Nasyidah dalam Buku “Memoar Pustakawan Sejati”

- Penulis

Senin, 9 Februari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Adriani binti Nasir (kiri) menerima Buku "Memoar Pustakawan Sejati" (Foto: ist)

Adriani binti Nasir (kiri) menerima Buku "Memoar Pustakawan Sejati" (Foto: ist)

CERAKEN.ID– Makassar- Buku “Memoar Pustakawan Sejati” karya Nasyidah, S.Sos, M.AP, Pustakawan Ahli Utama (Pustama), pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusarsip) Provinsi Sulawesi Selatan, diserahkan untuk jadi koleksi perpustakaan pada Senin, 9 Februari 2026.

Rusdin Tompo, sebagai editor, menyerahkan buku yang mendokumentasikan perjalanan karier penulisnya, di dua perpustakaan berbeda, tetapi pada hari yang sama.

Buku terbitan Arsy Media itu, pertama diserahkan kepada Adriani binti Nasir, SIP, pustakawan Dispusarsip Sulsel, di Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan, Jalan Sultan Alauddin, Talasalapang, Makassar.

Buku keempat dari Nasyidah itu, diserahkan pula kepada Sri Wachyuni Ismail, Pustakawan, pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gowa, untuk jadi koleksi Gedung Layanan Perpustakaan Umum Kabupaten Gowa, yang beralamat di Jalan Masjid Raya, Sungguminasa.

Sebelumnya, Nasyidah telah menghasilkan tiga buku, masing-masing berjudul “Perpustakaan 4.0” (Penerbit Pakalawaki, 2023), “Perpustakaan Ibu dan Anak” (Penerbit Pakalawaki, 2024), dan “Layanan Perpustakaan Berkualitas” (Penerbit Arsy Media, Makassar, 2024). Ketiga buku itu juga disunting oleh Rusdin Tompo.

“Perjalanan karier saya sudah sampai ke pengujung. Ibarat lembaran-lembaran buku, seorang penulis akan menamatkan kisah yang ditulisnya,” tulis wanita kelahiran Watampone, Kabupaten Bone, 27 Mei 1961 itu.

Sebagai pustakawan, katanya, ia ingin meninggalkan jejak dan pembelajaran. Juga inspirasi dan motivasi bagi pustakawan dan mereka yang akan menggeluti profesi sebagai pustakawan profesional.

Buku “Memoar Pustakawan Sejati” merupakan kisah pribadinya sebagai fungsional pustakawan, yang menapaki karier dari bawah.

Semua jenjang ia jalani, sejak masih menjadi pegawai honorer hingga terangkat sebagai ASN, semuanya sebagai pustakawan.

Baca Juga :  Lombok Art Market: Membangun Ekosistem Seni, Bukan Sekadar Menggelar Perayaan

Pendidikannya pun begitu: ilmu perpustakaan.

“DNA saya adalah pustakawan. Saya tidak pernah berada di organisasi perangkat daerah (OPD) lain, selain Dispusarsip,” bebernya dalam buku.

Suaminya, Syamsuddin Bakry, SE, merupakan pensiunan Pustakawan pada dinas yang sama dengannya.

Nasyidah menamatkan pendidikan Diploma 3 Ilmu Perpustakaan, Unhas, tahun 1983. Ia meraih gelar Sarjana Sosial (S1) Ilmu Perpustakaan, Unhas, tahun 2001. Kemudian gelar S2 Magister Administrasi Publik, pada Program Pascasarjana Unismuh, Makassar, tahun 2013.

Riwayat pendidikan non formalnya, antara lain Diklat Fungsional Kompetensi Kepustakawanan, Managerial dan Sosial Kultural (Perpustakaan Nasional), Diklat Fungsional Training of Trainers (ToT) (Perpustakaan Nasional, 2014), dan Diklat Tenaga Promosi dan Etika Layanan Perpustakaan (Perpustakaan Nasional, 1994).

Nasyidah tak hanya punya legitimasi akademik sebagai pustakawan, tetapi juga setia selama 37 tahun sebagai pustakawan Dispusarsip Provinsi Sulawesi Selatan.

Sri Wachyuni Ismail (kanan) adalah Pustakawan, pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gowa (Foto: ist)

Dalam buku memoarnya, disampaikan bahwa sebagai pustakawan profesional, ia dituntut memiliki keterampilan teknis, kemampuan komunikasi, manajemen informasi tentang koleksi yang dimiliki perpustakaan, juga sikap melayani, serta mau belajar, dan kreatif.

Orientasi melayani ini, bahkan tak hanya sebatas untuk pengunjung di perpustakaan, tetapi juga ketika menjangkau daerah-daerah terpencil.

Misalnya, dia pernah dari Sinjai Selatan ke Sinjai Barat untuk mengajar mahasiswa Universitas Terbuka di sana.

Daerah yang mau didatangi sama sekali tidak dia tahu, dan juga tidak punya gambaran sama sekali, berapa jauhnya. Dia diantar tukang ojek saat ke sana.

Medannya begitu berat: melewati hutan, yang sama sekali tidak ada perkampungan, lalu melewati bukit, kemudian jalanan rintisan yang jelek.

Baca Juga :  Menemukan Talenta ASN, NTB Perkuat Fondasi Birokrasi Berbasis Merit dan Data

Dalam hati dia berkata, kalau orang yang memboncengnya itu mau mencederai atau membunuhnya, maka tidak ada yang tahu.

Meski kejadian buruk itu tidak terjadi, tetapi situasinya membuat dia meneteskan air mata.

Nasyidah menangis, begitu tiba di lokasi mengajarnya sebagai dosen luar biasa (LB) Universitas Terbuka. Dia mengampu mata kuliah Ilmu Perpustakaan.

“Pustakawan dituntut dan ditantang untuk mandiri dan mau berbagi pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki,” imbuhnya.

Nasyidah meyakini bahwa posisi pustakawan sejati yang mengabdi dengan ketulusan hati, tak tergantikan oleh mesin.

Karier jabatan fungsional pustakawannya, mulai dari Asisten Pustakawan (1995-1997), Ajun Pustakawan Muda (1997-1999), Ajun Pustakawan Madya (1999-2002), Pustakawan Pratama (2002-2005), Pustakawan Muda (2005-2009), dan Pustakawan Madya (2009-2021).

Kini Nasyidah sebagai Pustakawan Ahli Utama (Pustama), berdasarkan SK Presiden Nomor 53/K Tahun 2020, yang ditandatangani Presiden RI, Joko Widodo, tanggal 27 Oktober 2020.

Dia dilantik sebagai Pejabat Fungsional Pustakawan Ahli Utama oleh Gubernur Sulawesi Selatan, pada tanggal 31 Maret 2021.

Nasyidah berpangkat/golongan Pembina Utama Madya/ IV/d.

Selama berkarier sebagai pustakawan, Nasyidah pernah mendapat penghargaan, berupa Satyalancana Karya Satya 20 Tahun oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang diterima pada tahun 2009.

Juga penghargaan Satyalancana Karya Satya 30 Tahun oleh Presiden Joko Widodo, yang diperolehnya pada tahun 2019.

Dalam buku memoarnya, Nasyidah bukan hanya menceritakan dinamika hidupnya sebagai pustakawan. Namun juga pengalamannya memberikan orasi sebagai Pustama di Perpustakaan Nasional RI, yang begitu berkesan. (*)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menemukan Talenta ASN, NTB Perkuat Fondasi Birokrasi Berbasis Merit dan Data
Lombok Art Market: Membangun Ekosistem Seni, Bukan Sekadar Menggelar Perayaan
Akar Budaya untuk Masa Depan Anak NTB
Tak Ada yang Tertinggal: Desa Berdaya Menjadi Jalan NTB Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem
Seaplane dan Taruhan Baru Pariwisata NTB: Antara Batujai, Pengga, dan Pusat Pertumbuhan yang Lebih Merata
Menyemai Rasa di Jantung Mandalika: Ketika Kuliner Lokal Menjadi Wajah Pariwisata Lombok
Saat Tempat Kerja Menjadi Ruang Aman: Otsuka dan RS Marzoeki Mahdi Membangun Budaya Peduli Kesehatan Mental
Membaca Masa Depan Teater dari Mataram: Fragmen Tengah Menjadi Laboratorium Pengetahuan Bersama

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 12:31 WITA

Menemukan Talenta ASN, NTB Perkuat Fondasi Birokrasi Berbasis Merit dan Data

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 20:30 WITA

Lombok Art Market: Membangun Ekosistem Seni, Bukan Sekadar Menggelar Perayaan

Selasa, 28 Juli 2026 - 14:53 WITA

Akar Budaya untuk Masa Depan Anak NTB

Selasa, 28 Juli 2026 - 14:25 WITA

Tak Ada yang Tertinggal: Desa Berdaya Menjadi Jalan NTB Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem

Rabu, 15 Juli 2026 - 22:04 WITA

Seaplane dan Taruhan Baru Pariwisata NTB: Antara Batujai, Pengga, dan Pusat Pertumbuhan yang Lebih Merata

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA