Dari Sawah ke Sinyal: Momentum Transformasi Ekonomi Desa di NTB

Sabtu, 21 Februari 2026 - 15:42 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Transformasi ini bukan sekadar perubahan angka statistik, tetapi perubahan cara desa memaknai perannya dalam ekonomi regional (Foto: ist)

Transformasi ini bukan sekadar perubahan angka statistik, tetapi perubahan cara desa memaknai perannya dalam ekonomi regional (Foto: ist)

CERAKEN.ID — Mataram, 20 Februari 2026 — Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah berdiri di persimpangan penting sejarah ekonominya. Di satu sisi, denyut nadi daerah ini masih kuat bertumpu pada pertanian. Di sisi lain, geliat industri mikro dan konektivitas digital mulai membuka babak baru transformasi desa menuju kesejahteraan yang lebih merata.

Data terbaru memperlihatkan gambaran yang tegas: dari 1.180 desa/kelurahan di NTB, sebanyak 943 desa atau 79,92 persen masih menggantungkan penghasilan utama pada sektor pertanian.

Angka ini menegaskan struktur ekonomi NTB tetap agraris. Subsektor tanaman pangan bahkan menjangkau 798 desa, menunjukkan sawah dan ladang masih menjadi ruang hidup utama masyarakat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun desa-desa di NTB tak lagi berjalan dalam pola lama semata.

Dari Produksi Primer ke Nilai Tambah

Di balik dominasi pertanian, muncul dinamika ekonomi baru yang menjanjikan. Sebanyak 1.155 desa telah memiliki Industri Mikro dan Kecil (IMK), dan 195 desa berkembang menjadi sentra industri.

Fenomena ini paling terasa di Kabupaten Lombok Timur, yang mencatat konsentrasi sentra industri tertinggi di NTB.

Industri kecil berbasis lokal menjadi jembatan antara produksi primer dan nilai tambah. Hasil pertanian tak lagi sekadar dijual dalam bentuk mentah.

Jagung diolah menjadi pakan ternak, singkong menjadi produk olahan, cabai dikemas dengan standar pasar modern. Desa perlahan bergerak dari sekadar produsen bahan baku menjadi pelaku ekonomi kreatif berbasis komunitas.

Transformasi ini mencerminkan perubahan paradigma pembangunan desa. Jika sebelumnya desa diposisikan sebagai ujung rantai produksi, kini desa mulai naik kelas sebagai aktor dalam rantai nilai. Hilirisasi menjadi kata kunci: mengolah, mengemas, memperluas pasar.

Perubahan struktur ekonomi desa semakin diperkuat oleh akses digital yang hampir merata. Seluruh desa/kelurahan di NTB kini telah terjangkau sinyal internet, dengan 1.139 desa menikmati jaringan 4G/5G.

Konektivitas ini bukan sekadar simbol modernisasi, tetapi fondasi bagi digitalisasi UMKM, pemasaran hasil tani, hingga akses informasi harga pasar secara real-time.

Petani hortikultura kini dapat memantau harga cabai di berbagai pasar sebelum menjual hasil panen. Pelaku IMK memanfaatkan media sosial dan marketplace untuk memperluas jangkauan distribusi.

Baca Juga :  Nasyidah dalam Buku "Memoar Pustakawan Sejati"

Informasi yang dahulu terbatas kini terbuka lebar. Asimetri informasi perlahan menyempit.

Pertanian yang kuat, IMK yang tumbuh, dan internet yang menjangkau desa, kombinasi ini menjadi modal besar bagi percepatan pemerataan ekonomi. Desa tak lagi terisolasi; ia terkoneksi.

Kemiskinan yang Menurun, Tantangan yang Bertahan

Di tengah geliat transformasi tersebut, tantangan sosial ekonomi tetap membayangi. Per Maret 2025, jumlah penduduk miskin di NTB tercatat 654,57 ribu orang atau 11,78 persen.

Angka ini turun 4,03 ribu orang dibanding September 2024, dengan penurunan 0,13 poin persen.

Penurunan ini menunjukkan arah yang positif, meski masih gradual. Namun garis kemiskinan NTB naik menjadi Rp556.846 per kapita per bulan, meningkat 3,05 persen.

Biaya untuk memenuhi kebutuhan dasar semakin tinggi. Struktur garis kemiskinan menunjukkan 75,86 persen disumbang oleh kebutuhan makanan.

Komoditas seperti beras, telur ayam ras, daging ayam ras, cabai rawit, hingga rokok kretek dan rokok filter menjadi penyumbang utama. Fakta ini menegaskan bahwa stabilitas harga pangan sangat menentukan dinamika kemiskinan di NTB.

Fluktuasi harga cabai dan beras bukan sekadar soal pasar, melainkan soal daya tahan ekonomi ribuan keluarga.

Di sinilah ironi sekaligus peluang hadir: NTB adalah daerah agraris, tetapi stabilitas harga pangan tetap menjadi penentu utama kesejahteraan masyarakatnya.

Di tengah tekanan harga kebutuhan pokok, kabar menggembirakan datang dari sektor pertanian. Nilai Tukar Petani (NTP) NTB pada Desember 2025 tercatat 134,14, naik 4,50 persen dibanding bulan sebelumnya.

Karena NTP berada di atas 100, ini berarti petani mengalami surplus, pendapatan yang diterima lebih besar dibanding pengeluaran yang dibayarkan.

Kenaikan terbesar datang dari subsektor hortikultura dengan NTP mencapai 255,85, menjadi motor utama peningkatan kesejahteraan petani. Disusul tanaman pangan (125,53), peternakan (112,94), perikanan (106,82), dan perkebunan rakyat (102,59). Seluruh subsektor berada dalam posisi surplus.

Angka-angka ini memberi sinyal kuat: di tingkat produsen, daya beli dan margin usaha petani membaik secara signifikan. Jika tren ini konsisten dan diiringi penguatan hilirisasi serta stabilitas harga, sektor pertanian dapat menjadi lokomotif penurunan kemiskinan yang lebih cepat pada masa mendatang.

Baca Juga :  Kampus dan Industri Media Membangun Arah Baru Pendidikan Tinggi di NTB

Hortikultura, khususnya, menunjukkan potensi luar biasa. Namun karakter komoditas ini yang mudah rusak menuntut dukungan infrastruktur seperti cold storage, distribusi cepat, dan sistem logistik yang efisien.

Tanpa itu, surplus di tingkat petani dapat tergerus oleh fluktuasi harga dan kerugian pascapanen.

Momentum yang Tak Boleh Terlewat

Gambaran besar ekonomi NTB menunjukkan dinamika yang kompleks namun penuh peluang. Desa tetap agraris, tetapi mulai terdorong ke arah diversifikasi ekonomi.

Kemiskinan menurun, namun sensitif terhadap harga pangan. Kesejahteraan petani membaik, terutama di subsektor hortikultura. Digitalisasi membuka jalan percepatan nilai tambah.

Ke depan, penguatan hilirisasi pertanian dan agroindustri desa menjadi kunci. Produk hortikultura unggulan perlu didorong masuk ke rantai pasok modern, didukung fasilitas penyimpanan, pengemasan, sertifikasi, hingga pemasaran digital berbasis data.

Stabilisasi harga pangan harus menjadi strategi utama pengendalian kemiskinan. Di NTB, harga cabai dan beras bisa menentukan nasib ribuan keluarga. Kebijakan distribusi, cadangan pangan, hingga penguatan peran BUMDes dapat menjadi instrumen penting menjaga keseimbangan pasar.

Selain itu, Program Desa Berdaya yang menyasar pengentasan kemiskinan ekstrem secara gradual pada 106 desa di NTB menjadi bagian dari ikhtiar struktural mempercepat transformasi. Intervensi terfokus di desa-desa dengan tingkat kerentanan tertinggi akan menentukan kecepatan pemerataan kesejahteraan.

NTB sedang bergerak. Dari desa yang bertumpu pada sawah dan ladang, menuju desa yang terhubung, produktif, dan mandiri.

Transformasi ini bukan sekadar perubahan angka statistik, tetapi perubahan cara desa memaknai perannya dalam ekonomi regional.

Jika momentum ini terus terjaga, pertanian yang surplus, industri mikro yang tumbuh, digitalisasi yang meluas, serta kebijakan yang konsisten, maka transformasi ekonomi desa bukan hanya wacana.

Ia menjadi jalan nyata menuju kesejahteraan yang lebih merata di Nusa Tenggara Barat.(edo/dyd/kominfotikntb)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita : akun pemprov ntb

Berita Terkait

Menata Ulang Mesin Birokrasi NTB: Dari Konsolidasi Menuju Akselerasi
Inflasi Awal Tahun dan Ujian Konsolidasi Daerah di NTB
Orkestrasi Pembangunan NTB: Sinkronisasi Daerah untuk Percepatan Kesejahteraan
Transisi Ekonomi dan Mesin Pertumbuhan Baru Indonesia
Kampus dan Industri Media Membangun Arah Baru Pendidikan Tinggi di NTB
Ekonomi Indonesia 2025 Tumbuh Kokoh, Fondasi Menuju Pertumbuhan Berkelanjutan
APBN 2026 dan Upaya Menjaga Akses Kesehatan Publik
Nasyidah dalam Buku “Memoar Pustakawan Sejati”

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 15:42 WITA

Dari Sawah ke Sinyal: Momentum Transformasi Ekonomi Desa di NTB

Sabtu, 21 Februari 2026 - 09:44 WITA

Menata Ulang Mesin Birokrasi NTB: Dari Konsolidasi Menuju Akselerasi

Kamis, 19 Februari 2026 - 23:34 WITA

Inflasi Awal Tahun dan Ujian Konsolidasi Daerah di NTB

Sabtu, 14 Februari 2026 - 09:17 WITA

Orkestrasi Pembangunan NTB: Sinkronisasi Daerah untuk Percepatan Kesejahteraan

Jumat, 13 Februari 2026 - 18:33 WITA

Transisi Ekonomi dan Mesin Pertumbuhan Baru Indonesia

Berita Terbaru

Transformasi ini bukan sekadar perubahan angka statistik, tetapi perubahan cara desa memaknai perannya dalam ekonomi regional (Foto: ist)

INFORIAL

Dari Sawah ke Sinyal: Momentum Transformasi Ekonomi Desa di NTB

Sabtu, 21 Feb 2026 - 15:42 WITA

Di sinilah letak kekuatan kebangru’an, ia bukan sekadar seni, melainkan cara hidup, cara mengingat, dan cara merayakan kemanusiaan (Foto: ist)

BUDAYA

Meretas Jalan, Menebar Ritus Kebangru’an

Jumat, 20 Feb 2026 - 15:15 WITA

“Narratives” bukan hanya ruang apresiasi, tetapi juga bagian dari strategi diplomasi kebudayaan (Foto: aks/ceraken.id)

PAGELARAN

Narratives: Mozaik Kisah Perupa Mandalika dalam Arus Zaman

Jumat, 20 Feb 2026 - 10:50 WITA