CERAKEN.ID – Di linimasa media sosialnya, Alfan Hadi menuliskan sebuah catatan yang sederhana, namun mengandung daya getar yang panjang: merawat kerukunan tidak cukup dengan slogan; ia harus dijaga dengan tindakan nyata, konsisten, dan penuh kesadaran.
Catatan itu lahir dari sebuah pengalaman sosial yang hidup dan tumbuh di jantung Mataram, tepatnya di Kelurahan Pagutan Barat, sebuah kawasan yang selama satu dekade terakhir menjelma menjadi ruang perjumpaan iman yang hangat dan saling menguatkan.
Di sanalah berdiri Griya Pagutan Indah (GPI), sebuah kompleks pemukiman yang terdiri atas 18 RT. Secara fisik, ia mungkin hanya deretan rumah dengan pagar dan jalan lingkungan seperti kebanyakan perumahan lain.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun secara sosial, GPI adalah monumen hidup kebinekaan. Ia bukan sekadar alamat administratif, melainkan simbol tentang bagaimana perbedaan keyakinan dapat berubah menjadi energi persaudaraan.
Setiap kali bulan suci Ramadan tiba, ada pemandangan yang selalu berulang dan selalu mengharukan. Ketika azan Magrib berkumandang, disusul persiapan warga Muslim menuju masjid dan musala untuk salat Tarawih, justru pada saat itulah saudara-saudara mereka yang beragama Hindu mengambil peran yang tidak kecil. Mereka berjaga.
Di bawah arahan Ketua Parisada setempat, warga Hindu di GPI menyusun jadwal piket keamanan secara kolektif. Setiap RT memiliki giliran.
Mereka menempati sudut-sudut jalan, mengawasi kendaraan yang terparkir, memastikan lingkungan tetap aman, dan menjaga suasana tetap kondusif hingga ibadah usai. Dalam bahasa sosial, inilah praktik nyata menjaga Kamtibmas. Dalam bahasa kemanusiaan, inilah pengabdian.
Fenomena ini disebut-sebut sebagai satu-satunya di Kota Mataram, sebuah praktik toleransi yang tidak berhenti pada tataran retorika.
Di tempat lain, toleransi kerap dimaknai sebagai “tidak mengganggu” atau “membiarkan”. Namun di GPI, toleransi naik kelas: menjadi partisipasi aktif dalam kebahagiaan dan kekhusyukan orang lain.
Bayangkan malam di Mataram. Udara hangat pesisir membawa aroma dupa dari halaman rumah warga Hindu, sementara dari masjid terdengar lantunan ayat suci dan doa-doa Ramadan.
Dua ekspresi iman berada dalam satu ruang udara yang sama, tanpa saling menegasikan. Dalam lanskap semacam itu, warga Hindu GPI memberikan hadiah paling mahal dalam beragama: rasa aman.
Setiap langkah patroli mereka adalah pernyataan diam yang lebih kuat dari pidato panjang: agama bukan pemisah, melainkan jalan untuk melayani sesama manusia.
Merawat tradisi ini selama sepuluh tahun tentu bukan perkara sederhana. Ia menuntut konsistensi, komunikasi yang sehat, serta kemauan untuk terus saling percaya.
Kerukunan bukanlah sesuatu yang lahir begitu saja; ia dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dirawat bersama.
Di GPI, kebiasaan itu tumbuh dari keseharian. Warga saling hadir dalam momen-momen penting: takziah, perayaan hari raya, gotong royong lingkungan, hingga rapat RT. Interaksi sosial yang cair membuat sekat-sekat identitas mencair secara alami.

Agama tetap menjadi keyakinan personal yang sakral, namun dalam ruang sosial, ia menjadi inspirasi untuk berbuat baik.
Apa yang terjadi di Pagutan Barat menunjukkan bahwa kedewasaan berbangsa tidak selalu lahir dari kebijakan besar atau forum-forum resmi. Ia justru bertumbuh di lorong-lorong perumahan, di pos ronda sederhana, di sapaan hangat antar tetangga.
Kedewasaan itu tampak ketika seseorang merasa bertanggung jawab atas ketenangan ibadah orang lain, meskipun keyakinannya berbeda.
Saat warga Muslim mengakhiri salat Tarawih dengan salam, mereka mendapati wajah-wajah ramah tetangga Hindu yang masih setia berjaga.
Tidak ada sorot kamera, tidak ada seremoni khusus. Yang ada hanya senyum dan sapaan ringan: “Sudah selesai? Silakan istirahat, biar kami lanjut jaga.”
Dalam momen-momen semacam itulah wajah asli Indonesia terlihat—Indonesia yang dibangun oleh gotong royong dan kasih sayang antarumat beragama.
Catatan yang dibagikan Alfan Hadi sejatinya adalah pengingat bahwa kerukunan harus dirawat secara sadar. Ia tidak boleh dibiarkan menjadi jargon kosong. Ada tiga pelajaran penting dari GPI yang layak direnungkan.
Pertama, toleransi adalah tindakan, bukan sekadar sikap. Membiarkan orang lain beribadah adalah tahap awal. Namun ikut memastikan ibadah itu berlangsung aman dan nyaman adalah lompatan etis yang lebih tinggi.
Kedua, keamanan sosial adalah tanggung jawab bersama. Ketika warga Hindu mengambil peran menjaga Kamtibmas saat Ramadan, mereka sedang menegaskan bahwa keamanan lingkungan bukan milik satu kelompok saja. Ia adalah kepentingan kolektif.
Ketiga, kebinekaan adalah kekuatan yang harus diorganisir. Di GPI, toleransi tidak terjadi secara spontan tanpa koordinasi. Ada jadwal piket, ada komunikasi lintas RT, ada arahan dari tokoh masyarakat. Artinya, harmoni membutuhkan manajemen sosial yang rapi.
Dalam konteks yang lebih luas, apa yang dilakukan warga GPI merupakan refleksi konkret dari semangat persatuan yang selama ini digaungkan di tingkat nasional.
Namun bedanya, di Pagutan Barat, semangat itu tidak berhenti di spanduk atau pidato. Ia hidup dalam tindakan yang berulang, konsisten, dan tulus.
Indonesia adalah negeri dengan keragaman agama, suku, dan budaya yang luar biasa. Dalam sejarahnya, perbedaan pernah menjadi sumber ketegangan. Namun pengalaman di Griya Pagutan Indah membuktikan bahwa perbedaan juga bisa menjadi sumber keindahan, asal dikelola dengan kesadaran dan empati.
Di bawah langit Mataram yang sama, warga Muslim dan Hindu di GPI menunjukkan bahwa persaudaraan tidak selalu lahir dari kesamaan iman, melainkan dari kesamaan komitmen untuk hidup damai. Mereka memahami bahwa menjadi tetangga berarti berbagi ruang, berbagi waktu, dan berbagi tanggung jawab.
Tradisi saling menjaga ini bukan hanya tentang Ramadan. Ia adalah simbol dari sebuah kesepakatan sosial yang lebih besar: bahwa kita semua, apa pun agama dan latar belakangnya, adalah penjaga bagi saudara kita sendiri.
Semoga kisah dari Griya Pagutan Indah terus abadi. Semoga ia menjadi lentera bagi sudut-sudut lain negeri ini, bahwa merawat kerukunan tidak memerlukan teori yang rumit: cukup hati yang lapang, komunikasi yang jujur, dan kemauan untuk melangkah bersama.
Sebab pada akhirnya, indahnya toleransi bukan ketika kita sekadar hidup berdampingan, melainkan ketika kita bersedia berdiri menjaga agar saudara kita dapat beribadah dengan tenang.**
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita : liputan























































