Merawat Ikatan Diaspora Lombok di Labuan Bajo

Kamis, 29 Januari 2026 - 11:40 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ia menekankan pentingnya peran paguyuban sebagai jembatan budaya, bukan sekadar wadah kekeluargaan (Foto: DiskominfotikNTB)

Ia menekankan pentingnya peran paguyuban sebagai jembatan budaya, bukan sekadar wadah kekeluargaan (Foto: DiskominfotikNTB)

CERAKEN.ID— Manggarai Barat, NTT — Di tengah padatnya agenda penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Regional Bali–Nusa Tenggara Barat–Nusa Tenggara Timur (Sunda Kecil), Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhamad Iqbal menyempatkan diri bersilaturahmi dengan Paguyuban Ikatan Keluarga Besar Lombok (IKBAL) Labuan Bajo.

Pertemuan tersebut menjadi ruang hangat untuk menegaskan peran diaspora Lombok dalam membangun harmoni sosial dan kebudayaan di tanah perantauan.

Silaturahmi itu bukan sekadar temu kangen. Di Labuan Bajo, kawasan strategis pariwisata super prioritas, masyarakat Lombok telah tumbuh sebagai bagian dari denyut kehidupan sosial dan ekonomi setempat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketua Paguyuban IKBAL Labuan Bajo, Suhaeli, menyampaikan bahwa jumlah warga Lombok yang tergabung dalam paguyuban mencapai sekitar 500 orang.

Mereka berasal dari beragam latar belakang profesi, mulai dari pedagang, anggota TNI dan Polri, hingga aparatur sipil negara. Meski demikian, mayoritas warga Lombok di Labuan Bajo menggantungkan hidup pada sektor perdagangan.

Di luar aktivitas ekonomi, Paguyuban IKBAL juga menaruh perhatian serius pada bidang pendidikan dan sosial keagamaan. Suhaeli melaporkan, paguyuban telah mendirikan Sekolah Islam Terpadu (IT) yang kini menampung sekitar 300 siswa.

Baca Juga :  Regenerasi Kepemimpinan MGPA dan Harapan Baru Sport Tourism Mandalika

Sekolah tersebut tumbuh dari embrio sederhana, bermula hanya dengan 20 siswa saat pertama kali berdiri, hingga kini menjadi salah satu ruang pembelajaran penting bagi masyarakat setempat.

Tak hanya pendidikan formal, paguyuban juga aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dan berupaya membaur dengan masyarakat asli Labuan Bajo. Upaya tersebut menjadi fondasi penting bagi terciptanya kohesi sosial di wilayah multikultural, sekaligus membantah stigma eksklusivitas komunitas perantau.

Menanggapi paparan tersebut, Gubernur NTB yang akrab disapa Miq Iqbal menyampaikan apresiasi atas kontribusi positif warga Lombok di Labuan Bajo. Ia menekankan pentingnya peran paguyuban sebagai jembatan budaya, bukan sekadar wadah kekeluargaan.

Miq Iqbal mendorong agar Paguyuban IKBAL dapat bertransformasi menjadi duta budaya NTB, dengan menampilkan nilai-nilai budaya Lombok secara santun, beretika, dan kontekstual.

“Perlihatkan bahwa kita adalah bagian dari masyarakat Labuan Bajo. Jaga dan hormati nilai-nilai adat dan budaya setempat, sambil tetap memegang teguh adat dan budaya Lombok sebagai pemersatu dan penjaga marwah kesasak-an kita,” ujarnya.

Lebih jauh, Gubernur NTB menilai bahwa keberlanjutan gerakan sosial dan keagamaan paguyuban memerlukan fondasi kelembagaan yang lebih kuat. Karena itu, ia mendorong agar Paguyuban IKBAL segera membentuk yayasan resmi sebagai payung hukum yang memungkinkan pengelolaan program sosial, ekonomi, dan keagamaan secara lebih terstruktur dan profesional.

Baca Juga :  Suara Kesetaraan dari Bumi Gora

“Saya sangat mendukung keberadaan saudara-saudara kita di Labuan Bajo. Segera bentuk yayasan resmi agar gerakan sosial, ekonomi, dan keagamaan bisa dikembangkan lebih luas dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya.

Sebagai wujud konkret dukungan terhadap pelestarian budaya, Miq Iqbal juga menyatakan komitmennya untuk membantu pengadaan Gendang Beleq bagi Paguyuban IKBAL setelah yayasan resmi terbentuk.

Bantuan tersebut diharapkan menjadi medium diplomasi budaya memperkenalkan seni dan tradisi Lombok sebagai bagian dari kekayaan budaya Nusantara di wilayah timur Indonesia.

“Ini sekaligus untuk memperkenalkan budaya dan kesenian Lombok sebagai bagian dari kekayaan budaya Nusantara,” pungkas Miq Iqbal.

Pertemuan singkat namun bermakna itu menegaskan bahwa diaspora bukan sekadar entitas demografis, melainkan aktor penting dalam merawat persatuan, memperkaya kebudayaan lokal, dan membangun Indonesia dari pinggiran.

Di Labuan Bajo, warga Lombok membuktikan bahwa identitas budaya dapat dirawat tanpa kehilangan semangat kebersamaan sebagai satu bangsa. (AKA/DiskominfotikNTB)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita: Akun Pemprov NTB

Berita Terkait

Menata Ulang BPBD: Dari Pemadam Krisis Menjadi Pengelola Risiko Bencana
Suara Kesetaraan dari Bumi Gora
Rahmatan Lil Alamin di Panggung Sasambo
Menjaga Ingatan, Mencegah Kehilangan: Simulasi Kebakaran di Museum Negeri NTB
Pancasila dari Bumi Gora untuk Perdamaian Dunia
Desa Berdaya, Menanam Harapan dari Akar Pembangunan NTB
Iduladha di Bumi Gora dan Seruan Merawat Kepedulian
Akademi Isin Angsat dan Ikhtiar Membaca Laut dari Perspektif Seni

Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 12:15 WITA

Menata Ulang BPBD: Dari Pemadam Krisis Menjadi Pengelola Risiko Bencana

Jumat, 5 Juni 2026 - 10:59 WITA

Suara Kesetaraan dari Bumi Gora

Kamis, 4 Juni 2026 - 12:36 WITA

Rahmatan Lil Alamin di Panggung Sasambo

Selasa, 2 Juni 2026 - 18:17 WITA

Menjaga Ingatan, Mencegah Kehilangan: Simulasi Kebakaran di Museum Negeri NTB

Selasa, 2 Juni 2026 - 17:23 WITA

Pancasila dari Bumi Gora untuk Perdamaian Dunia

Berita Terbaru

Diperlukan gerakan kolektif yang menjangkau keluarga, sekolah, komunitas, hingga ruang publik agar perubahan dapat berlangsung secara berkelanjutan (Foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

INFORIAL

Suara Kesetaraan dari Bumi Gora

Jumat, 5 Jun 2026 - 10:59 WITA

BEDAH BUKU

Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman

Jumat, 5 Jun 2026 - 00:42 WITA