CERAKEN.ID—Jakarta: Gagasan menempatkan kebudayaan sebagai jantung pembangunan kota kembali memperoleh pengakuan nasional. Wali Kota Mataram, Dr. H. Mohan Roliskana, S.Sos., M.H., dianugerahi Trofi Abyakta Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026 kategori Bupati/Wali Kota, berkat inisiatif Gerbang Sangkareang yang dinilai mampu menjadikan budaya sebagai denyut hidup pembangunan perkotaan.
Trofi bergengsi ini dijadwalkan diserahkan pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026, 9 Februari 2026, di Serang, Provinsi Banten.
Penghargaan tersebut tidak lahir secara instan. Sejak Oktober 2025, PWI Pusat melakukan proses penjaringan dan penjurian yang panjang dan berlapis, hingga akhirnya berpuncak pada tahap presentasi di hadapan Dewan Juri Anugerah Kebudayaan PWI Pusat, di Kantor PWI Pusat, Gedung Dewan Pers, Jakarta, Jumat (9/1/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada forum inilah gagasan Gerbang Sangkareang diuji tidak hanya dari sisi konsep, tetapi juga dari jejak implementasi dan dampak nyatanya bagi masyarakat.
Dalam presentasinya, Wali Kota Mataram menegaskan bahwa Gerbang Sangkareang tidak dimaknai sebagai bangunan fisik semata, melainkan sebagai ide kultural yang hidup, bergerak, dan terus berkembang di tengah masyarakat.
“Gerbang Sangkareang bukan bangunan statis, melainkan katalisator yang menginspirasi desainer, seniman, dan pengrajin kriya untuk melahirkan karya dengan motif Gerbang Sangkareang, mulai dari Batik Mentaraman, bros, hingga desain interior dan ruang publik,” ungkap H. Mohan Roliskana di hadapan dewan juri.
Pendekatan inilah yang dinilai kuat oleh dewan juri. Gerbang Sangkareang diposisikan sebagai diplomasi identitas, sekaligus penggerak ekosistem kreatif lokal. Simbol budaya Sasak tidak berhenti pada fungsi estetika atau monumen, tetapi menjelma menjadi narasi bersama yang hadir dalam keseharian warga kota, dari fesyen, kriya, hingga ruang-ruang publik.
Budaya tidak dipajang sebagai artefak masa lalu, melainkan dihidupkan sebagai bahasa masa kini dan masa depan.
Pengakuan nasional ini kian diperkuat oleh kiprah Batik Mentaraman bermotif Gerbang Sangkareang yang sebelumnya tampil di ajang In2motionfest Jakarta, dan di Melbourne Australia, dibawakan oleh desainer ternama Najua Yanti Bellabaric.
Bagi Pemerintah Kota Mataram, peristiwa tersebut bukan sekadar partisipasi mode internasional, melainkan bagian dari strategi diplomasi budaya.
“Ini adalah diplomasi budaya, dari masyarakat Sasak, agar semakin dikenal oleh masyarakat internasional,” ujar Wali Kota Mataram dalam pemaparannya.
Penetapan penerima Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026 secara resmi tertuang dalam Berita Acara Nomor: 534/PWI-P/LXXIX/I/2026, yang menyatakan Wali Kota Mataram berhak menerima Trofi Abyakta dan piagam penghargaan. Keputusan tersebut bersifat final dan mengikat.
Dewan Juri Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026 sendiri terdiri dari lima tokoh kredibel di bidang seni, budaya, dan pers: Yusuf Susilo Hartono (Ketua/Anggota), Agus Dermawan T, Dr. Nungki Kusumastuti, Akhmad Munir, dan Sudjiwo Tejo.
Sebelumnya, Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat, Yusuf Susilo Hartono, menegaskan bahwa seluruh rangkaian penilaian dilakukan secara objektif dan mendalam. Setiap gagasan, karya, serta jejak kebijakan yang diajukan dinilai tidak hanya dari sisi konsep, tetapi juga keberlanjutan dan dampaknya bagi pemajuan kebudayaan.
Dalam sambutannya saat membuka tahapan presentasi Anugerah Kebudayaan PWI Pusat, Kamis (8/1/2026), Yusuf menekankan pentingnya kepemimpinan dalam menjaga nilai-nilai budaya.
“Pemimpin adalah penjaga budaya yang luhur,” tuturnya, seraya menegaskan bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan fondasi etis dan kultural bagi arah pembangunan masa depan.
Perspektif ini sejalan dengan pandangan Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Mataram. Kepala Diskominfo Kota Mataram, Ramadhani, yang mengawal usulan penghargaan tersebut, menyampaikan bahwa Anugerah Kebudayaan PWI Pusat memiliki konteks penting: peran media sebagai mitra strategis dalam membangun city branding.
Selama ini, Mataram relatif menghadapi tantangan dalam mem-branding identitas kotanya.
Dengan mengangkat ikon Gerbang Sangkareang, Mataram seperti menemukan momentum dan cara cepat bahkan melompat untuk memperkenalkan simbol budaya yang sekaligus merepresentasikan masa depan kota.
“Inilah makna Heritage meets Modernity,” ujarnya.
Sebagai humas pemerintah kota, Diskominfo memikul peran memperkenalkan keunikan dan kebaikan Mataram di tengah arus modernisasi kota-kota yang kian seragam.
“Ini menjadi arus balik dari globalisasi: menjadi kota modern, tetapi memiliki karakter dan identitas yang kuat,” jelas Ramadhani.
Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026 yang diraih Wali Kota Mataram bukan sekadar trofi atau seremoni. Ia menjadi penanda bahwa pembangunan kota yang berakar pada budaya bukanlah romantisme masa lalu, melainkan strategi visioner.
Melalui Gerbang Sangkareang, Mataram menunjukkan bahwa identitas lokal dapat berjalan seiring dengan modernitas. Menjadi sumber kebanggaan warga, energi kreatif ekonomi, sekaligus bahasa diplomasi budaya di tingkat nasional dan internasional. (aks)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : Diskominfo Kota Mataram































