Perspektif Kebudayaan NTB Mendunia: Dari Bumi Gora ke Panggung Global

Minggu, 11 Januari 2026 - 14:42 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perspektif “NTB mendunia” harus dibaca sebagai proses sadar. Menjaga akar, mengembangkan cabang, dan mewariskan nilai (Foto: ist)

Perspektif “NTB mendunia” harus dibaca sebagai proses sadar. Menjaga akar, mengembangkan cabang, dan mewariskan nilai (Foto: ist)

Oleh Lalu Surya Mulawarman – Kepala Taman Budaya Prov. NTB

CERAKEN.ID– Di tengah arus globalisasi yang kian deras, kebudayaan sering kali berada di persimpangan: antara dilestarikan atau ditinggalkan. Namun di Nusa Tenggara Barat (NTB), kebudayaan justru memilih jalan ketiga, bertransformasi tanpa kehilangan jati diri.

Dari ritual adat, seni pertunjukan, hingga lanskap budaya yang hidup dalam keseharian masyarakat Sasak, Samawa, dan Mbojo, NTB sedang menata dirinya sebagai simpul kebudayaan yang tidak hanya bertahan, tetapi juga mendunia.

NTB bukan sekadar destinasi wisata alam dengan pantai dan gunungnya. Ia adalah ruang kebudayaan yang kompleks, tempat nilai-nilai lokal dirawat melalui tradisi lisan, arsitektur, sistem sosial, dan praktik spiritual yang diwariskan lintas generasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di sanalah kekuatan NTB berada: kebudayaan yang hidup, bukan sekadar dipamerkan.

Kebudayaan NTB tumbuh dari kearifan lokal yang telah teruji oleh waktu. Tradisi merariq dalam perkawinan Sasak, misalnya, bukan hanya peristiwa adat, melainkan refleksi nilai keberanian, tanggung jawab, dan musyawarah sosial.

Demikian pula ritual Belian yang hidup di tengah masyarakat sebagai praktik pengobatan tradisional, memperlihatkan relasi harmonis antara manusia, alam, dan spiritualitas.

Dalam perspektif global, nilai-nilai semacam ini justru menjadi relevan. Dunia modern yang dilanda krisis identitas dan keterputusan dengan alam mulai menoleh pada komunitas-komunitas yang masih memelihara keseimbangan hidup.

Baca Juga :  Ada Lakon di Balik Bunyi

Kebudayaan NTB, dengan kesederhanaannya, menawarkan alternatif cara pandang: bahwa kemajuan tidak selalu identik dengan penyeragaman.

Seni sebagai Bahasa Universal

Seni dan budaya NTB telah lama melintasi batas geografis. Gendang beleq, wayang Sasak, tari-tarian tradisi, hingga musik dan teater kontemporer berbasis lokal telah tampil di berbagai panggung nasional dan internasional. Seni menjadi bahasa universal yang menjembatani NTB dengan dunia.

Namun yang menarik, seni NTB tidak berhenti pada romantisme masa lalu. Ia terus bernegosiasi dengan zaman. Para seniman muda NTB hari ini memadukan tradisi dengan ekspresi modern.

Mengolah folklore menjadi karya teater, menjadikan ritual sebagai medium seni rupa, dan menginterpretasi nilai adat dalam narasi baru yang relevan dengan generasi global.

Di titik inilah kebudayaan NTB menemukan momentumnya: ketika lokalitas tidak diposisikan sebagai beban, melainkan sebagai kekuatan kreatif.

Ketika NTB mengusung narasi “mendunia”, kebudayaan memainkan peran strategis sebagai diplomasi identitas. Dunia mengenal NTB bukan hanya melalui event internasional atau promosi pariwisata, tetapi melalui cerita, tentang masyarakatnya, nilai hidupnya, dan cara mereka memaknai keberadaan.

Baca Juga :  Satu Panggung, Satu Empati: Artunity Merawat Kemanusiaan untuk Sumatera

Pengakuan terhadap tokoh-tokoh budaya, penyelenggaraan pameran, festival, dan penghargaan kebudayaan menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem budaya yang berkelanjutan. Kebudayaan tidak lagi dipandang sebagai pelengkap pembangunan, melainkan sebagai fondasi yang memberi arah dan makna.

Dalam konteks ini, kebijakan publik yang berpihak pada kebudayaan menjadi kunci. Pelindungan tradisi, pemberdayaan komunitas adat, serta ruang ekspresi bagi seniman lokal adalah prasyarat agar kebudayaan NTB tidak hanya dikenal, tetapi juga dihormati di panggung global.

Menjaga, Mengembangkan, dan Mewariskan

Tantangan terbesar kebudayaan NTB ke depan bukanlah soal eksistensi, melainkan keberlanjutan. Globalisasi membawa peluang sekaligus ancaman: komersialisasi berlebihan, reduksi makna, dan homogenisasi budaya.

Karena itu, perspektif “NTB mendunia” harus dibaca sebagai proses sadar. Menjaga akar, mengembangkan cabang, dan mewariskan nilai.

Kebudayaan NTB akan benar-benar mendunia bukan ketika ia meniru dunia, tetapi ketika dunia belajar darinya.

Tentang hidup yang selaras, tentang identitas yang teguh, dan tentang keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri di tengah perubahan zaman.

Dari Bumi Gora, NTB mengirim pesan ke dunia: bahwa kebudayaan lokal, jika dirawat dengan kesadaran dan kebanggaan, bukan hanya mampu bertahan tetapi juga bersinar di panggung global.**

 

Penulis : lsm

Editor : Ceraken Editor

Berita Terkait

Satu Panggung, Satu Empati: Artunity Merawat Kemanusiaan untuk Sumatera
Ada Lakon di Balik Bunyi
Di Antara Jalan Logika, Keyakinan, dan Sufisme
Desa Berdaya NTB: Pengentasan Kemiskinan Ekstrem Menuju Pencapaian SDGs
Menjadikan Manajemen Risiko Nafas Baru Pemerintahan Daerah
Citra Perempuan Dalam Puisi Barat
KECIMOL DAN RIWAYAT SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT SASAK
Dinamika Pembiayaan Utang Indonesia 2025

Berita Terkait

Rabu, 21 Januari 2026 - 09:00 WITA

Satu Panggung, Satu Empati: Artunity Merawat Kemanusiaan untuk Sumatera

Minggu, 18 Januari 2026 - 01:35 WITA

Ada Lakon di Balik Bunyi

Minggu, 11 Januari 2026 - 14:42 WITA

Perspektif Kebudayaan NTB Mendunia: Dari Bumi Gora ke Panggung Global

Selasa, 16 Desember 2025 - 08:29 WITA

Di Antara Jalan Logika, Keyakinan, dan Sufisme

Senin, 15 Desember 2025 - 16:28 WITA

Desa Berdaya NTB: Pengentasan Kemiskinan Ekstrem Menuju Pencapaian SDGs

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA