Catatan Agus K Saputra
CERAKEN.ID- Senja kerap dianggap waktu paling jinak dalam siklus hari. Ia hadir di antara kepulangan dan kelelahan, ketika matahari tidak lagi memerintah dengan terik, dan malam belum sepenuhnya menagih kesunyian. Namun bagi seorang pengembara, senja justru bisa menjadi saat yang paling menyilaukan, bukan oleh cahaya, melainkan oleh jeda yang menipu.
Ia menawarkan rehat sesaat, melepas peluh yang menempel di dahi dan punggung, seolah berkata bahwa perjalanan telah cukup jauh. Padahal, sesungguhnya perjalanan itu belum selesai.
Pengembara memahami betul bahwa senja bukanlah tujuan. Ia hanyalah perlintasan, ruang antara yang mengundang refleksi sekaligus godaan untuk berhenti.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam senja, segala sesuatu tampak lebih lembut: luka terasa ringan, jarak seakan memendek, dan beban hidup seolah bisa dinegosiasikan. Di saat inilah senja menjadi menyilaukan, karena ia membuat pengembara lupa bahwa malam masih panjang dan jalan masih menunggu untuk ditapaki.
Melepas peluh di senja adalah tindakan yang manusiawi. Tidak ada pengembaraan yang menolak kelelahan. Justru kelelahan itulah bukti bahwa langkah pernah diayunkan dengan sungguh-sungguh.
Peluh yang jatuh ke tanah bukan sekadar air asin dari tubuh, melainkan residu dari tekad, keraguan, dan keberanian yang saling berkelindan. Pengembara berhenti sejenak, mengatur napas, menimbang kembali arah yang telah ditempuh dan kemungkinan jalan di depan.
Namun, senja tidak pernah berjanji akan menunggu. Ia terus bergerak, menguning, mengabur, lalu menghilang. Jika pengembara terlalu lama terpesona oleh keindahannya, ia akan kehilangan terang berikutnya.
Di titik inilah senja menguji kedewasaan batin: apakah rehat dijadikan bekal, atau justru alasan untuk menyerah. Banyak pengembara terperangkap di senja, memilih tinggal dalam kenangan perjalanan ketimbang melanjutkan langkah ke ketidakpastian.
Setelah senja berlalu, pengembara kembali berjalan. Tidak selalu dengan keyakinan penuh, kadang justru dengan sisa ragu yang dibawa dari perhentian tadi.
Tetapi langkah tetap diambil. Inilah inti pengembaraan: bergerak meski tidak sepenuhnya siap, melanjutkan meski belum sepenuhnya pulih. Perjalanan tidak menuntut kesempurnaan, hanya keberanian untuk tidak berhenti terlalu lama pada satu waktu.
Pengembaraan juga bukan soal kecepatan. Ada hari-hari ketika langkah terasa ringan, ada pula hari ketika satu meter terasa seperti satu kilometer.
Senja hadir di antara hari-hari itu sebagai penanda bahwa hidup berjalan dalam ritme, bukan garis lurus. Ia mengajarkan bahwa jeda bukanlah kemunduran, selama pengembara tahu kapan harus kembali melangkah.
Pada akhirnya, senja hanyalah bagian kecil dari perjalanan panjang. Ia bukan akhir, bukan pula puncak.
Ia adalah cermin singkat tempat pengembara melihat dirinya sendiri, lelah, berkeringat, namun masih berdiri. Dari sanalah ia belajar bahwa menyilaukan tidak selalu berarti membutakan; kadang justru membuka kesadaran bahwa jalan masih ada, dan langkah masih mungkin.
Maka pengembara itu melanjutkan pengembaraannya hingga nanti, entah hingga fajar berikutnya, entah hingga suatu titik yang belum bisa ia namai. Ia berjalan dengan pemahaman baru: bahwa setiap senja boleh dinikmati, peluh boleh dilepas, tetapi perjalanan tetap harus diteruskan.
Sebab hidup, seperti pengembaraan, tidak pernah berhenti pada cahaya yang indah, melainkan pada keberanian untuk melangkah setelah cahaya itu redup.
#Akuair-Ampenan, 25-12-2025
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor































