NTB Melaju di Ujung 2025: Pertumbuhan Tinggi, Kemiskinan Turun, dan Agenda Besar Pemerataan Ekonomi

Kamis, 5 Februari 2026 - 17:34 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tahun 2025 meninggalkan satu pesan penting bagi pembangunan NTB: pertumbuhan telah datang, kini saatnya memastikan bahwa kesejahteraan ikut tumbuh bersama seluruh masyarakat, dari kota hingga pelosok desa (Foto: screenshoot youtobe BPS NTB)

Tahun 2025 meninggalkan satu pesan penting bagi pembangunan NTB: pertumbuhan telah datang, kini saatnya memastikan bahwa kesejahteraan ikut tumbuh bersama seluruh masyarakat, dari kota hingga pelosok desa (Foto: screenshoot youtobe BPS NTB)

CERAKEN.ID– Oleh berbagai ukuran statistik, Nusa Tenggara Barat menutup tahun 2025 dengan catatan ekonomi yang menggembirakan. Pertumbuhan ekonomi melonjak, kemiskinan menurun, lapangan kerja bertambah, dan ketimpangan pengeluaran mulai menunjukkan perbaikan.

Angka-angka yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB memperlihatkan sebuah daerah yang sedang bergerak cepat, menjemput peluang baru di tengah perubahan struktur ekonomi nasional dan global.

Namun, seperti lazimnya setiap capaian pembangunan, keberhasilan tersebut bukan tanpa catatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di balik laju pertumbuhan yang tinggi, masih tersimpan tantangan pemerataan manfaat ekonomi, terutama bagi masyarakat pedesaan dan kelompok pekerja rentan yang belum sepenuhnya menikmati hasil pembangunan.

Berita Resmi Statistik (BRS) yang disampaikan Kepala BPS Provinsi NTB, Dr. Drs. Wahyudin, MM, Kamis (5/2/2026), menjadi potret komprehensif mengenai kondisi ekonomi dan sosial NTB pada penghujung 2025.

Dari data tersebut tampak bahwa NTB sedang berada pada fase transisi penting menuju struktur ekonomi yang lebih modern, tetapi tetap perlu memastikan bahwa tidak ada kelompok masyarakat yang tertinggal.

Ledakan Pertumbuhan di Penghujung Tahun

Triwulan IV-2025 menjadi periode yang sangat menentukan bagi kinerja ekonomi NTB. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB atas dasar harga berlaku mencapai Rp52,04 triliun, sementara atas dasar harga konstan 2010 tercatat Rp30,07 triliun.

Jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, ekonomi tumbuh 3,97 persen. Namun yang paling menonjol adalah pertumbuhan tahunan yang mencapai 12,49 persen dibanding Triwulan IV-2024. Angka ini tergolong sangat tinggi untuk ukuran pertumbuhan ekonomi daerah.

Lonjakan ini terutama ditopang oleh sektor industri pengolahan yang mencatat pertumbuhan fantastis sebesar 137,78 persen. Kenaikan tersebut erat kaitannya dengan meningkatnya aktivitas pengolahan mineral melalui fasilitas smelter yang mulai beroperasi lebih optimal.

Selama bertahun-tahun, NTB dikenal sebagai daerah penghasil bahan mentah tambang.

Kini, dengan meningkatnya aktivitas pengolahan, nilai tambah ekonomi tidak lagi sepenuhnya keluar daerah, tetapi mulai dinikmati di dalam wilayah NTB sendiri. Perubahan struktur inilah yang menjadi salah satu kunci pertumbuhan tinggi tersebut.

Selain industri pengolahan, sektor pertambangan dan penggalian juga tumbuh pesat secara triwulanan, mencapai 25,32 persen. Artinya, aktivitas hulu dan hilir berjalan beriringan, menciptakan efek berantai pada sektor lainnya.

Ekspor Menjadi Mesin Pertumbuhan Baru

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi NTB pada akhir 2025 terutama digerakkan oleh ekspor barang dan jasa yang melonjak hingga 103,11 persen secara tahunan. Kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya volume dan nilai ekspor produk pertambangan serta hasil industri pengolahan.

Ekspor yang kuat memberikan dampak langsung pada arus masuk devisa dan meningkatkan aktivitas ekonomi daerah, mulai dari logistik, perdagangan, hingga jasa keuangan. Tidak heran jika sektor jasa keuangan dan asuransi juga mencatat pertumbuhan tinggi, mencapai 28,12 persen.

Baca Juga :  Mengunci Arah, Mempercepat Gerak: Sinergi Internal Pemprov NTB di Bawah Kepemimpinan Ummi Dinda

Sementara itu, sektor perdagangan besar dan eceran tumbuh 12,29 persen. Pertumbuhan ini menandakan bahwa konsumsi masyarakat dan aktivitas distribusi barang tetap berjalan kuat, menjadi sinyal positif bahwa ekonomi tidak hanya bergerak di sektor industri besar, tetapi juga pada ekonomi sehari-hari masyarakat.

Konsumsi Rumah Tangga Tetap Menjadi Penopang

Meski ekspor dan industri menjadi bintang pertumbuhan, konsumsi rumah tangga tetap menjadi fondasi stabil ekonomi NTB. Sepanjang tahun 2025, konsumsi rumah tangga tumbuh sekitar 4,49 persen.

Kenaikan ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat relatif terjaga, meskipun tekanan harga pangan dan kebutuhan pokok masih menjadi tantangan di berbagai daerah. Program stabilisasi harga, operasi pasar, serta berbagai bantuan sosial membantu menjaga konsumsi masyarakat tetap bergerak.

Ketika konsumsi tetap tumbuh, perputaran ekonomi di tingkat lokal pun ikut berjalan. Pasar tradisional, UMKM, pedagang kecil, dan sektor jasa informal ikut menikmati dampaknya.

Lapangan Kerja Bertambah, Struktur Kerja Mulai Berubah

Pertumbuhan ekonomi yang terjadi ternyata berdampak pada kondisi ketenagakerjaan. Pada November 2025, jumlah angkatan kerja NTB mencapai 3,24 juta orang, meningkat dibanding Agustus 2025.

Penduduk yang bekerja tercatat sebanyak 3,14 juta orang. Tambahan tenaga kerja terbesar terjadi di sektor konstruksi, yang menyerap hampir 29 ribu tenaga kerja baru. Lonjakan ini berkaitan dengan berbagai program pembangunan perumahan dan infrastruktur.

Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS), perbaikan rumah tidak layak huni, serta berbagai program bedah rumah yang dilakukan pemerintah dan lembaga sosial ikut menciptakan lapangan kerja di tingkat lokal.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah menghadirkan ratusan dapur pelayanan di seluruh kabupaten/kota juga membuka peluang kerja baru, khususnya bagi tenaga kerja lokal di sektor jasa makanan dan logistik.

Tingkat Pengangguran Terbuka turun menjadi 3,05 persen, meski penurunannya relatif tipis. Namun, kenaikan jumlah pekerja formal menjadi 33,45 persen menunjukkan adanya peningkatan kualitas pekerjaan.

Tantangan: Banyak yang Bekerja, Tapi Belum Optimal

Meski jumlah pekerja meningkat, data juga menunjukkan adanya kenaikan pekerja paruh waktu dan setengah pengangguran. Artinya, sebagian masyarakat memang bekerja, tetapi jam kerja atau pendapatan yang diperoleh belum optimal.

Fenomena ini lazim terjadi ketika ekonomi sedang dalam fase transisi. Lapangan kerja bertambah, tetapi kualitas pekerjaan masih perlu diperbaiki melalui peningkatan keterampilan tenaga kerja dan diversifikasi sektor usaha.

Di sisi lain, sektor pertanian mengalami penurunan tenaga kerja seiring berkurangnya luas panen padi pada periode tersebut. Penurunan produksi gabah secara musiman ikut mengurangi kebutuhan tenaga kerja di sektor ini.

Baca Juga :  Gerbang Sangkareang Antar Wali Kota Mataram Raih Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026

Perubahan ini sekaligus menunjukkan bahwa transformasi ekonomi NTB sedang berlangsung, dengan pergeseran tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor konstruksi, jasa, dan industri.

Kemiskinan Menurun, Tapi Perlu Konsistensi

Salah satu kabar paling menggembirakan datang dari data kemiskinan. Pada September 2025, persentase penduduk miskin NTB turun menjadi 11,38 persen, dengan jumlah penduduk miskin sekitar 637 ribu orang.

Dengan kata lain, persentase penduduk miskin pada September 2025 sebesar 11,38 persen, menurun 0,40 persen poin terhadap Maret 2025 (ini periode Iqbal-Dinda) dan menurun 0,53 persen poin terhadap September 2024.

Penurunan terjadi baik di perkotaan maupun perdesaan. Wilayah perdesaan bahkan mencatat penurunan jumlah penduduk miskin lebih besar dibanding perkotaan.

Program bantuan sosial seperti PKH, bantuan sembako, dan berbagai program perlindungan sosial lainnya terbukti membantu masyarakat bertahan di tengah tekanan ekonomi.

Program MBG serta pengembangan Sekolah Rakyat juga diharapkan mampu memutus rantai kemiskinan jangka panjang melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Namun, jumlah penduduk miskin yang masih di atas setengah juta orang menunjukkan bahwa pekerjaan rumah pengentasan kemiskinan belum selesai.

Ketimpangan Mulai Membaik, Tapi Desa Masih Tertinggal

Tingkat ketimpangan pengeluaran di NTB yang diukur melalui gini ratio turun menjadi 0,364 pada September 2025. Berdasarkan ukuran Bank Dunia, ketimpangan pengeluaran NTB masuk kategori rendah.

Namun jika dilihat lebih dalam, terdapat perbedaan dinamika antara perkotaan dan perdesaan. Ketimpangan di kota menurun, tetapi di desa justru sedikit meningkat.

Artinya, manfaat pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum sepenuhnya menjangkau wilayah pedesaan secara merata. Pertumbuhan industri dan ekspor masih terkonsentrasi pada kawasan tertentu.

Ini menjadi sinyal bahwa strategi pembangunan berikutnya perlu lebih fokus pada pemerataan wilayah, penguatan ekonomi desa, dan peningkatan akses pasar bagi pelaku usaha lokal.

Momentum yang Tidak Boleh Terlewat

Data BPS memperlihatkan bahwa NTB memiliki momentum ekonomi yang kuat pada akhir 2025. Pertumbuhan tinggi, peningkatan ekspor, bertambahnya lapangan kerja, dan penurunan kemiskinan menjadi fondasi penting menuju pembangunan yang lebih maju.

Namun, tantangan berikutnya tidak lagi hanya mengejar pertumbuhan, melainkan memastikan pertumbuhan tersebut inklusif dan berkelanjutan. Industri besar perlu diiringi penguatan UMKM lokal, peningkatan keterampilan tenaga kerja, serta pemerataan investasi antarwilayah.

Jika momentum ini mampu dikelola dengan baik, NTB memiliki peluang besar untuk keluar dari ketergantungan pada sektor primer menuju ekonomi berbasis nilai tambah yang lebih kuat.

Akhirnya, tahun 2025 meninggalkan satu pesan penting bagi pembangunan NTB: pertumbuhan telah datang, kini saatnya memastikan bahwa kesejahteraan ikut tumbuh bersama seluruh masyarakat, dari kota hingga pelosok desa. (aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : Humas BPS Prov. NTB

Berita Terkait

Bandara Lombok dan Mandalika: Menyusun Gerbang Baru Pariwisata Kelas Dunia
Menata Izin Tambang Rakyat di NTB: Antara Aspirasi Publik dan Tanggung Jawab Lingkungan
Negara Hadir, Kekerasan Seksual Ditolak Tanpa Kompromi
Pengunduran Diri Pimpinan OJK dan BEI: Tanggung Jawab Moral di Tengah Upaya Pemulihan Pasar Modal
Meluruskan Polemik Mutasi ASN di NTB: Antara Hak Pribadi dan Kewenangan Administratif
Merawat Ikatan Diaspora Lombok di Labuan Bajo
Dari Komitmen ke Implementasi: Bali–NTB–NTT Mantapkan Kerja Sama Regional
Dari Dapur ke Lingkungan: Tempah Dedoro dan Ikhtiar Mataram Mengelola Sampah

Berita Terkait

Kamis, 5 Februari 2026 - 17:34 WITA

NTB Melaju di Ujung 2025: Pertumbuhan Tinggi, Kemiskinan Turun, dan Agenda Besar Pemerataan Ekonomi

Rabu, 4 Februari 2026 - 22:50 WITA

Bandara Lombok dan Mandalika: Menyusun Gerbang Baru Pariwisata Kelas Dunia

Sabtu, 31 Januari 2026 - 22:25 WITA

Menata Izin Tambang Rakyat di NTB: Antara Aspirasi Publik dan Tanggung Jawab Lingkungan

Sabtu, 31 Januari 2026 - 15:55 WITA

Negara Hadir, Kekerasan Seksual Ditolak Tanpa Kompromi

Jumat, 30 Januari 2026 - 22:13 WITA

Pengunduran Diri Pimpinan OJK dan BEI: Tanggung Jawab Moral di Tengah Upaya Pemulihan Pasar Modal

Berita Terbaru

Mr. Red (kiri), Kim Dong Pil (tengah), Lalu Syaukani (kanan), Karya tersebut merupakan hasil pembacaan visual Kim terhadap lanskap persawahan Tetebatu yang ia rekam pada Mei 2025 (Foto: aks)

BUDAYA

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil

Sabtu, 7 Feb 2026 - 23:01 WITA

Dari hobi suka mengoleksi kompor portable dan senter, tersirat bahwa ia tak membanggakan benda-benda itu. (Foto: ist)

TOKOH & INSPIRASI

Di Balik Hobi Unik Andi Irawan: Berburu Kompor Portable dan Senter Koleksi

Sabtu, 7 Feb 2026 - 19:35 WITA