Catatan Agus K Saputra
CERAKEN.ID- Di Senggigi, salah satu kawasan wisata paling terkenal di Lombok, kisah tentang seni tidak selalu lahir dari galeri megah atau panggung profesional. Kadang, ia bermula dari sebuah tembok kotor yang terlalu lama dibiarkan menjadi tempat “kencing berdiri”.
Dari keresahan sederhana itulah, Bambang Prasetya, perupa, musisi, sekaligus pemilik Mentez Art Gallery, memulai cerita panjang tentang kreativitas, keberanian, dan kepedulian sosial yang melekat pada dirinya.
Tiga bulan sebelum gempa besar mengguncang Lombok pada 2018, Bambang memutuskan untuk melakukan sesuatu terhadap tembok yang tiap malam menjadi sasaran tindakan tak beradab.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Daripada orang kencing berdiri di tembok, ya saya buatkan mural saja, agar mereka sadar,” kenangnya sembari tertawa getir. Keputusan tersebut tidak lahir dari sekadar ide seni, melainkan sebuah protes visual.
Ia menggarap mural itu sendirian. Berbilang bulan dikerjakannya, sering sampai dini hari. Tidak ada dukungan dari pemilik tembok, apalagi dari pemerintah. “Awalnya nggak ada yang support,” ujarnya, menyiratkan bahwa kreativitas kadang justru harus berhadapan “dengan banyak pihak”.

Namun, hasilnya justru mengejutkan. Mural itu menjadi ikon dadakan. Wisatawan mancanegara menjadikannya latar foto favorit. Situasi yang ironis, karena karya yang semula lahir dari frustrasi akhirnya berubah menjadi elemen estetis yang dicintai publik.
Bagi Bambang, mural bukan sekadar lukisan skala besar. Ia menyebutnya sebagai medium komunikasi visual yang dapat menyampaikan pesan-pesan sosial: isu lingkungan, kesadaran ruang publik, hingga kritik budaya.
“Selain memperindah ruang publik, mural sosial menjadi sarana komunikasi visual yang efektif untuk membangun kesadaran dan memicu diskusi,” tegasnya (Rabu, 03/12).
Pemikiran itu sejalan dengan praktik seni urban di banyak kota besar dunia. Mural digunakan bukan hanya untuk estetika, melainkan untuk menggugah pikiran. Senggigi, lewat tangan Bambang, secara perlahan masuk dalam arus global tersebut, meski belum tentu dipahami oleh semua warga setempat.
Dituduh ‘Kurang Waras’ karena Menyapu Jalan
Kepedulian Bambang tidak berhenti di tembok. Dua puluh tahun tinggal di Jalan Pantai Senggigi membuatnya memendam kegelisahan pada hal sederhana: sampah. Alih-alih mengeluh, ia mengambil sapu dan membersihkan jalan seorang diri.
“Kadang aku disangka kurang waras,” katanya. Tentu saja ia tidak peduli anggapan itu.
Ia bahkan mengemas keresahan itu dalam kalimat satir di media sosial:
“Terima kasih sampahmu. Senggigi terlihat jauh lebih indah.”
Unggahan itu memantik respons warganet. “Senggigi seperti bukan daerah wisata, kalau penduduk lokalnya tidak bisa dihimbau agar tidak membuang sampah sembarangan,” tulis salah satu komentar.
Kritik itu menegaskan bahwa persoalan sampah bukan hanya keluhan pribadi Bambang, tetapi juga masalah struktural yang menggerus citra pariwisata daerah.

Tak berhenti di dunia maya, Bambang kembali memakai mural sebagai medium kampanye. Ia membuat mural himbauan soal sampah, namun kembali harus menerima kenyataan: tidak semua orang mau peduli.
“Ya begitulah, pengunjung pun tak mau hirau,” ujarnya pasrah, namun tetap tidak menyerah.
Bambang datang ke Lombok pada 1990-an, selepas lulus SMA. Ia datang dengan kebutuhan sederhana: bekerja untuk bertahan hidup. Di tengah berbagai pilihan, ia memilih dua hal yang paling dekat dengan jiwanya, seni rupa dan musik.
Kini, ia dikenal sebagai perupa, pemilik galeri kecil, dan juga pemukul drum yang sering tampil di berbagai acara lokal.
Pilihan itu membawanya pada kehidupan yang tidak selalu stabil, tetapi penuh makna. Keputusannya melakukan mural sosial, membersihkan jalan, dan mengkritik lewat karya menunjukkan bahwa baginya, seni adalah tindakan.
Ia menolak menjadi perupa yang hanya berkarya di dalam studio; ia memilih berada di tengah persoalan publik.
Jejak Seni yang Menyuarakan Kepedulian
Dalam konteks pariwisata yang kerap hanya menampilkan wajah indah Senggigi, Bambang Prasetya menunjukkan sisi lain: bahwa keindahan membutuhkan kerja, kepedulian, dan keberanian untuk menegur.
Mural sosial yang ia buat bukan sekadar gambar di dinding, tetapi suara yang lantang—meski sering kali diabaikan.
Kisah Bambang adalah pengingat bahwa kreativitas bukan hanya estetika. Ia bisa menjadi bentuk perlawanan, cara untuk memperbaiki lingkungan, bahkan medium untuk mengingatkan masyarakat agar lebih manusiawi.

Di tangan Bambang, selembar tembok bisa berubah menjadi ruang dialog, dan sebatang sapu bisa menjadi simbol semangat menjaga bumi.
Senggigi pantas berterima kasih. Bukan hanya pada wisatawan yang datang, tetapi pada warganya yang memilih bertindak, meski sendirian. Bambang telah menegaskan satu hal: bahwa seni, pada akhirnya, adalah keberanian untuk peduli.
Penulis : Aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : Liputan































