Lunyuk, Hutan, dan Cita-Cita Anak-Anak Desa

Minggu, 10 Mei 2026 - 19:15 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anak-anak desa membutuhkan ruang untuk percaya bahwa mereka memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil (Foto: pemprov ntb / ceraken.id)

Anak-anak desa membutuhkan ruang untuk percaya bahwa mereka memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil (Foto: pemprov ntb / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Langit siang di Desa Padasuka, Kecamatan Lunyuk, Kabupaten Sumbawa, terasa teduh ketika puluhan anak duduk melingkar di Masjid Jami Al-Ihsan, Sabtu (9/5). Mereka bukan sekadar menunggu seorang pejabat datang memberi sambutan formal.

Di hadapan mereka, Gubernur Lalu Muhamad Iqbal hadir sebagai pendongeng, sahabat, sekaligus penyemai harapan bagi generasi muda di wilayah selatan Pulau Sumbawa itu.

Usai meninjau progres penanganan ruas jalan Lenangguar–Lunyuk, Gubernur memilih duduk bersama anak-anak desa. Tidak ada jarak protokoler yang kaku. Yang hadir justru suasana hangat penuh tawa dan rasa ingin tahu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Anak-anak tampak antusias menyimak kisah yang dibawakan langsung oleh orang nomor satu di NTB tersebut.

Melalui dongeng berjudul Kiara Penjaga Hutan, Gubernur mengajak anak-anak memahami arti penting menjaga kelestarian alam. Kisah itu menceritakan seorang anak yang berjuang melindungi hutan Lunyuk dari kerusakan akibat penebangan liar.

Dengan bahasa sederhana, cerita itu menjelma menjadi pesan moral yang mudah dipahami anak-anak.

“Kalau alam tidak dijaga, nanti rusak. Kalau rusak, yang merasakan dampaknya adalah kita semua,” ujar Gubernur di hadapan anak-anak.

Dongeng yang Menanamkan Kesadaran Lingkungan

Di tengah meningkatnya ancaman kerusakan lingkungan dan berkurangnya kawasan hijau di berbagai daerah, pendekatan yang dilakukan Gubernur NTB terasa berbeda. Ia tidak hanya berbicara soal pembangunan fisik, tetapi juga membangun kesadaran ekologis sejak usia dini.

Anak-anak diajak memahami bahwa hutan bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan sumber kehidupan masyarakat. Hutan menjaga sumber air, menjadi habitat satwa liar, sekaligus penyangga kehidupan warga sekitar. Karena itu, menjaga alam berarti menjaga masa depan.

Baca Juga :  NTB di Persimpangan Demografi: Ketimpangan Gender Menurun, Tantangan Masyarakat Menua Mengemuka

Gubernur juga menyinggung pentingnya melestarikan ekosistem pesisir di kawasan Lunyuk. Ia mengingatkan anak-anak agar tidak merusak habitat penyu dan kura-kura yang hidup di sekitar pantai.

“Jangan diambil semua telurnya dan jangan diganggu. Mereka juga butuh tempat hidup seperti kita,” pesannya.

Ucapan itu terdengar sederhana, tetapi memiliki makna mendalam. Di hadapan anak-anak desa, Gubernur sedang menanamkan nilai bahwa manusia bukan satu-satunya penghuni bumi yang berhak hidup nyaman. Ada keseimbangan alam yang harus dijaga bersama.

Ia pun mengenang kondisi Lunyuk ketika pertama kali datang ke wilayah itu pada awal 1990-an. Saat itu, perjalanan menuju Lunyuk masih dipenuhi hamparan hutan hijau dan satwa liar yang mudah ditemui di sepanjang jalan.

“Dulu sepanjang perjalanan ini hijau semua. Karena itu sekarang tugas kita bersama menjaga supaya alamnya tetap lestari,” katanya.

Pernyataan tersebut menjadi semacam refleksi tentang perubahan zaman. Di satu sisi pembangunan terus berjalan, namun di sisi lain kelestarian lingkungan tidak boleh dikorbankan.

Menumbuhkan Mimpi Anak-Anak Desa

Pertemuan di Masjid Jami Al-Ihsan tidak hanya berbicara tentang alam. Gubernur juga membuka ruang dialog dengan anak-anak mengenai cita-cita dan masa depan mereka.

Satu per satu siswa menyampaikan impian mereka dengan polos namun penuh keyakinan. Ada yang ingin menjadi guru, atlet, hingga pemimpin daerah.

Di tengah keterbatasan fasilitas yang masih dihadapi sebagian wilayah pedesaan, dialog itu menjadi penting. Anak-anak desa membutuhkan ruang untuk percaya bahwa mereka memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil.

Baca Juga :  Meneguhkan Makna Usia: Lansia sebagai Pilar Sosial dan Spirit Kartini di NTB

“Mau jadi apa pun nanti, jadilah anak yang bermanfaat bagi masyarakat, lingkungan, dan daerahnya,” ujar Gubernur.

Pesan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan bukan semata soal mengejar profesi, tetapi juga tentang membentuk manusia yang memiliki kepedulian sosial dan tanggung jawab terhadap lingkungannya.

Dalam sesi dialog, seorang siswi SMP Islam Terpadu Hamzanwadi Lunyuk bernama Naura Fadila mengangkat pertanyaan mengenai kesetaraan pendidikan antara sekolah negeri dan swasta. Pertanyaan itu menunjukkan kepedulian generasi muda terhadap akses pendidikan yang adil.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur menegaskan bahwa seluruh anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan berkualitas dan kesempatan meraih prestasi.

“Negeri maupun swasta, semuanya harus mendapatkan perhatian yang sama. Yang penting anak-anak NTB bisa tumbuh sehat, cerdas, dan punya masa depan yang baik,” tegasnya.

Menurutnya, program-program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) maupun revitalisasi sekolah diperuntukkan bagi seluruh siswa tanpa memandang status sekolah mereka.

Di penghujung kunjungan, Gubernur juga menyerahkan bantuan sembilan ekor kambing kurban, terdiri dari tujuh ekor untuk desa dan dua ekor untuk masjid setempat. Bantuan itu menjadi simbol kepedulian sosial sekaligus penguat hubungan antara pemerintah dan masyarakat.

Kunjungan singkat di Lunyuk itu akhirnya bukan hanya tentang peninjauan jalan atau agenda seremonial pemerintahan. Di sana, terselip upaya membangun masa depan melalui cerita, dialog, dan sentuhan kemanusiaan.

Sebab kadang, perubahan besar tidak selalu dimulai dari ruang rapat atau podium resmi, melainkan dari dongeng sederhana yang didengar anak-anak di sebuah masjid desa. (*)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: akun pemprov ntb

Berita Terkait

Desa Berdaya dan Ikhtiar Memutus Rantai Kemiskinan di NTB
Deru Mesin dan Gairah Ekonomi di The Mandalika
Ekonomi NTB Menguat: Ekspor Melejit, Pariwisata Bergeliat, Inflasi Terkendali
NTB di Persimpangan Demografi: Ketimpangan Gender Menurun, Tantangan Masyarakat Menua Mengemuka
Mandalika Menyulam Sehat dan Budaya dalam Satu Festival
Pari Wijaya Memimpin The Mandalika, Menjaga Laju Kawasan Strategis Nasional
Ketika Pendidikan Tidak Hanya Soal Sekolah
DTSEN dan Jalan Baru Pembangunan NTB yang Lebih Tepat Sasaran

Berita Terkait

Selasa, 12 Mei 2026 - 17:39 WITA

Desa Berdaya dan Ikhtiar Memutus Rantai Kemiskinan di NTB

Minggu, 10 Mei 2026 - 19:15 WITA

Lunyuk, Hutan, dan Cita-Cita Anak-Anak Desa

Sabtu, 9 Mei 2026 - 06:38 WITA

Deru Mesin dan Gairah Ekonomi di The Mandalika

Rabu, 6 Mei 2026 - 10:08 WITA

Ekonomi NTB Menguat: Ekspor Melejit, Pariwisata Bergeliat, Inflasi Terkendali

Rabu, 6 Mei 2026 - 09:12 WITA

NTB di Persimpangan Demografi: Ketimpangan Gender Menurun, Tantangan Masyarakat Menua Mengemuka

Berita Terbaru

Berkeliling sambil melantunkan sebutan menu-menu (Foto: ist /   ceraken.id)

NARASI

Pedagang Keliling Bersepeda Sambil Menyanyi

Rabu, 13 Mei 2026 - 19:39 WITA

Desa Berdaya mencoba menawarkan pendekatan berbeda: menjadikan desa sebagai pusat transformasi sosial dan ekonomi masyarakat miskin (Foto: akun medsos Adhar Hakim /  ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Desa Berdaya dan Jalan Panjang Melawan Kemiskinan di NTB

Rabu, 13 Mei 2026 - 12:33 WITA

Adhar Hakim. Desa Berdaya adalah gerakan bersama untuk membangun kesadaran bahwa kemiskinan harus dilawan melalui kolaborasi, bukan hanya program bantuan (Foto: ist / ceraken.id)

INFORIAL

Desa Berdaya dan Ikhtiar Memutus Rantai Kemiskinan di NTB

Selasa, 12 Mei 2026 - 17:39 WITA