Menjaga Ingatan, Mencegah Kehilangan: Simulasi Kebakaran di Museum Negeri NTB

Selasa, 2 Juni 2026 - 18:17 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Simulasi kebakaran mengingatkan, pelestarian budaya bukan hanya soal merawat benda-benda lama, tetapi juga memastikan benda-benda itu tetap ada untuk generasi mendatang (Foto: museum ntb / ceraken.id)

Simulasi kebakaran mengingatkan, pelestarian budaya bukan hanya soal merawat benda-benda lama, tetapi juga memastikan benda-benda itu tetap ada untuk generasi mendatang (Foto: museum ntb / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Museum sering dipahami sebagai ruang senyap yang menyimpan benda-benda masa lalu. Padahal, di balik vitrinnya yang tenang, tersimpan tanggung jawab besar untuk menjaga jejak peradaban dari berbagai ancaman, termasuk bencana kebakaran.

Kesadaran itulah yang tampak dalam kegiatan simulasi kebakaran yang digelar Museum Negeri NTB bekerja sama dengan BPBD Provinsi NTB serta Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Lombok Barat, Selasa (2/6/2026).

Kegiatan yang melibatkan seluruh pegawai museum dan taman budaya tersebut bukan sekadar latihan teknis menghadapi api. Ia merupakan upaya membangun kesadaran bahwa warisan budaya memerlukan perlindungan yang sama seriusnya dengan upaya pelestarian itu sendiri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebab, sekali koleksi bersejarah musnah, tidak ada teknologi yang mampu mengembalikannya secara utuh.

Belajar dari Tragedi yang Pernah Terjadi

Kepala Museum Negeri NTB, Ahmad Nuralam, menegaskan bahwa simulasi kebakaran telah menjadi agenda rutin tahunan yang dilaksanakan bersama BPBD Provinsi NTB serta Dinas Pemadam Kebakaran Lombok Barat. Meski tidak selalu tercantum sebagai program utama tahunan, kegiatan ini dianggap sebagai kebutuhan mendasar dalam tata kelola museum.

“Simulasi ini kami lakukan setiap tahun bekerja sama dengan BPBD Provinsi NTB serta Damkar Lombok Barat. Kegiatan ini sangat penting karena museum menyimpan koleksi bersejarah yang harus dilindungi dari berbagai risiko bencana,” ujar Nuralam.

Pernyataan tersebut mengandung kesadaran penting bahwa pengelolaan museum tidak berhenti pada konservasi benda. Pengelola juga harus mampu mengantisipasi berbagai kemungkinan yang dapat mengancam keberadaan koleksi.

Simulasi kebakaran sebagai bagian dari standar pengelolaan museum modern (Foto: museum ntb / ceraken.id)

Pengalaman sejumlah museum yang pernah mengalami kebakaran menjadi pengingat yang tidak boleh diabaikan. Termasuk peristiwa yang menimpa Museum Nasional Indonesia beberapa waktu lalu, yang membuka mata banyak pihak tentang rapuhnya warisan sejarah ketika berhadapan dengan bencana.

Baca Juga :  Lunyuk, Hutan, dan Cita-Cita Anak-Anak Desa

Karena itu, simulasi bukan hanya soal mempraktikkan penggunaan alat pemadam atau prosedur evakuasi. Ia menjadi ruang belajar untuk mengenali risiko, memahami jalur penyelamatan, dan membangun refleks kolektif saat menghadapi keadaan darurat.

“Melalui simulasi ini, kami ingin memastikan seluruh pegawai memahami langkah-langkah yang harus dilakukan apabila terjadi keadaan darurat. Ini merupakan bagian dari mitigasi risiko untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak kita inginkan sekaligus memahami situasi yang kemungkinan dapat terjadi,” katanya.

Kunci Utamanya: Tidak Panik

Dalam setiap bencana, kepanikan sering kali menjadi faktor yang memperbesar kerugian. Kesadaran itulah yang ditekankan Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan BPBD Provinsi NTB, Dodi Kurniawan.

Menurutnya, langkah Museum Negeri NTB yang konsisten menyelenggarakan simulasi kebakaran yang bekerjasama dengan BPBD Provinsi NTB patut diapresiasi karena membantu membangun budaya kesiapsiagaan di lingkungan kerja.

“Menurut kami ini kegiatan yang sangat baik dan perlu dipertahankan ke depannya. Kunci dalam menghadapi kondisi kedaruratan adalah tidak panik, sehingga kita dapat bertindak lebih tenang dan tepat saat mengatasi kejadian,” ujar Dodi.

Ungkapan tersebut terdengar sederhana, tetapi justru menjadi fondasi utama dalam penanganan bencana. Ketenangan memungkinkan seseorang mengambil keputusan yang benar dalam waktu singkat. Sebaliknya, kepanikan sering melahirkan kesalahan yang berakibat fatal.

Simulasi bukan hanya soal mempraktikkan penggunaan alat pemadam atau prosedur evakuasi (Foto: museum ntb / ceraken.id)

Dodi juga menekankan pentingnya pemahaman menyeluruh mengenai pencegahan, pemadaman, hingga penanganan pascakejadian. Dalam konteks museum, kemampuan tersebut menjadi semakin penting karena yang dipertaruhkan bukan hanya keselamatan manusia, tetapi juga keselamatan benda-benda budaya yang memiliki nilai sejarah dan identitas kolektif masyarakat.

Baca Juga :  Regenerasi Kepemimpinan MGPA dan Harapan Baru Sport Tourism Mandalika
Museum Modern dan Budaya Mitigasi

Kepala Dinas Kebudayaan NTB, Muhamad Ihwan, melihat simulasi kebakaran sebagai bagian dari standar pengelolaan museum modern. Menurutnya, perlindungan koleksi harus menjadi prioritas yang berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas layanan kepada masyarakat.

“Apa yang dilakukan museum memang seharusnya seperti ini. Koleksi yang tersimpan di sini bukan barang biasa, melainkan benda-benda bersejarah yang memiliki nilai budaya tinggi. Karena itu, mitigasi risiko menjadi sangat penting,” katanya.

Pandangan tersebut menunjukkan perubahan cara berpikir dalam dunia permuseuman. Museum masa kini tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan artefak, melainkan institusi yang menerapkan standar profesional dalam pengelolaan risiko.

Karena itu, keberadaan prosedur operasional standar (SOP) kebakaran menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar. SOP bukan sekadar dokumen administratif yang tersimpan di lemari arsip, melainkan panduan hidup yang harus dipahami dan dipraktikkan oleh seluruh pegawai.

“Karena museum ini sudah cukup modern dan terus berupaya meningkatkan standarnya, maka SOP kebakaran menjadi bagian yang wajib dimiliki. Ini harus dipelajari dan dipahami dengan baik oleh seluruh pegawai agar menjadi standar dalam mengantisipasi berbagai risiko yang mungkin terjadi,” pungkas Ihwan.

Pada akhirnya, simulasi kebakaran yang digagas Ahmad Nuralam bersama jajaran Museum Negeri NTB mengingatkan bahwa pelestarian budaya bukan hanya soal merawat benda-benda lama, tetapi juga memastikan benda-benda itu tetap ada untuk generasi mendatang.

Di ruang yang menyimpan memori kolektif masyarakat, kesiapsiagaan menjadi bentuk penghormatan terhadap sejarah. Sebab menjaga warisan budaya sesungguhnya berarti menjaga kemungkinan masa depan untuk tetap belajar dari masa lalu. (*)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: Museum NTB

Berita Terkait

Rahmatan Lil Alamin di Panggung Sasambo
Pancasila dari Bumi Gora untuk Perdamaian Dunia
Desa Berdaya, Menanam Harapan dari Akar Pembangunan NTB
Iduladha di Bumi Gora dan Seruan Merawat Kepedulian
Akademi Isin Angsat dan Ikhtiar Membaca Laut dari Perspektif Seni
Menjaga Akurasi di Tengah Banjir Informasi Digital
Menata Pondasi UMKM NTB Menuju Pasar Global
Regenerasi Kepemimpinan MGPA dan Harapan Baru Sport Tourism Mandalika

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 12:36 WITA

Rahmatan Lil Alamin di Panggung Sasambo

Selasa, 2 Juni 2026 - 18:17 WITA

Menjaga Ingatan, Mencegah Kehilangan: Simulasi Kebakaran di Museum Negeri NTB

Selasa, 2 Juni 2026 - 17:23 WITA

Pancasila dari Bumi Gora untuk Perdamaian Dunia

Sabtu, 30 Mei 2026 - 17:38 WITA

Desa Berdaya, Menanam Harapan dari Akar Pembangunan NTB

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:47 WITA

Iduladha di Bumi Gora dan Seruan Merawat Kepedulian

Berita Terbaru

BEDAH BUKU

Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman

Jumat, 5 Jun 2026 - 00:42 WITA

Workshop menjadi ruang bersama untuk memastikan, pembangunan sanitasi tidak hanya menghadirkan layanan teknis (Foto: ppid kota mataram / ceraken.id)

AJONG MENTARAM

Sanitasi yang Memanusiakan

Kamis, 4 Jun 2026 - 13:38 WITA

Seni pertunjukan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, melainkan juga sebagai medium untuk menyampaikan pesan sosial dan spiritual (Foto: provntb.go.id / ceraken.id)

INFORIAL

Rahmatan Lil Alamin di Panggung Sasambo

Kamis, 4 Jun 2026 - 12:36 WITA