Ketika Pendidikan Tidak Hanya Soal Sekolah

- Penulis

Minggu, 3 Mei 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Kemajuan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa megah gedung sekolah dibangun, tetapi oleh seberapa serius negara merawat manusianya (Foto: pemprov ntb / ceraken.id)

Kemajuan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa megah gedung sekolah dibangun, tetapi oleh seberapa serius negara merawat manusianya (Foto: pemprov ntb / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 di Nusa Tenggara Barat tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga panggung penegasan arah kebijakan pendidikan daerah. Di tengah tantangan fiskal dan kebutuhan peningkatan mutu pendidikan, Pemerintah Provinsi NTB memilih satu pesan utama: pendidikan yang baik harus dimulai dari keberpihakan pada manusia, terutama guru dan peserta didik.

Sabtu, 2 Mei 2026, di lapangan Kantor Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga di Mataram, Gubernur NTB Dr. H. L. Muhamad Iqbal menyampaikan langkah konkret yang langsung menyentuh kebutuhan tenaga pendidik. Pemerintah Provinsi NTB menyiapkan anggaran penghasilan tambahan minimal sebesar Rp500 ribu bagi 1.759 guru berstatus Pegawai Pemerintah Perjanjian Kerja Paruh Waktu (PPPK-PW), yang mulai direalisasikan pada September mendatang.

Kebijakan ini menjadi bentuk pengakuan bahwa kualitas pendidikan tidak mungkin tumbuh tanpa kesejahteraan guru yang layak. Selama ini, guru PPPK-PW sangat bergantung pada jumlah jam mengajar, yang membuat penghasilan mereka tidak selalu stabil.

“Khusus untuk guru P3K PW yang penghasilannya tergantung jam mengajar, kami berupaya di tengah keterbatasan fiskal untuk memberikan kesejahteraan yang lebih baik,” ujar Gubernur.

Pernyataan itu sederhana, tetapi memuat makna besar: pendidikan tidak bisa dibangun hanya dengan pidato tentang masa depan, melainkan dengan keberanian mengambil kebijakan yang berpihak pada para pelaku utama pendidikan.

Guru sebagai Fondasi Kualitas Pendidikan

Gubernur menegaskan bahwa kebijakan tersebut lahir dari besarnya harapan daerah untuk memajukan dunia pendidikan. Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga tidak boleh hanya menjadi institusi administratif, tetapi harus menjadi penggerak utama pembangunan manusia.

Baca Juga :  Lombok Art Market: Membangun Ekosistem Seni, Bukan Sekadar Menggelar Perayaan

Menurutnya, pendidikan bukan sekadar pembangunan fisik sekolah atau penambahan fasilitas semata. Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang menyangkut kualitas sumber daya manusia.

“Kualitas pendidikan artinya dinas, kepala sekolah dan guru mulai memikirkan agar seluruh anak memiliki akses pendidikan. Memastikan tidak ada anak putus sekolah, memastikan kualitas bahan ajar dan kualitas guru,” tegasnya.

Kalimat itu menempatkan guru pada posisi yang sangat strategis. Guru bukan sekadar pengajar di ruang kelas, tetapi fondasi utama dalam memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang.

Ketika guru memiliki kompetensi yang baik dan kesejahteraan yang memadai, maka ruang kelas akan menjadi tempat yang lebih hidup. Sebaliknya, jika guru terus dibebani ketidakpastian ekonomi, maka sulit berharap lahirnya pendidikan yang benar-benar berkualitas.

Karena itu, perhatian terhadap guru PPPK-PW menjadi sinyal penting bahwa negara hadir, bahkan dalam keterbatasan fiskal.

Pendidikan Bermutu Butuh Ekosistem yang Kuat

Dalam amanat nasional pendidikan dasar dan menengah yang dibacakan pada upacara tersebut, Gubernur juga menegaskan lima kebijakan strategis nasional yang menjadi arah pembangunan pendidikan ke depan.

Pertama, revitalisasi satuan pendidikan dan digitalisasi pembelajaran agar sekolah mampu menjawab tantangan zaman. Kedua, pemenuhan kualifikasi dan kompetensi guru, termasuk pemberian beasiswa kuliah bagi tenaga pendidik dan peningkatan kesejahteraan mereka.

Ketiga, penguatan pendidikan karakter melalui budaya sekolah dan lingkungan belajar yang sehat. Keempat, peningkatan kualitas pembelajaran melalui gerakan literasi dan numerasi berbasis science, technology, engineering, and mathematics (STEM), termasuk penguatan olahraga dan kesenian.

Kelima, layanan pendidikan yang lebih mudah, murah, dan fleksibel bagi anak-anak yang berisiko putus sekolah, melalui sekolah satu atap, pembelajaran jarak jauh, komunitas belajar, dan sekolah terbuka.

Baca Juga :  Menemukan Talenta ASN, NTB Perkuat Fondasi Birokrasi Berbasis Merit dan Data

Kelima strategi itu menunjukkan bahwa pendidikan hari ini tidak bisa lagi dipahami secara sempit sebagai urusan sekolah semata. Pendidikan adalah kerja besar yang melibatkan banyak pihak dan banyak pendekatan.

Untuk itu, Pemerintah Provinsi NTB menekankan integrasi empat ekosistem pendidikan: sekolah, keluarga, masyarakat, dan media. Keempatnya harus bergerak bersama dalam satu arah yang sama.

Sekolah memberi ilmu, keluarga menanamkan nilai, masyarakat menyediakan ruang sosial, dan media membentuk cara pandang. Jika salah satu lemah, maka proses pendidikan akan pincang.

Inilah tantangan pendidikan modern: membangun kolaborasi, bukan sekadar administrasi.

Pada peringatan Hardiknas tersebut, Gubernur juga menyerahkan penghargaan Satya Lencana Karyasatya kepada tiga tenaga pendidik sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi panjang mereka. Penghargaan diberikan kepada Siti Nurhani dari SMA Negeri 5 Mataram, Kamtono dari SLB Negeri 1 Mataram, dan Ahmad Quroni dari SMK Negeri 1 Mataram.

Penghargaan itu bukan hanya simbol prestasi, tetapi penanda bahwa profesi guru tetap menjadi pilar peradaban. Di balik setiap keberhasilan siswa, ada ketekunan panjang para guru yang sering bekerja dalam sunyi.

Hari Pendidikan Nasional akhirnya mengingatkan satu hal penting: kemajuan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa megah gedung sekolah dibangun, tetapi oleh seberapa serius negara merawat manusianya.

Ketika guru diperhatikan, ketika anak-anak dijaga agar tidak putus sekolah, dan ketika pendidikan menjadi urusan bersama, maka masa depan yang lebih baik tidak lagi menjadi slogan—melainkan kenyataan yang sedang dibangun. (jmy/dinaskominfotikntb)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: akun pemprov ntb

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menemukan Talenta ASN, NTB Perkuat Fondasi Birokrasi Berbasis Merit dan Data
Lombok Art Market: Membangun Ekosistem Seni, Bukan Sekadar Menggelar Perayaan
Akar Budaya untuk Masa Depan Anak NTB
Tak Ada yang Tertinggal: Desa Berdaya Menjadi Jalan NTB Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem
Seaplane dan Taruhan Baru Pariwisata NTB: Antara Batujai, Pengga, dan Pusat Pertumbuhan yang Lebih Merata
Menyemai Rasa di Jantung Mandalika: Ketika Kuliner Lokal Menjadi Wajah Pariwisata Lombok
Saat Tempat Kerja Menjadi Ruang Aman: Otsuka dan RS Marzoeki Mahdi Membangun Budaya Peduli Kesehatan Mental
Membaca Masa Depan Teater dari Mataram: Fragmen Tengah Menjadi Laboratorium Pengetahuan Bersama

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 12:31 WITA

Menemukan Talenta ASN, NTB Perkuat Fondasi Birokrasi Berbasis Merit dan Data

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 20:30 WITA

Lombok Art Market: Membangun Ekosistem Seni, Bukan Sekadar Menggelar Perayaan

Selasa, 28 Juli 2026 - 14:53 WITA

Akar Budaya untuk Masa Depan Anak NTB

Selasa, 28 Juli 2026 - 14:25 WITA

Tak Ada yang Tertinggal: Desa Berdaya Menjadi Jalan NTB Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem

Rabu, 15 Juli 2026 - 22:04 WITA

Seaplane dan Taruhan Baru Pariwisata NTB: Antara Batujai, Pengga, dan Pusat Pertumbuhan yang Lebih Merata

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA