CERAKEN.ID– Di sudut kawasan Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat, setiap Selasa malam, suasana berubah menjadi lebih hidup.
Lampu-lampu sederhana menerangi sebuah panggung kecil, denting gitar berpadu dengan suara bass dan ketukan drum, sementara penonton duduk santai di bangku kayu atau potongan batang pohon sambil menikmati kopi dan makanan ringan.
Tempat itu dikenal luas oleh komunitas seni sebagai Warung Kopi Jack atau akrab disebut Warjack.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di ruang inilah “Pentas Selasa” berlangsung rutin, menghadirkan berbagai genre musik, mulai dari blues, jazz, balada, lagu-lagu Koes Plus, keroncong hingga dangdut. Panggung sederhana itu justru menjadi ruang yang hidup, tempat para musisi, seniman, mahasiswa, pekerja kreatif, hingga penonton umum berbaur dalam satu atmosfer santai namun penuh energi kreatif.
Bagi Wing Irawan, front man band Yoiakutik, fenomena Pentas Selasa Warjack menghadirkan refleksi penting mengenai bagaimana ruang kreatif tumbuh, kadang justru di luar institusi resmi yang seharusnya menjadi pusat kegiatan seni dan budaya.
Warung Kopi Jack awalnya hanyalah warung kopi biasa yang dikelola seorang pegawai Taman Budaya bernama Zakaria.
Namun seiring waktu, tempat itu berubah fungsi menjadi ruang publik kreatif. Tanpa desain megah, tanpa fasilitas mewah, panggung kecil di sudut kawasan Taman Budaya justru menjadi tempat yang paling dinanti setiap pekan.
Dengan sound system sederhana dan pencahayaan seadanya, Warjack menghadirkan pengalaman pertunjukan yang akrab dan egaliter. Tidak ada sekat antara penampil dan penonton.
Semua duduk setara, menikmati musik sambil menyeruput kopi atau menikmati mie rebus dan camilan.
Motto tidak resmi yang melekat di tempat itu pun sederhana namun mengena: “Tontonan gratis, kopi bayar sendiri.”
Kalimat itu bukan sekadar slogan, tetapi cerminan semangat kemandirian ruang kreatif. Penonton bebas menikmati pertunjukan, sementara keberlangsungan tempat ditopang oleh kebersamaan dan kesadaran kolektif untuk saling mendukung.
Namun, di balik kehangatan suasana tersebut, Wing Irawan melihat sebuah paradoks: bagaimana mungkin sebuah warung kopi justru tampil lebih hidup dibanding fasilitas resmi Taman Budaya itu sendiri?
Ketika Panggung Kecil Mengalahkan Gedung Besar
Di saat sejumlah fasilitas Taman Budaya tengah direnovasi, ruang pameran dan gedung pertunjukan diperbaiki di berbagai sisi, pertanyaan mendasar muncul: bagaimana dengan ruang kreatif yang hidup? Bagaimana peran lembaga kebudayaan seperti Taman Budaya dan Dewan Kesenian NTB dalam mendukung proses kreatif para seniman?
Menurut Wing, keberadaan dua institusi tersebut seharusnya menjadi rumah bagi para pelaku seni. Namun, publik kerap tidak mengetahui program nyata yang sedang atau akan diperjuangkan lembaga-lembaga itu. Hubungan manajerial antara institusi kebudayaan dengan ruang kreatif independen seperti Warjack pun tidak selalu tampak jelas.
Ironinya, ruang yang hidup justru tumbuh dari inisiatif sederhana, bukan dari program resmi lembaga kebudayaan. Warung Kopi Jack mampu mengelola ruang kreatif secara organik, memberikan panggung bagi karya seni tanpa banyak birokrasi.
Bukan berarti lembaga resmi tidak memiliki peran. Namun Wing mengajak semua pihak merenungkan kembali bagaimana lembaga kebudayaan dapat lebih responsif terhadap dinamika kreatif di lapangan.
Seni, Institusi, dan Problem Anggaran
Diskusi mengenai peran institusi kebudayaan sering kali berujung pada persoalan klasik: pendanaan dan anggaran. Menjalankan program seni dalam skala institusional tentu tidak sesederhana menggelar pertunjukan di warung kopi.
Lembaga memiliki mekanisme, aturan, serta bahasa birokrasi yang berbeda dengan kebebasan kreatif ruang independen. Di sinilah sering muncul jarak antara idealisme seni dan realitas administrasi.

Wing melihat bahwa bekerja di lembaga kebudayaan pun memiliki “seninya” sendiri. Mengelola anggaran, membuat program, dan menjembatani kepentingan berbagai pihak membutuhkan kreativitas yang berbeda, namun tetap bagian dari proses kebudayaan.
Namun, persoalan muncul ketika kebijakan dan mekanisme birokrasi tidak cukup lentur untuk merespons dinamika kreatif yang tumbuh cepat di masyarakat. Bahasa institusi kerap gagap menghadapi kebutuhan organik komunitas seni.
Padahal, proses kreatif membutuhkan ruang, kesempatan tampil, dan dukungan berkelanjutan. Tanpa ruang tersebut, karya sulit tumbuh.
Warung Kopi Jack membuktikan bahwa kemandirian komunitas seni masih hidup. Tanpa menunggu program resmi, para pelaku seni menciptakan ruangnya sendiri. Pentas Selasa menjadi bukti bahwa kreativitas dapat tumbuh dari inisiatif sederhana.
Di sana hadir beragam profesi: seniman, jurnalis, pekerja kreatif, hingga pelaku industri periklanan. Pertemuan lintas profesi ini membuka peluang kolaborasi dan memperluas ekosistem kreatif di Mataram dan NTB.
Musik, sebagai bagian dari industri kreatif, mendapat ruang untuk berkembang. Bakat-bakat lokal memperoleh kesempatan tampil tanpa harus pergi ke Jakarta.
Di era digital, peluang semakin terbuka. Dengan kamera sederhana dan akses internet, karya dapat dipublikasikan secara luas tanpa harus bergantung pada pusat industri hiburan nasional.
Namun, Wing mengingatkan bahwa gerakan kebudayaan bukan sekadar mesin digital. Ia tetap bertumpu pada manusia, pada totalitas pengalaman, interaksi, dan nilai-nilai kemanusiaan yang hidup dalam proses kreatif.
Peran Lembaga dalam Mengkanalisasi Energi Kreatif
Dalam pandangan Wing, lembaga seperti Taman Budaya dan Dewan Kesenian NTB memiliki peran penting untuk mengkanalisasi energi kreatif yang telah tumbuh secara organik. Mereka dapat menjadi jembatan komunikasi antar pelaku seni sekaligus menyediakan dukungan manajerial yang lebih terstruktur.
Institusi dapat membantu memperluas jaringan, menyediakan fasilitas yang memadai, serta membangun program pembinaan jangka panjang. Ruang kreatif seperti Warjack tidak perlu diambil alih, tetapi dapat diperkuat melalui kolaborasi.
Fanatisme komunitas, yang di Warjack dikenal dengan sebutan “Jacker Mania”, menjadi bukti bahwa ruang kreatif yang hidup mampu membangun komunitas yang sehat. Fanatisme di sini bukan sikap berlebihan, melainkan rasa memiliki terhadap ruang seni yang tumbuh bersama.
Pada akhirnya, Wing Irawan menempatkan kebudayaan sebagai proses kemanusiaan yang kompleks, mengandung norma, estetika, permainan, bahkan sisi gelap manusia itu sendiri. Kebudayaan lahir dari proses panjang masyarakat dalam membentuk nilai dan identitas.
Seni menjadi salah satu wujud dari proses tersebut. Seniman dikenal melalui karya, dan karya lahir dari proses yang membutuhkan ruang dan kebebasan kreatif.
Karena itu, hubungan antara institusi dan seniman tidak selalu mudah. Namun keduanya tetap saling membutuhkan untuk membangun ekosistem kebudayaan yang sehat.
Keberadaan Pentas Selasa Warjack menjadi pengingat bahwa kreativitas sering kali tumbuh dari ruang sederhana, dari pertemuan santai, dari keberanian komunitas menciptakan ruang sendiri.
Namun, energi tersebut membutuhkan dukungan agar tidak padam. Kolaborasi antara komunitas reatif dan lembaga kebudayaan dapat memperkuat ekosistem seni di NTB.
Menutup refleksinya, Wing Irawan mengutip kalimat yang menggambarkan semangat berbagi dalam dunia kreatif:
“Kemurahan hati tidak berarti memberikan apa yang kau butuhkan lebih dari yang kau butuhkan, tetapi memberiku apa yang lebih kau butuhkan daripada yang kubutuhkan.”
Kalimat itu seakan menjadi pesan bagi semua pihak, seniman, pengelola ruang kreatif, dan lembaga kebudayaan, bahwa seni akan terus hidup jika setiap orang bersedia memberi ruang bagi yang lain untuk tumbuh.
Dan setiap Selasa malam, di sudut Taman Budaya NTB, ruang kecil bernama Warjack terus membuktikan bahwa seni akan selalu menemukan panggungnya sendiri.(aks)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : liputan


































