CERAKEN.ID — Di tengah meningkatnya krisis ekologis dan perubahan lanskap pesisir di kawasan timur Indonesia, seni kembali menemukan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus medium pembacaan sosial.
Melalui kerja sama antara Yayasan Pasir Putih Lombok dan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya, lahirlah MTN Lab: Inkubasi & Residensi Bali–Nusa Tenggara 2026 bertajuk “Akademi Isin Angsat: Ekologi Bahari”.
Program ini menjadi ruang pengembangan praktik artistik berbasis riset yang mempertemukan seni, ekologi, dan kehidupan masyarakat pesisir dalam satu proses belajar yang kolaboratif dan intensif.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bersama Bangsal Menggawe, program tersebut diarahkan untuk memperluas cara pandang seniman terhadap persoalan lingkungan hidup yang semakin mendesak di kawasan Bali dan Nusa Tenggara.
Akademi Isin Angsat hadir bukan sekadar sebagai laboratorium seni, tetapi juga sebagai ruang dialog yang menempatkan laut, pesisir, dan masyarakat sebagai sumber pengetahuan yang hidup.
Seni sebagai Medium Membaca Krisis Ekologi
Akademi Isin Angsat lahir dari kesadaran bahwa krisis ekologis tidak hanya menjadi persoalan ilmiah semata, tetapi juga persoalan sosial dan kebudayaan. Perubahan iklim, kerentanan pesisir, hingga tekanan pembangunan yang terus berlangsung menuntut cara pandang baru yang lebih reflektif dan lintas disiplin.
Dalam konteks itu, seni diposisikan sebagai metode produksi pengetahuan yang mampu membaca perubahan ekologis secara lebih dekat, personal, dan kontekstual. Para peserta didorong untuk mengembangkan pendekatan artistik yang berpijak pada realitas masyarakat pesisir serta membuka kemungkinan baru dalam praktik seni kontemporer.
Forum masterclass daring yang berlangsung sepanjang Mei hingga Juni 2026 akan menghadirkan seniman, kurator, peneliti, dan praktisi lintas disiplin dari berbagai latar belakang. Pertemuan tersebut dirancang sebagai ruang pertukaran gagasan sekaligus pengayaan metode riset artistik yang relevan dengan isu-isu ekologi hari ini.
Peserta diajak membaca laut dan pesisir bukan hanya sebagai bentang geografis, melainkan sebagai ruang ingatan, ruang ekonomi, ruang budaya, dan ruang keberlangsungan hidup masyarakat.
Residensi di Lombok Utara dan Pertemuan dengan Masyarakat Pesisir
Puncak program akan berlangsung melalui residensi selama satu bulan penuh pada 1–31 Juli 2026 di Lombok Utara yang diikuti enam peserta terpilih. Selama residensi, para peserta akan melakukan riset lapangan, membangun dialog dengan masyarakat lokal, hingga menyusun proposal proyek seni yang berpotensi direalisasikan.
Pemilihan Lombok Utara bukan tanpa alasan. Wilayah tersebut menyimpan dinamika ekologis dan sosial yang kuat, sekaligus menghadirkan beragam narasi tentang relasi manusia dan lingkungan pesisir yang terus berubah akibat tekanan pembangunan serta perubahan iklim.
Program ini juga menjadi bagian dari Bangsal Menggawe 2026 bertajuk “Gerimis Sepanjang Tahun”, sebuah inisiatif kebudayaan yang diinisiasi Yayasan Pasir Putih Lombok untuk memperkuat praktik seni sebagai medium refleksi sosial dan respons terhadap krisis ekologis.
Melalui pendekatan berbasis riset dan kerja kolektif, Bangsal Menggawe berupaya menciptakan ruang belajar alternatif yang membuka kemungkinan baru bagi praktik seni di kawasan Indonesia timur, khususnya Bali dan Nusa Tenggara.
Membangun Kesadaran Baru tentang Laut dan Masa Depan
Direktur Yayasan Pasir Putih Lombok, Muhammad Gozali, menegaskan bahwa Akademi Isin Angsat diharapkan menjadi ruang temu bagi generasi muda kreatif yang memiliki perhatian terhadap isu lingkungan dan kehidupan pesisir.
“Tantangan ekologis hari ini membutuhkan pendekatan yang lebih lintas disiplin, termasuk melalui praktik seni yang mampu menghadirkan pengalaman, empati, dan pembacaan kritis terhadap realitas yang sedang berlangsung,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa seni hari ini tidak lagi hanya dipahami sebagai produksi estetika semata, melainkan sebagai cara membangun pengetahuan dan kesadaran bersama mengenai relasi manusia dan lingkungan hidup.
Sementara itu, MTN Seni Budaya sebagai program prioritas nasional Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia terus mendorong pengembangan talenta seni budaya Indonesia secara terstruktur dan berkelanjutan.
Melalui skema MTN Lab bidang Seni Rupa, program tersebut membuka akses pengembangan kapasitas, jejaring kolaborasi, hingga peluang presentasi karya di tingkat nasional maupun global.
Kolaborasi dengan Bangsal Menggawe menjadi bagian dari upaya memperluas ekosistem seni yang berpihak pada isu-isu sosial dan lingkungan yang aktual.
Melalui Akademi Isin Angsat: “Ekologi Bahari”, Yayasan Pasir Putih Lombok bersama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia berharap lahir praktik-praktik artistik yang tidak hanya menghadirkan karya, tetapi juga membangun kesadaran baru tentang relasi manusia, laut, dan lingkungan hidup.
Pada akhirnya, program ini menjadi penanda bahwa pesisir bukan sekadar ruang geografis di tepian laut. Ia adalah ruang pengetahuan, ruang hidup, sekaligus ruang masa depan yang perlu dijaga bersama melalui kerja seni, riset, dan kolaborasi lintas disiplin. (*)
Editor : ceraken editor































































