APBN Ekspansif Awal 2026: Akselerasi Belanja Negara untuk Menjaga Daya Beli dan Pertumbuhan

Rabu, 25 Februari 2026 - 05:18 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

“Percepatan belanja ini adalah bentuk dukungan APBN untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga kesejahteraan masyarakat secara langsung,” ujar Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara (Foto: kemenkeu.go.id)

“Percepatan belanja ini adalah bentuk dukungan APBN untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga kesejahteraan masyarakat secara langsung,” ujar Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara (Foto: kemenkeu.go.id)

CERAKEN.ID — Jakarta, (23/2). Pemerintah melalui Kementerian Keuangan Republik Indonesia melaporkan kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang ekspansif pada awal tahun. 

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan, hingga Januari 2026 realisasi belanja negara telah mencapai Rp227 triliun, tumbuh 25,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Lonjakan belanja ini bukan sekadar angka statistik. Pemerintah menempatkannya sebagai strategi fiskal untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2026, terutama dengan mendorong konsumsi rumah tangga dan mempercepat investasi, khususnya di sektor infrastruktur.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bansos dan Belanja Barang: Menopang Daya Beli

Dari total realisasi belanja pemerintah pusat sebesar Rp131,9 triliun, salah satu sorotan utama adalah peningkatan tajam pada pos bantuan sosial (bansos) dan belanja barang. Realisasi bansos mencapai Rp9,5 triliun, lebih dari dua kali lipat dibandingkan Januari tahun lalu yang sebesar Rp4,1 triliun.

Kenaikan ini dipicu percepatan penyaluran Program Keluarga Harapan (PKH) Triwulan I yang sudah dimulai sejak Januari. Langkah ini menunjukkan pendekatan front-loading atau percepatan belanja di awal tahun untuk memastikan daya beli masyarakat rentan tetap terjaga, sekaligus menjadi bantalan ekonomi di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.

Di sisi lain, belanja barang yang meningkat mencerminkan percepatan operasional kementerian dan lembaga dalam menjalankan program prioritas. Pola ini memberi sinyal bahwa pemerintah berupaya menghindari penumpukan belanja di akhir tahun, yang kerap menimbulkan inefisiensi dan tekanan administratif.

MBG: Lonjakan Realisasi dan Jangkauan Nasional

Program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu pendorong signifikan belanja awal tahun. Pada Januari 2026, realisasi program ini mencapai Rp19,5 triliun, melonjak drastis dibandingkan Januari 2025 yang baru sebesar Rp45 miliar.

Baca Juga :  Link and Match di Tanah Gerung: Ikhtiar NTB Menjadikan SMK Mesin Solusi Pengangguran

Per 21 Februari 2026, program MBG telah menjangkau 60,24 juta penerima melalui 23.678 Satuan Pelayanan Perangkat Gizi (SPPG) yang tersebar di seluruh Indonesia. Skala implementasi yang luas ini memperlihatkan komitmen pemerintah dalam memperkuat intervensi gizi sebagai bagian dari investasi sumber daya manusia jangka panjang.

Dari perspektif ekonomi, belanja untuk MBG tidak hanya berdampak pada penerima manfaat, tetapi juga menciptakan efek berganda (multiplier effect) melalui pengadaan bahan pangan lokal, distribusi, serta pelibatan tenaga kerja di tingkat daerah.

Pendidikan Tetap Jadi Prioritas

Sektor pendidikan kembali menempati posisi strategis dalam struktur APBN 2026. Hingga Januari, realisasi anggaran pendidikan mencapai Rp56,5 triliun dari total pagu Rp769,1 triliun.

Alokasi ini mencakup Program Indonesia Pintar (PIP), KIP Kuliah, tunjangan profesi guru dan dosen, hingga Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Pemerintah juga menargetkan pembangunan 104 sekolah rakyat baru dan revitalisasi hampir 12.000 sekolah dengan anggaran Rp17,6 triliun tahun ini.

Konsistensi belanja pendidikan menunjukkan orientasi jangka panjang pemerintah untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia. Di tengah dorongan belanja yang ekspansif, pendidikan tetap menjadi jangkar pembangunan, bukan sekadar komponen rutin.

Infrastruktur: Pangan, Energi, dan Konektivitas

Untuk tahun 2026, pemerintah mengalokasikan pagu infrastruktur sebesar Rp434,8 triliun. Fokusnya diarahkan pada penguatan swasembada pangan, ketahanan energi, serta konektivitas wilayah.

Proyek strategis mencakup pembangunan bendungan, jaringan irigasi, cetak sawah, serta pembangunan jalan dan jembatan melalui Kementerian Pekerjaan Umum. Langkah ini diharapkan memperkuat produktivitas sektor pertanian dan memperlancar arus logistik nasional.

Baca Juga :  Merawat Ikatan Diaspora Lombok di Labuan Bajo

Sebagai bagian dari stabilisasi harga dan stok pangan, pemerintah telah mencairkan Rp22,7 triliun kepada Perum Bulog per 31 Januari 2026 untuk penyerapan gabah dan beras petani. Kebijakan ini bukan hanya menjaga kesejahteraan petani, tetapi juga menjadi instrumen pengendalian inflasi pangan.

Transfer ke Daerah dan Respons Bencana

Realisasi Transfer ke Daerah (TKD) hingga Januari mencapai Rp95,3 triliun. Dana ini menjadi instrumen penting untuk menjaga kesinambungan layanan publik di daerah, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga infrastruktur dasar.

Khusus untuk wilayah terdampak bencana di Sumatera: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, pemerintah memberikan relaksasi syarat penyaluran serta menyiapkan tambahan alokasi Rp10,65 triliun. Dana tersebut dijadwalkan mulai dicairkan secara bertahap pada akhir Februari 2026.

Kebijakan ini menunjukkan fleksibilitas fiskal dalam merespons situasi darurat, sekaligus memastikan pemulihan ekonomi daerah dapat berlangsung lebih cepat.

Menjaga Momentum Pertumbuhan

Percepatan belanja di awal tahun mencerminkan strategi fiskal yang lebih progresif dan terukur. Dengan belanja negara yang tumbuh signifikan, pemerintah berharap konsumsi rumah tangga tetap kuat, proyek infrastruktur berjalan lebih cepat, dan dampak ekonomi dapat terasa sejak triwulan pertama.

“Percepatan belanja ini adalah bentuk dukungan APBN untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga kesejahteraan masyarakat secara langsung,” ujar Suahasil.

APBN 2026, setidaknya pada awal tahun ini, tampil sebagai instrumen yang bukan hanya menjaga stabilitas, tetapi juga mendorong ekspansi.

Tantangannya ke depan adalah memastikan kualitas belanja tetap terjaga: tepat sasaran, efisien, dan berdampak nyata bagi perekonomian nasional. (dm/al)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita : kemenkeu.go.id

Berita Terkait

Link and Match di Tanah Gerung: Ikhtiar NTB Menjadikan SMK Mesin Solusi Pengangguran
Dari Ruang Virtual ke Aksi Nyata: Sinergi BPSDMD NTB dan Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia untuk Pemimpin Birokrasi Inovatif
Rinjani untuk Semua: Mendorong Tata Kelola Inklusif dan Berkelas Dunia
Pembiayaan APBN 2026 Terkendali: Strategi Terukur di Tengah Dinamika Pasar Global
APBN Awal Tahun Menguat: Antara Optimisme Fiskal dan Tantangan Dinamika Global
Hak yang Sama di Pintu Eselon II: Meritokrasi, Kekerabatan, dan Ujian Integritas Birokrasi NTB
Ramadhan dan Etos Pelayanan: Ketika Spiritualitas Menjadi Fondasi Birokrasi di Lombok Utara
Menjaga Nalar di Tengah Lonjakan Harga Cabai

Berita Terkait

Jumat, 27 Februari 2026 - 11:15 WITA

Link and Match di Tanah Gerung: Ikhtiar NTB Menjadikan SMK Mesin Solusi Pengangguran

Kamis, 26 Februari 2026 - 11:16 WITA

Dari Ruang Virtual ke Aksi Nyata: Sinergi BPSDMD NTB dan Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia untuk Pemimpin Birokrasi Inovatif

Rabu, 25 Februari 2026 - 11:07 WITA

Rinjani untuk Semua: Mendorong Tata Kelola Inklusif dan Berkelas Dunia

Rabu, 25 Februari 2026 - 06:00 WITA

Pembiayaan APBN 2026 Terkendali: Strategi Terukur di Tengah Dinamika Pasar Global

Rabu, 25 Februari 2026 - 05:18 WITA

APBN Ekspansif Awal 2026: Akselerasi Belanja Negara untuk Menjaga Daya Beli dan Pertumbuhan

Berita Terbaru

Tempah Dedoro mengajak masyarakat untuk bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan sendiri (Foto: ist)

AJONG MENTARAM

Menuju Kota Bersih: Di Tengah Krisis TPA, Asa Itu Tetap Menyala

Jumat, 27 Feb 2026 - 10:07 WITA