Nostalgia, Suara, dan Jejak Emosi: Menyambut “Tapaq Tilas”, Single Perdana Sanggaita

Sabtu, 29 November 2025 - 18:41 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tidak mengherankan bila “Tapaq Tilas” terasa seperti memoar musikal, tempat rindu dan kedewasaan bersinggungan (Foto: ist)

Tidak mengherankan bila “Tapaq Tilas” terasa seperti memoar musikal, tempat rindu dan kedewasaan bersinggungan (Foto: ist)

Menjelang pergantian bulan menuju Desember, musisi muda Sanggaita, yang akrab disapa Amel, bersiap merilis single perdananya bertajuk “Tapaq Tilas.” Bagi sebagian orang, peluncuran single pertama adalah sekadar momentum awal memasuki industri musik.

Namun bagi Amel, lagu ini adalah “pintu kecil” yang membuka kembali ruang-ruang kenangan paling personal dalam hidupnya. Ia menulisnya bukan untuk memenuhi tuntutan pasar, bukan pula untuk sekadar menandai eksistensi di panggung musik, melainkan sebagai upaya menyuarakan hal yang paling intim: rindu.

Rindu yang Menyulam Lirik

Dalam percakapan santai namun penuh emosi, Amel bercerita panjang tentang latar belakang kreatif “Tapaq Tilas.” Ia mengakui bahwa lagu tersebut lahir dari pengalaman rindu yang tidak sederhana.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Sebenarnya lagu ini saya tulis ketika saya rindu dengan seseorang,” ungkapnya dengan nada lembut. “Rindu dengan ayah saya yang jauh dan jarang bertemu, karena udah pisah kan. Rindu dengan pasangan saya juga. Tapi semuanya sebenarnya universal.”

Bagi Amel, rindu bukan milik satu objek. Ia bisa hadir untuk ayah, kekasih, sahabat, bahkan momen-momen masa kecil yang tak mungkin terulang. Kenangan tentang ayah menjadi salah satu sumber energi kreatif paling kuat baginya.

Ia menceritakan masa SMP, saat dirinya menunggu dijemput ayah, kadang di halte sekolah, kadang di trotoar pinggir jalan. Ketika hujan turun, ia akan mengirim pesan atau bertanya, “Bapak udah sampe mana kita ni?” sambil menebak-nebak di balik jas hujan yang menutupi wajah ayahnya.

“Karena ortuku pisah, kadang transit dulu di rumah bapak baru diantar ke rumah ibu. Itu berlangsung lima tahun,” tuturnya.

Fragmen-fragmen seperti ini bukan sekadar anekdot masa remaja. Ada nuansa haru yang menyelinap dari cara Amel mengingatnya. Seakan kenangan itu membentuk sebagian besar identitas emosinya hari ini.

Tidak mengherankan bila “Tapaq Tilas” terasa seperti memoar musikal, tempat rindu dan kedewasaan bersinggungan.

Ketika ditimpali dengan kalimat “so sweet… memorable banget,” Amel spontan tertawa, tetapi sebuah kalimat yang lebih dalam meluncur sesudahnya: ada peristiwa lain yang jauh lebih menyedihkan dalam hidupnya, namun ia belum siap menuliskannya dalam lagu.

Musik sebagai lanskap luas yang tidak boleh dinilai secara sempit (Foto: ist)

“Nanti aja kalau udah…” Ia tidak melanjutkan. Seperti ada ruang emosi yang masih dijaga rapat, belum waktunya dibuka.

Saat ditanya mengenai genre dan mengapa “Tapaq Tilas” terdengar easy listening, Amel menjawab dengan jujur bahwa ia bukan tipe musisi yang fanatik pada satu warna musik.

“Kalo untuk mendengar, Amel seneng denger semuanya kok,” katanya. “Tapi untuk bernyanyi, karena Amel tau kapasitas suara Amel gimana, jadi Amel lebih seneng yang agak-agak slow gitu, menyesuaikan karakter suara aku.”

Pernyataan ini memberi gambaran bahwa Amel adalah sosok seniman yang sadar akan dirinya. Ia tidak memaksakan tren. Tidak mengejar gaya vokal yang bukan miliknya, sebuah kedewasaan yang jarang dimiliki musisi muda.

Menariknya, karakter suara yang ia temukan sebagai “slow, lembut, dan melankolis” itu justru baru ia sadari ketika memasuki bangku kuliah. Sebelumnya, Amel adalah pendengar setia musik dangdut dan koplo, lengkap dengan lagu-lagu centil yang kerap ia nikmati bersama teman-teman penari.

Ia mengakui beberapa orang pernah meremehkan selera musiknya, menyebutnya “jelek.” Amel justru membalik perspektif itu.

“Pemikiran mereka terhadap genre itu yang jelek,” katanya tegas.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Amel memahami musik sebagai lanskap luas yang tidak boleh dinilai secara sempit. Musik adalah ruang ekspresi, bukan penjara selera.

Pengalaman mendengarkan Nike Ardila, Mayang Sari, Chrisye, Betharia Sonata, hingga Inka Christie sejak SD, turut memperkaya referensi musikal yang ia bawa ke masa kini. Jejak inilah yang menjadi fondasi natural bagi kepekaan vokalnya dalam “Tapaq Tilas.”

Proses Kreatif dan Kerentanan Seniman Muda

Ketika ditanya apakah “Tapaq Tilas” merupakan single ke berapa, Amel menjawab ringan, “Single pertama ku…” Disusul tawa kecil yang menandakan campuran antara kebanggaan dan gugup. Rencana rilis bulan Desember, dengan tanggal yang masih dirahasiakan, memberi kesan bahwa proses persiapan masih berlangsung dinamis.

“Tapaq Tilas” ini adalah penanda langkah pertama seorang seniman yang sedang tumbuh (Foto: ist)

Ada sesuatu yang tulus dalam cara Amel menyikapi proses ini. Ia tidak terburu-buru menilai dirinya sebagai penyanyi profesional, tetapi juga tidak merendahkan pengalaman kreatif yang sedang ia jalani.

Ia berada di batas di mana seorang seniman mulai tumbuh namun tetap memelihara kerentanannya.

Dalam ekosistem seni, kerentanan justru adalah kekuatan. Kerentanan memungkinkan seniman berbicara jujur dan kejujuran itulah yang membuat pendengar merasa dekat. Dalam hal ini, “Tapaq Tilas” bukan hanya lagu rindu, tetapi juga pernyataan eksistensial seorang seniman muda yang sedang mencoba memahami dirinya sendiri melalui nada.

Di akhir percakapan, Amel diberi pertanyaan sederhana: jika harus memilih salah satu dari tiga aktivitas—menari, menyanyi, atau bermain teater—mana yang akan ia pilih? Ia diam lama sebelum menjawab, seakan tidak menemukan alasan untuk melepaskan salah satunya.

Dan memang, pada usia semuda ini, mengapa harus memilih?

Menari memberi tubuhnya bahasa. Menyanyi memberi hatinya suara. Teater memberi pikirannya ruang bermain. Ketiganya adalah ekosistem ekspresi yang tidak saling meniadakan, tetapi saling memperkaya.

Mungkin, justru di titik ketidakmampuan memilih itulah identitas artistik Amel sedang tumbuh: seorang seniman multidisiplin yang bergerak di antara berbagai medium, tanpa kehilangan pusat emosinya.

Dalam konteks seni kontemporer, posisi seperti ini semakin relevan. Tidak ada lagi batas kaku antara satu disiplin dengan yang lain. Seorang penyanyi bisa menjadi penari, seorang aktor bisa menjadi musisi, dan seorang pencipta lagu bisa menjadi performer di panggung-panggung yang lebih luas.

Amel tampaknya berada tepat di jalur itu.

Menjejak Masa Lalu untuk Menyapa Masa Depan

 “Tapaq Tilas” menjadi lebih dari sekadar debut. Ia adalah medium Amel untuk memaknai kembali masa kecil, relasi dengan ayah, pengalaman cinta, luka yang belum selesai, serta perjalanan mencari karakter suara yang jujur. Lagu ini adalah penanda langkah pertama seorang seniman yang sedang tumbuh, bukan hanya secara teknis, tetapi secara emosional dan eksistensial.

Dalam dunia musik yang serba cepat, kehadiran karya yang lahir dari proses introspektif seperti ini memberi harapan bahwa keautentikan masih bertahan. Amel mungkin masih menyimpan satu kisah paling menyedihkan yang belum ia berani tuangkan dalam lagu.

Tetapi justru di situlah perjalanan kreatifnya berada: berkembang perlahan, mengikuti ritme keberanian yang ia bangun dari waktu ke waktu.

“Seni adalah ruang aman saya. Dengan bergerak di atas panggung, bernyanyi, atau menjadi karakter lain dalam teater, saya bisa menjaga pikiran saya tetap penuh dan hidup. Sehingga tidak ada celah bagi rasa sepi untuk membawa kembali rasa sakit itu,” Amel tetiba menyeruak dalam diamnya.

Maka dari itu, saat  Desember tiba dan “Tapaq Tilas” resmi dirilis, publik tidak hanya akan mendengar melodi yang easy listening, tetapi juga lapisan-lapisan pengalaman yang membentuk seorang Sanggaita.

Lagu ini adalah undangan untuk berjalan kembali menelusuri jejak-jejak masa lalu, sebuah tapaq tilas yang pada akhirnya membuka pintu menuju masa depan musikal yang lebih matang (Aks).

Penulis : Aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : Liputan

Berita Terkait

Dipsy Do di Soundrenaline 2025: Dari Mataram ke Pusat Hiruk-Pikuk Modernitas
“Melet Bedait”: Ratapan Lama dalam Napas Baru Lombok Ethno Fusion
Lebih Dekat dengan Sabo, Gitaris SKID Row
Mengenang Musisi Yockie Suryo Prayogo: Kiprahnya Membesarkan Godbless
Lebih Dekat Dengan Eks Metallica: Jason Newsted
Mengenang Jimi Hendrix
Ada Ferdi Sambo di Laga Presean Perang Bintang Mayura
Angkasa Pura 1 Tawarkan Eks Bandara Selaparang Untuk Lokasi Event

Berita Terkait

Senin, 22 Desember 2025 - 15:50 WITA

Dipsy Do di Soundrenaline 2025: Dari Mataram ke Pusat Hiruk-Pikuk Modernitas

Sabtu, 20 Desember 2025 - 09:25 WITA

“Melet Bedait”: Ratapan Lama dalam Napas Baru Lombok Ethno Fusion

Sabtu, 29 November 2025 - 18:41 WITA

Nostalgia, Suara, dan Jejak Emosi: Menyambut “Tapaq Tilas”, Single Perdana Sanggaita

Sabtu, 16 September 2023 - 08:44 WITA

Lebih Dekat dengan Sabo, Gitaris SKID Row

Jumat, 15 September 2023 - 05:27 WITA

Mengenang Musisi Yockie Suryo Prayogo: Kiprahnya Membesarkan Godbless

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA