CERAKEN.ID– Penghargaan kerap dipahami sebagai penanda prestasi administratif. Namun, ketika sebuah kota dan pemimpinnya masuk dalam radar apresiasi kebudayaan nasional, maknanya melampaui sekadar angka dan laporan.
Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana, yang terpilih sebagai satu dari sepuluh nominator terbaik Anugerah Kebudayaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Tahun 2026, tengah berada pada simpul penting perjalanan kebudayaan kota.
Ini bukan hanya soal Mataram sebagai ibu kota Provinsi NTB, melainkan tentang bagaimana identitas lokal dirawat dan diartikulasikan di tengah arus modernitas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menjelang babak presentasi akhir di Jakarta, Mohan tampak memaknai capaian ini dengan penuh kesadaran. Pada Senin (5/1), ia menggelar audiensi bersama jajaran pengurus PWI NTB di Kantor Wali Kota Mataram. Pertemuan itu bukan seremoni belaka, melainkan ruang konsolidasi gagasan dan strategi.
Di sanalah dirajut narasi besar tentang Mataram sebagai kota yang membangun dirinya dengan fondasi budaya, bukan sekadar beton dan aspal.
“Ini adalah kehormatan sekaligus tanggung jawab besar,” ujar Mohan dengan nada optimis.
Baginya, tampil di hadapan panel juri PWI Pusat pada 8–9 Januari mendatang berarti membawa marwah kebudayaan masyarakat Sasak dan NTB ke panggung nasional. Pernyataan itu menegaskan bahwa penghargaan ini diposisikan sebagai diplomasi budaya, bukan kompetisi kosong, melainkan dialog nilai.
Senjata utama yang diusung Pemerintah Kota Mataram dalam ajang ini adalah proposal karya budaya bertajuk Gerbang Sangkareang. Di permukaan, ia mungkin terlihat sebagai proyek arsitektur penanda wilayah.
Namun di balik struktur fisiknya, gerbang ini adalah manifestasi ideologis tentang cara kota memaknai dirinya sendiri. Konsep “Lumbung Kehidupan” yang diadopsi bukan sekadar ornamen, melainkan simbol sakral dalam kebudayaan Sasak: lambang kesejahteraan, ketahanan, dan kebersamaan.
Di tangan Mohan dan timnya, bentuk tradisional lumbung ditransformasikan menjadi desain kontemporer yang menyatu dengan denyut kota modern.
“Gerbang Sangkareang adalah titik temu antara nilai tradisi dan kebutuhan estetika modern,” katanya.
Ia dihadirkan sebagai ruang simbolik: siapa pun yang melintas di bawahnya diharapkan langsung merasakan jiwa Kota Mataram, sebuah kota yang berakar, namun tidak menolak perubahan.
Lebih dari itu, Gerbang Sangkareang telah memantik ekosistem kreatif yang luas. Proyek ini melibatkan kolaborasi lintas sektor: arsitek, desainer tekstil, perajin logam, hingga pelaku UMKM.
Dari proses tersebut lahir motif batik baru, penguatan kriya lokal, serta identitas visual kota yang kian kokoh. Di titik inilah kebudayaan berhenti menjadi wacana simbolik semata, dan menjelma sebagai penggerak ekonomi kreatif.
Proses seleksi Anugerah Kebudayaan PWI Pusat sendiri dikenal ketat. Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat, Yusuf Susilo Hartono, menegaskan bahwa sepuluh kepala daerah terpilih telah melewati penyisiran mendalam.
Penilaian tidak hanya bertumpu pada proposal, tetapi juga kesesuaiannya dengan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD), dukungan regulasi, serta dokumentasi visual yang ketebalannya mencapai ratusan halaman. Dalam konteks itu, lolosnya Mataram ke 10 besar nasional adalah capaian substantif, bukan keberuntungan sesaat.
Di Jakarta nanti, Mohan akan berhadapan dengan dewan juri yang merepresentasikan otoritas kebudayaan dan jurnalistik nasional: Dr. Nungki Kusumastuti, Agus Dermawan T, Sudjiwo Tejo, Akhmad Munir, hingga Yusuf Susilo Hartono sendiri. Mereka bukan hanya menilai kelengkapan data, tetapi juga kejujuran gagasan dan keberlanjutan visi.
Menariknya, gaung capaian Mataram mulai terdengar hingga ke daerah lain. Mohan mengungkapkan bahwa sejumlah pemerintah daerah telah menjalin komunikasi, tertarik mengadopsi konsep pembangunan berbasis karakter budaya yang diterapkan Mataram.
“Hasil penilaian nanti biarlah mengalir. Yang terpenting, nilai-nilai Mataram sudah diperkenalkan ke tingkat nasional,” ujarnya, menempatkan substansi di atas trofi.
Komitmen pengawalan juga datang dari PWI NTB. Ketua PWI NTB, Ahmad Ikliludin, menegaskan kesiapan organisasinya untuk berkolaborasi memastikan materi presentasi tampil maksimal. Momentum ini, menurutnya, adalah etalase untuk menunjukkan bahwa NTB bukan hanya kaya panorama, tetapi juga inovasi budaya.
Pernyataan itu diamini Sekretaris PWI NTB, Fahrul Mustofa, yang melihat ajang ini sebagai ruang pembelajaran kolektif bagi daerah.
Puncak penghargaan Anugerah Kebudayaan PWI Pusat dijadwalkan pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Provinsi Banten, 9 Februari mendatang. Apabila Mataram berhasil meraih penghargaan tersebut, ia akan menjadi kado awal tahun yang manis bagi warganya.
Namun, bahkan sebelum palu keputusan diketuk, satu hal telah jelas: melalui Gerbang Sangkareang, Mataram telah membuktikan bahwa kebudayaan bukan masa lalu yang dipajang, melainkan masa depan yang sedang dibangun. (aks)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : Diskominfo Kota Mataram































