal berugaq, kami duduk bersila, menikmati suasana tanpa sekat formalitas.
Pemilik rumah sawah itu, Imam Safwan, justru tiba belakangan. Namun, hal itu sama sekali tidak menjadi persoalan. Kami sudah seperti sekumpulan saudara yang pernah tercerai-berai dan kini bertemu kembali.
Siapa pun yang lebih dulu tiba, tinggal masuk saja, seakan rumah itu memang selalu terbuka bagi siapa pun yang datang dengan niat baik.
Perkenalan pribadi saya dengannya sebenarnya bermula dari cerita seorang kawan, almarhum Imtihan Taufan. Ia sering bercerita tentang kesederhanaan Safwan, tentang kekuatannya dalam menulis puisi maupun naskah pementasan teater.

Bahkan, dengan nada bercanda, ia pernah berkata, suatu saat saya juga akan merasakan kecekatannya membakar ikan di rumah sawah itu.
Hari itu, saya memang hanya melihat sisa-sisa nostalgia tempat membakar ikan yang pernah diceritakan. Namun “pertunjukan besar” yang saya temukan justru hadir dalam bentuk lain: sebuah buku kumpulan puisi berjudul Langit Seperti Cangkang Telur Bebek karya Imam Safwan.
Buku setebal sekitar 200 halaman itu memuat 146 puisi yang ditulis dalam rentang waktu sebelas tahun, dari 2002 hingga 2013. Membacanya seperti memasuki dunia yang sederhana namun dalam.
Kata-kata yang digunakan tidak rumit, tetapi mampu menyentuh pengalaman hidup yang akrab dengan keseharian.
Ada dua hal yang terasa kuat melatarbelakangi karya-karyanya. Pertama, puisinya lahir dari kehidupan sehari-hari: tentang keluarga, kerja, rindu, dan kesederhanaan hidup.
Kedua, lingkungan tempat ia tumbuh, laut dan sawah, menjadi sumber pengalaman yang diolah menjadi bahasa puitik yang jujur, seakan pengalaman itu mengalir begitu saja ke dalam kata.
Bagi saya, kekuatan itu justru menjadi keistimewaan. Puisi-puisi tersebut tidak mencoba menjadi rumit, tetapi mampu menyampaikan rasa secara langsung. Dari kesederhanaan itu, pembaca menemukan kedalaman makna.
Harapan pun muncul, semoga dua kekuatan itu terus mengantarkan Safwan berselancar di karya-karya berikutnya. Sebab, dari ruang-ruang sederhana seperti rumah sawah itulah sering kali lahir karya yang paling jujur.
Dan seperti salah satu bait puisinya yang masih teringat hingga kini:
ah,
harihari terasa sepi
harihari terasa mati
langit mulai berlumut kabut
hujan belum juga surut
terbayang mata harap yang berkarat
meringkuk dalam bayang semangkok sup
dari ayah atau ibu yang masih memburu
(Imam Safwan, 2014: hal. 96-97)
Kenangan perjalanan itu pun kini terasa seperti puisi sendiri: sunyi, sederhana, namun meninggalkan gema panjang dalam ingatan.(aks)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : liputan


































