“SENGGIGI”, Nyanyian Rindu Apip Sutardi untuk Pantai yang Tak Pernah Usang

Minggu, 22 Februari 2026 - 11:30 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

"Sound of Magic Island". SENGGIGI adalah lagu tentang tempat. Tentang pantai, tentang makanan, tentang kopi, tentang tawa. Tetapi lebih dari itu, ia adalah lagu tentang ingatan dan harapan (Foto: ist/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di tengah padatnya agenda dan dinamika industri musik yang serba cepat, Apip Sutardi memilih memperlambat langkah. Bukan untuk berhenti, melainkan untuk memastikan setiap nada yang lahir tetap punya makna.

Rencana awal membuat mini album akustik bersama proyek musiknya, Sound Of Magic Island, akhirnya berubah arah. Kesibukan para musisi pendukung membuat proses produksi album diperkirakan memakan waktu lebih lama dari rencana.

Dari situlah keputusan strategis diambil: merilis satu single lebih dahulu. Lagu berjudul “SENGGIGI” menjadi pilihan untuk menjaga konsistensi dan eksistensi kekaryaan Sound Of Magic Island yang genap setahun terakhir mewarnai blantika musik Indonesia, khususnya Lombok.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun “SENGGIGI” bukan sekadar single pembuka. Ia adalah kapsul waktu.

Kembali ke Tahun 2001

Lagu ini ditulis dari ingatan personal Apip ketika pertama kali menjejakkan kaki di Lombok dan bermain musik di Marina Café, Senggigi, pada 2001. Masa itu, nama Senggigi begitu harum.

Pantainya bersih, wisatawan domestik dan mancanegara berbaur, kafe-kafe hidup hingga larut malam, dan denyut pariwisata terasa optimistis.

Siapa pun yang berlibur ke Lombok hampir pasti menyempatkan diri ke Pantai Senggigi. Ia bukan sekadar destinasi, tetapi ikon.

Dalam liriknya, Apip merangkai potret Senggigi tempo dulu hingga hari ini: pantai yang memanjang dengan sunset keemasan, makanan khas yang sederhana namun membekas, kafe dan restoran, nasi bungkus pinggir jalan, ikan bakar yang menggoda, kopi jalanan, tempat nongkrong, hingga keramahan masyarakatnya.

Ada pula selipan tentang surfing, tentang obrolan santai, tentang tawa yang tak dibuat-buat.

“Senggigi bukan hanya panorama,” begitu kira-kira pesan yang ingin disampaikan. Keindahannya lahir dari kombinasi seluruh unsur itu: alam, rasa, manusia, dan kenangan.

Vibes yang tercipta membuatnya berbeda dan selalu dirindukan.

Proses produksi lagu dimulai pada 22 Januari 2026 di Studio MGCISLND RECORDS, Sandik, Batulayar, Lombok Barat. Di ruang studio yang tidak terlalu besar itu, energi kolektif bekerja intens selama tiga minggu.

Baca Juga :  Mengalami Musik, Menjaga Akar: “Gugur Mayang” dan Jalan Kebudayaan Lombok Ethno Fusion

Chily bertindak sebagai operator sekaligus menangani mixing dan mastering. Panji mengisi gitar akustik, Ebonk pada bass akustik, Antoq pada djembe dan perkusi, sementara Apip sendiri mengisi vokal, backing vocal, pianika, dan tambahan perkusi.

Perangkat musik juga mendapat dukungan dari ArifTone melalui pinjaman gitar dan bass akustik yang menjadi tulang punggung aransemen. Sementara pengerjaan video klip dan artwork diselesaikan dalam waktu satu minggu oleh MGCISLND CREATIVE yang digawangi Dedek Tri Utama.

Pilihan aransemen akustik bukan tanpa alasan. Apip ingin menciptakan suasana yang natural dan alami, menghadirkan bunyi yang jujur tanpa banyak polesan digital.

Ritme reggae santai dipadukan dengan tekstur akustik yang hangat, sehingga pendengar dapat merasakan relaksasi sekaligus mudah membayangkan suasana Senggigi melalui setiap penggalan lirik.

Musiknya tidak tergesa. Ia mengalir seperti ombak kecil di sore hari.

Sebagai musisi yang tumbuh bersama denyut Lombok, Apip menempatkan lagu ini bukan sekadar karya pribadi, tetapi juga bentuk pengabdian (Foto: ist/ceraken.id)
“Cek Ombak” Sebelum Launching

Menariknya, sebelum resmi diluncurkan ke publik, lagu ini lebih dulu diuji secara langsung. Apip melakukan semacam “cek ombak” dengan memperdengarkan “SENGGIGI” kepada 16 orang audiens yang dipilih secara acak: warga Senggigi, pelaku wisata, musisi, pelancong luar daerah, manajer kafe, pedagang, hingga warga negara asing.

Uji dengar dilakukan dalam berbagai situasi: siang terik, pagi hari, malam, di tengah kemacetan, di tepi pantai. Semua direkam dalam format konten “reaksi pertama” untuk melihat respons yang benar-benar spontan.

Hasilnya di luar dugaan.

Ada yang tersenyum kecil, ada yang tertawa lebar. Beberapa mengangguk-angguk mengikuti irama, sebagian menggerakkan kaki dan tangan tanpa sadar.

Ada yang menerawang, seolah kembali ke masa lalu. Dua jempol terangkat. Komentar yang keluar pun jujur dan emosional.

Tanpa disadari, pembahasan tentang Senggigi langsung mengalir. Ada yang mengenang nongkrong di Marina, menikmati sate bulayak tiap akhir pekan, perjuangan menjadi guide wisata, hingga cerita tentang nasi bungkus Inak Iyek yang rasanya tak pernah berubah.

Baca Juga :  Pentas Selasa: Api Kecil yang Menolak Padam di Lombok

Beberapa bahkan menyinggung kejayaan Senggigi era 90-an, ketika turis asing memadati kawasan itu dan ekonomi masyarakat bergerak dinamis.

Lagu itu memantik memori kolektif.

Salah satu temuan paling kuat dari proses uji publik tersebut adalah rasa rindu. Banyak orang merindukan Senggigi di masa jayanya: pantai yang bersih, wisatawan yang ramai, masyarakat yang sejahtera, dan atmosfer yang penuh optimisme.

“SENGGIGI” seakan menjadi pengingat bahwa kejayaan bukan sekadar nostalgia, melainkan energi yang bisa dihidupkan kembali. Musik dalam konteks ini bukan hanya hiburan, tetapi medium refleksi sosial dan kultural.

Sebagai musisi yang tumbuh bersama denyut Lombok, Apip menempatkan lagu ini bukan sekadar karya pribadi, tetapi juga bentuk pengabdian. Ia berharap lagu tersebut dapat diterima luas, berdampak positif, dan menjadi jembatan emosional bagi siapa pun yang memiliki kenangan dengan Senggigi.

Dari Lombok untuk Dunia Digital

Kini, “SENGGIGI” dapat dinikmati melalui kanal YouTube Sound Of Magic Island serta berbagai platform musik digital seperti Spotify, Apple Music, YouTube Music, Joox, dan TikTok. Distribusi digital membuka ruang agar nyanyian tentang Senggigi tidak hanya terdengar di Lombok, tetapi juga menjangkau pendengar lintas kota dan negara.

Di balik peluncuran single ini, Apip menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT atas kesehatan dan energi untuk terus berkarya. Ia juga berterima kasih kepada keluarga, tim produksi, para musisi pendukung, serta Yayasan LombokCare yang disebutnya sebagai sumber energi baik untuk terus berkhidmat bagi Pulau Lombok tercinta.

Pada akhirnya, “SENGGIGI” adalah lagu tentang tempat. Tentang pantai, tentang makanan, tentang kopi, tentang tawa. Tetapi lebih dari itu, ia adalah lagu tentang ingatan dan harapan.

Tentang bagaimana sebuah kawasan wisata tidak hanya hidup dalam statistik kunjungan, melainkan dalam hati orang-orang yang pernah mencintainya.

“Love and Peace,” begitu pesan penutup dari Sound Of Magic Island.

Dan dari Senggigi, musik itu kembali berlayar.**

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita : liputan as

Berita Terkait

Pentas Selasa: Api Kecil yang Menolak Padam di Lombok
Menebar Jala di Musim Galau: Gerilya Seni Ary Juliyant Memasuki Babak Ke-14
Menebar Jala di Musim Galau
Pentas Selasa Warjack: Ruang Kreatif yang Menghidupkan Denyut Seni di Taman Budaya NTB
Mengalami Musik, Menjaga Akar: “Gugur Mayang” dan Jalan Kebudayaan Lombok Ethno Fusion
Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak
Dipsy Do di Soundrenaline 2025: Dari Mataram ke Pusat Hiruk-Pikuk Modernitas
“Melet Bedait”: Ratapan Lama dalam Napas Baru Lombok Ethno Fusion

Berita Terkait

Minggu, 22 Februari 2026 - 11:30 WITA

“SENGGIGI”, Nyanyian Rindu Apip Sutardi untuk Pantai yang Tak Pernah Usang

Rabu, 18 Februari 2026 - 21:04 WITA

Pentas Selasa: Api Kecil yang Menolak Padam di Lombok

Kamis, 12 Februari 2026 - 12:31 WITA

Menebar Jala di Musim Galau: Gerilya Seni Ary Juliyant Memasuki Babak Ke-14

Kamis, 12 Februari 2026 - 00:35 WITA

Menebar Jala di Musim Galau

Selasa, 10 Februari 2026 - 11:42 WITA

Pentas Selasa Warjack: Ruang Kreatif yang Menghidupkan Denyut Seni di Taman Budaya NTB

Berita Terbaru

Pertanyaannya kini sederhana: apakah kita masih mau mendengar suara air? (Foto: aks/ceraken.id)

BEDAH BUKU

Molang Maliq Mualan Benyer dan Kebangkitan Tradisi di Telaga Waru

Minggu, 22 Feb 2026 - 19:55 WITA

Transformasi ini bukan sekadar perubahan angka statistik, tetapi perubahan cara desa memaknai perannya dalam ekonomi regional (Foto: ist)

INFORIAL

Dari Sawah ke Sinyal: Momentum Transformasi Ekonomi Desa di NTB

Sabtu, 21 Feb 2026 - 15:42 WITA