Musik Teater sebagai Jantung Emosional: “Sajian Bunyi” Gde Agus Mega

Minggu, 7 Desember 2025 - 15:03 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Musik teater adalah jantung emosional pertunjukan. Ia bukan sekadar latar, melainkan energi yang menghidupkan panggung (Foto: Aks)

Musik teater adalah jantung emosional pertunjukan. Ia bukan sekadar latar, melainkan energi yang menghidupkan panggung (Foto: Aks)

CERAKEN.ID- Mataram- Musik bukanlah sekadar elemen pendukung yang mengisi ruang hening di antara dialog di dalam pertunjukan teater. Musik adalah denyut nadi emosional yang mengalir bersama aktor dan alur cerita.

Begitu pula dalam Borka 2025, sebuah lakon yang mengangkat dunia para penambang dan kekejaman ruang bawah tanah. Gde Agus Mega, seorang akademisi etnomusikologi, memegang peran vital sebagai penerjemah bunyi, yang tak hanya menciptakan ilustrasi musikal, tetapi menerjemahkan pengalaman manusiawi yang brutal, sunyi, dan penuh tekanan.

Sebagai penerjemah bunyi, tugasnya bukan sekadar menata musik yang indah atau harmonis, tetapi menggali ketegangan yang terkandung dalam naskah Borka. Ia harus mampu “menghadiri” ruang bawah tanah, ruang yang sunyi, dingin, gelap, dan penuh eksploitasi, serta mengubah suasana itu menjadi bahasa musikal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Musik harus melampaui melodi. Setidaknya, ia harus menjadi tekstur, timbre, napas, dan gema dari sebuah kehidupan yang ditekan,” ujar Agus Mega.

Agus Mega mengungkapkan bahwa ia perlu memecah keheningan dan menembus kegelapan. Dalam konteks ini, keheningan bukan kekosongan, tetapi wadah bagi penderitaan, sementara kegelapan menyimpan cerita-cerita yang tak pernah terucap.

Musik tampil untuk merangkum pengalaman para pekerja tambang: kesunyian yang terasing, suara berat yang menekan tubuh, dan ritme monoton kerja paksa yang tidak pernah berhenti. Ia perlu menghadirkan bunyi sebagai representasi isi ruang bawah tanah, bukan sekadar musik latar.

Baca Juga :  Dari Berlin ke NTB: Diplomasi Budaya, Sastra, dan Bekal Kepemimpinan Ahmad Saufi

Dari sisi teknis, ia memikirkan bagaimana timbre dan tekstur dapat mewakili suasana gelap, hampa, dan berat. Pilihan alat musik menjadi bagian penting dari proses reflektif ini.

Ia membayangkan alat musik tiup yang melengking, seperti suara alarm bahaya yang tak pernah padam, serta perkusi logam yang tajam untuk menciptakan kesan tekanan fisik, kejutan, dan ancaman yang selalu mengintai.

Bunyi-bunyi logam yang keras dan dingin membawa imaji akan alat-alat tambang, hentakan palu, dan gesekan mesin yang menguasai hidup para pekerja.

Selain itu, ambience, lapisan suara atmosferik, berfungsi menciptakan rasa keabadian dan kebuntuan. Dalam ruang tambang, waktu seakan berhenti. Melalui ambience, penonton dapat merasakan kekosongan yang terus-menerus menggantung.

Ritme yang lambat di satu sisi menghadirkan kelelahan, sementara ritme cepat yang tiba-tiba di sisi lain memberi rasa ancaman yang tidak terduga. Musik pada akhirnya menjadi lanskap emosional yang menggambarkan pertaruhan hidup mati di bawah tanah.

Borka bukan hanya kisah tentang kondisi alam yang keras, tetapi juga tentang sistem yang menindas manusia. Eksploitasi, tekanan, dan ketidakadilan di ruang tambang harus hadir dalam musik sebagai ritme mekanis yang meniru denyut mesin, conveyor, dan peralatan industri yang bekerja tanpa henti.

Baca Juga :  Ketika Angka Berbicara dan Konfigurasi Berubah: Pelajaran dari Pemilihan Rektor Unram 2026–2030

Di sinilah musik tidak lagi hanya bersifat estetis, tetapi politis. Ia memberi suara pada kondisi yang tidak terlihat, menyuarakan penderitaan yang tidak terucap.

Bagi Agus Mega, menjadi penerjemah bunyi dalam Borka, yang akan dipentaskan pada 10 Desember 2025 di Taman Budaya Mataram, adalah proses memahami tubuh, ruang, dan batin para tokohnya.  Musik harus menjadi perpanjangan dari jiwa aktor. Ia harus bernapas bersama mereka.

“Ketika aktor bergetar, musik turut bergetar. Ketika aktor terdiam, musik menahan napas. Ketika cerita mencapai puncak kekejaman atau keputusasaan, musik harus memancarkan intensitas yang menuntun pengalaman penonton,” rinci Agus Mega.

Melalui peran ini, Agus menegaskan bahwa musik teater adalah jantung emosional pertunjukan. Ia bukan sekadar latar, melainkan energi yang menghidupkan panggung.

Dalam Borka 2025, musik menjadi tubuh kedua dari lakon: ia menembus kegelapan, menerjemahkan kedalaman ruang, dan mengalir bersama aktor menuju pengalaman dramatik yang paling dalam.

Gde Agus Mega menghadirkan musik sebagai suara bawah tanah, suara manusia, mesin, dan keheningan. Sebagai penerjemah bunyi, ia bukan hanya menciptakan musik, tetapi membuka ruang bagi penonton untuk merasakan tekanan, kebisuan, dan ketidakadilan yang dialami para penambang.

Dengan demikian, Borka 2025 menjadi pertunjukan yang tidak hanya dilihat, tetapi juga didengar hingga ke lapisan emosional terdalam. (Aks)***

Penulis : Aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : Liputan

Berita Terkait

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak
Bahagia yang Tak Bisa Sendiri
Lalu Payasan: Menjaga Agama Lewat Adat, Merawat Sasak Lewat Tafakur
Ketika Angka Berbicara dan Konfigurasi Berubah: Pelajaran dari Pemilihan Rektor Unram 2026–2030
Mencoba Menakar Peluang Prof. Muhamad Ali, Ph.D
Ahmad Saufi: Menyambungkan Sekolah dengan Pasar Kerja
Dari Dapur ke Kanvas: Sun Noosea dan Jalan Reva Adhitama
Dari Berlin ke NTB: Diplomasi Budaya, Sastra, dan Bekal Kepemimpinan Ahmad Saufi

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 08:50 WITA

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Rabu, 14 Januari 2026 - 09:04 WITA

Bahagia yang Tak Bisa Sendiri

Minggu, 11 Januari 2026 - 12:27 WITA

Lalu Payasan: Menjaga Agama Lewat Adat, Merawat Sasak Lewat Tafakur

Jumat, 9 Januari 2026 - 23:47 WITA

Ketika Angka Berbicara dan Konfigurasi Berubah: Pelajaran dari Pemilihan Rektor Unram 2026–2030

Rabu, 7 Januari 2026 - 22:27 WITA

Mencoba Menakar Peluang Prof. Muhamad Ali, Ph.D

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA