Menata Sampah, Menjaga Kota: Langkah Terukur NTB di TPA Kebon Kongok

- Penulis

Rabu, 21 Januari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Dua skema utama pun disiapkan: solusi jangka pendek melalui perluasan landfill, serta solusi jangka panjang dengan penerapan teknologi waste to energy (WTE)   (Foto: ist)

Dua skema utama pun disiapkan: solusi jangka pendek melalui perluasan landfill, serta solusi jangka panjang dengan penerapan teknologi waste to energy (WTE) (Foto: ist)

CERAKEN.ID– Persoalan persampahan kerap hadir sebagai bayang-bayang pembangunan perkotaan. Di Nusa Tenggara Barat (NTB), tantangan itu berpusat di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Regional Kebon Kongok, simpul penting pengelolaan sampah yang melayani Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat.

Menyadari kompleksitas persoalan tersebut, Pemerintah Provinsi NTB menyiapkan langkah terukur dengan memadukan solusi darurat dan strategi jangka panjang yang berkelanjutan.

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan bahwa penanganan persampahan di Kebon Kongok tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan pendekatan bertahap dan realistis agar layanan persampahan tetap berjalan sekaligus membuka jalan menuju sistem pengelolaan yang lebih modern.

Dua skema utama pun disiapkan: solusi jangka pendek melalui perluasan landfill, serta solusi jangka panjang dengan penerapan teknologi waste to energy (WTE).

“Untuk jangka pendek, kita tidak punya pilihan selain memperluas landfill. Ini harus segera dikerjakan agar tidak terjadi krisis sampah berulang,” ujar Gubernur Miq Iqbal dalam rapat koordinasi penanganan persampahan, Rabu (21/1), di Ruang Kerja Gubernur NTB.

Pernyataan tersebut mencerminkan urgensi yang dihadapi pemerintah daerah. Lonjakan volume sampah, pertumbuhan penduduk, serta keterbatasan daya tampung TPA menjadi kombinasi persoalan yang tidak dapat ditunda penanganannya. Tanpa langkah cepat, risiko penumpukan sampah dan terganggunya pelayanan publik akan semakin besar.

Rapat koordinasi itu dihadiri Wali Kota Mataram Mohan Roliskana, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini, serta Pelaksana Harian Sekretaris Daerah Provinsi NTB.

Baca Juga :  Lombok Art Market: Membangun Ekosistem Seni, Bukan Sekadar Menggelar Perayaan

Dalam forum tersebut, Gubernur menjelaskan bahwa perluasan landfill di TPA Regional Kebon Kongok akan dilakukan secara bertahap dengan memanfaatkan lahan yang telah siap secara teknis. Langkah ini diproyeksikan mampu menambah daya tampung TPA hingga sekitar dua tahun ke depan.

Masa dua tahun tersebut dipandang sebagai ruang waktu krusial bagi pemerintah daerah untuk menyiapkan solusi permanen. Sebab, perluasan landfill hanyalah jawaban sementara atas persoalan yang bersifat struktural. Tanpa perubahan sistem, persoalan sampah berpotensi kembali berulang.

Karena itu, Pemerintah Provinsi NTB secara paralel mendorong percepatan realisasi teknologi waste to energy (WTE) sebagai solusi jangka panjang. Teknologi ini tidak hanya mengurangi volume sampah secara signifikan, tetapi juga mengonversinya menjadi energi, sehingga memberikan nilai tambah dari limbah yang selama ini dipandang sebagai beban.

Menurut Gubernur Miq Iqbal, minat investor terhadap penerapan WTE di NTB mulai terlihat. Sejumlah perusahaan telah mengajukan proposal, menandakan adanya peluang kerja sama yang dapat mempercepat transformasi pengelolaan sampah di daerah ini. Namun demikian, realisasi WTE memerlukan kehati-hatian dan sinkronisasi regulasi lintas sektor.

Dalam skema pembiayaan penanganan jangka pendek, disepakati pembagian beban anggaran dengan proporsi 40 persen Pemerintah Provinsi NTB, 40 persen Pemerintah Kota Mataram, dan 20 persen Pemerintah Kabupaten Lombok Barat. Pemerintah provinsi juga memastikan anggaran pembebasan lahan pendukung telah disiapkan.

Baca Juga :  Menemukan Talenta ASN, NTB Perkuat Fondasi Birokrasi Berbasis Merit dan Data

“Pemprov NTB tengah berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup serta Kementerian PUPR untuk menyelaraskan regulasi,” jelasnya.

Koordinasi ini menjadi penting mengingat TPA Regional Kebon Kongok melayani dua daerah administratif sekaligus, yakni satu kota dan satu kabupaten, yang masing-masing memiliki kewenangan dan kebutuhan berbeda.

Di titik inilah peran pemerintah provinsi menjadi strategis sebagai penghubung kebijakan dan penjamin keselarasan antarwilayah. Tanpa koordinasi yang kuat, pengelolaan TPA regional berpotensi terhambat oleh perbedaan kebijakan dan kepentingan lokal.

“Target kita jelas, penyelesaian jangka pendek harus tuntas tahun ini, sehingga tidak perlu lagi menetapkan status darurat sampah ke depan,” kata Miq Iqbal.

Langkah terukur yang disiapkan Pemerintah Provinsi NTB menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak lagi dipandang sekadar isu teknis, melainkan persoalan tata kelola dan keberlanjutan lingkungan. Perluasan landfill menjawab kebutuhan mendesak hari ini, sementara WTE menjadi investasi masa depan bagi sistem pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan dan bernilai ekonomi.

Di tengah tekanan urbanisasi dan meningkatnya produksi sampah, arah kebijakan ini menjadi penanda penting: bahwa menjaga kebersihan kota dan kelestarian lingkungan membutuhkan keberanian mengambil keputusan, konsistensi dalam pelaksanaan, serta kolaborasi lintas daerah dan lintas sektor.

Dari Kebon Kongok, NTB berupaya merumuskan jalan keluar agar sampah tidak lagi menjadi krisis, melainkan dikelola sebagai bagian dari solusi pembangunan berkelanjutan. (aks)**

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita: Akun Biro Umum dan Adpim NTB

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menemukan Talenta ASN, NTB Perkuat Fondasi Birokrasi Berbasis Merit dan Data
Lombok Art Market: Membangun Ekosistem Seni, Bukan Sekadar Menggelar Perayaan
Akar Budaya untuk Masa Depan Anak NTB
Tak Ada yang Tertinggal: Desa Berdaya Menjadi Jalan NTB Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem
Seaplane dan Taruhan Baru Pariwisata NTB: Antara Batujai, Pengga, dan Pusat Pertumbuhan yang Lebih Merata
Menyemai Rasa di Jantung Mandalika: Ketika Kuliner Lokal Menjadi Wajah Pariwisata Lombok
Saat Tempat Kerja Menjadi Ruang Aman: Otsuka dan RS Marzoeki Mahdi Membangun Budaya Peduli Kesehatan Mental
Membaca Masa Depan Teater dari Mataram: Fragmen Tengah Menjadi Laboratorium Pengetahuan Bersama

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 12:31 WITA

Menemukan Talenta ASN, NTB Perkuat Fondasi Birokrasi Berbasis Merit dan Data

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 20:30 WITA

Lombok Art Market: Membangun Ekosistem Seni, Bukan Sekadar Menggelar Perayaan

Selasa, 28 Juli 2026 - 14:53 WITA

Akar Budaya untuk Masa Depan Anak NTB

Selasa, 28 Juli 2026 - 14:25 WITA

Tak Ada yang Tertinggal: Desa Berdaya Menjadi Jalan NTB Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem

Rabu, 15 Juli 2026 - 22:04 WITA

Seaplane dan Taruhan Baru Pariwisata NTB: Antara Batujai, Pengga, dan Pusat Pertumbuhan yang Lebih Merata

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA