CERAKEN.ID — Di tengah berbagai tantangan pembangunan daerah, desa kembali ditempatkan sebagai titik awal perubahan.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat melalui Program Desa Berdaya Tematik menghadirkan pendekatan yang tidak sekadar menyalurkan bantuan keuangan, tetapi juga membangun keyakinan bahwa desa memiliki kapasitas menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Di Kabupaten Lombok Timur, program yang memberikan dukungan sebesar Rp300 juta bagi setiap desa penerima manfaat itu disambut dengan antusias oleh para kepala desa dan masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sambutan tersebut mencerminkan harapan yang lebih besar daripada angka bantuan yang diterima.
Bagi desa-desa penerima, dana itu dipandang sebagai modal untuk mengembangkan potensi lokal, memperkuat ketahanan pangan, memperluas peluang usaha, hingga menggerakkan sektor pariwisata yang berbasis pada karakter dan kekayaan wilayah masing-masing.
Menguatkan Ketahanan Pangan dari Desa
Di Desa Masbagik Utara Baru, Kecamatan Masbagik, bantuan tersebut diarahkan untuk memperkuat budidaya ikan nila yang selama ini telah menjadi salah satu usaha unggulan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi, tetapi juga memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Kepala Desa Masbagik Utara Baru, Khaerul Ihsan, melihat program ini sebagai bentuk keberpihakan pemerintah terhadap desa. Menurutnya, desa merupakan fondasi utama pembangunan yang perlu diperkuat melalui dukungan yang tepat sasaran.
“Program ini menunjukkan keberpihakan pemerintah kepada desa sebagai pilar utama pembangunan. Dengan dukungan yang tepat, desa akan semakin mandiri, produktif, dan mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat,” ujarnya.
Budidaya ikan nila yang dikembangkan nantinya diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar lokal dan usaha kuliner masyarakat, tetapi juga menopang kebutuhan bahan pangan bagi Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Kecamatan Masbagik.
Dengan demikian, program desa berdaya tidak hanya berbicara soal ekonomi, tetapi juga berkontribusi terhadap upaya peningkatan kualitas gizi masyarakat.
Optimisme serupa datang dari Jamiludin, pengelola budidaya ikan nila BUMDes setempat. Ia menilai bantuan tersebut akan memperkuat usaha yang telah dirintis masyarakat selama ini.
“Dengan adanya program ini, kelompok petani ikan yang dibina desa akan semakin berkembang. Kami optimistis mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal, usaha kuliner masyarakat, serta mendukung kebutuhan bahan pangan bagi Dapur MBG yang ada di wilayah kami,” katanya.
Dari Potensi Lokal Menuju Kemandirian Ekonomi
Desa Sukamulia dan Pringgasela melihat program ini sebagai peluang untuk mempercepat pengembangan sektor unggulan yang selama ini telah tumbuh di masyarakat. Di Sukamulia, perhatian diarahkan pada penguatan pariwisata dan ketahanan pangan berbasis kuliner lokal.
Berbagai tahapan persiapan, mulai dari musyawarah desa hingga penyusunan desain kegiatan, telah dilakukan agar program berjalan efektif dan berkelanjutan.
Kepala Desa Sukamulia, Ismail, menilai keberhasilan pembangunan akan lebih mudah dicapai ketika desa diberi ruang dan kepercayaan untuk mengelola program secara langsung.
“Ketika desa diberikan kepercayaan sebagai pengelola langsung, maka program dapat dijalankan lebih cepat, tepat sasaran, dan sesuai kebutuhan masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Desa Pringgasela menempatkan ketahanan pangan, pariwisata, dan pelestarian lingkungan sebagai fokus utama. Pilihan ini menunjukkan kesadaran bahwa pembangunan ekonomi yang berkelanjutan harus berjalan seiring dengan upaya menjaga sumber daya alam dan identitas lokal.
Kepala Desa Pringgasela, Zohri Azizan, menegaskan bahwa program tersebut berpotensi memperkuat Pendapatan Asli Desa (PADes) yang sangat dibutuhkan untuk membiayai berbagai kebutuhan pembangunan.
“Program Desa Berdaya sangat baik untuk meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes), terutama di tengah tantangan fiskal yang dihadapi desa saat ini,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mengingatkan bahwa kemandirian desa bukan hanya soal kemampuan menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga kemampuan membiayai kebutuhan pembangunan secara berkelanjutan.
Kolaborasi untuk Mewujudkan NTB Makmur Mendunia
Di Desa Pesanggrahan, Kecamatan Montong Gading, bantuan program diarahkan pada penguatan sektor ketahanan pangan dengan melibatkan tokoh masyarakat, pemuda, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Pendekatan partisipatif ini menjadi salah satu kunci keberhasilan program agar manfaatnya tidak berhenti pada satu kelompok tertentu, melainkan dirasakan secara luas oleh masyarakat.
Kepala Desa Pesanggrahan, Agus Muliadi, berharap program ini terus diperkuat melalui koordinasi lintas sektor sehingga pelaksanaannya semakin efektif.
“Program ini sangat baik untuk mendorong kemajuan desa dan meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat,” katanya.
Pandangan para kepala desa tersebut sejalan dengan semangat yang disampaikan Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik NTB sekaligus Juru Bicara Pemerintah Provinsi NTB, Dr. H. Ahsanul Halik.
Baginya, Program Desa Berdaya bukan sekadar bantuan keuangan, melainkan investasi pembangunan jangka panjang yang menempatkan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi.
“Yang terpenting adalah program ini dikelola dengan baik, jujur, transparan, dan melibatkan masyarakat. Ketika desa bergerak, ekonomi rakyat tumbuh. Ketika ekonomi desa tumbuh, kesejahteraan masyarakat akan meningkat. Inilah semangat Desa Berdaya yang diharapkan menjadi penggerak terwujudnya NTB Makmur Mendunia,” tegasnya.
Pada akhirnya, Program Desa Berdaya Tematik menawarkan satu pelajaran penting: pembangunan yang kuat tidak selalu harus dimulai dari kota-kota besar. Ketika desa diberi kepercayaan, sumber daya, dan ruang untuk berkembang sesuai potensinya, maka desa mampu menjadi lokomotif perubahan.
Dari kolam ikan di Masbagik, kuliner desa di Sukamulia, bentang wisata dan lingkungan di Pringgasela, hingga penguatan pangan di Pesanggrahan, tumbuh keyakinan bahwa masa depan pembangunan NTB dapat berakar dari desa-desa yang mandiri, produktif, dan berdaya.
Di sanalah cita-cita mewujudkan NTB Makmur Mendunia menemukan pijakan yang paling kokoh: masyarakat yang bergerak dari bawah, bersama-sama membangun kesejahteraan dari kampung halamannya sendiri. (*)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: ntbprov.go.id































































