Membaca Dayan Gunung dalam Kekinian

Senin, 9 Februari 2026 - 09:39 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Alfan Hadi, SH, MH — Praktisi Hukum asli Gumi Dayan Gunung

CERAKEN.ID– Secara harfiah, Dayan Gunung berasal dari bahasa Sasak. Dayan berarti “utara” atau “atas”, sedangkan gunung merujuk pada Rinjani.

Dalam kosmologi masyarakat Lombok Utara (KLU), Dayan Gunung bukan sekadar penunjuk arah geografis, melainkan identitas kultural yang menempatkan Gunung Rinjani sebagai orientasi spiritual, sumber kehidupan, sekaligus titik nol peradaban.

Penggunaan istilah Dayan Gunung berakar pada pembagian wilayah adat di Pulau Lombok. Sejak masa lampau, masyarakat di kaki Rinjani bagian utara membangun tatanan hidup yang memiliki ciri khas tersendiri dibanding wilayah Lauk (Selatan).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Merujuk pada pemukiman tua di daerah Bayan, kawasan Dayan Gunung juga dikenal sebagai salah satu pintu awal masuknya Islam di Lombok melalui tradisi Wetu Telu. Dalam konteks geopolitik budaya, istilah Dayan Gunung digunakan untuk membedakan karakter masyarakat yang memegang teguh Adat Gama, yakni sinkretisme harmonis antara hukum adat yang kuat dengan nilai-nilai Islam.

Muatan Multidimensional

Kearifan lokal masyarakat Dayan Gunung dikenal melalui ketaatan pada struktur pranata adat yang dipimpin oleh Pemangku, Tau Lokak, dan Kiai.

Ritual-ritual seperti Maulid Adat maupun Asuh-asuh memperlihatkan bahwa adat dipandang sebagai “pakaian”, sementara agama adalah “nyawa”. Kehidupan sosial budaya mereka bersifat kolektif-komunal, dengan semangat kebersamaan yang kuat.

Baca Juga :  Menakar Kinerja Tim Ahli Gubernur di Tengah Momentum Kebangkitan Ekonomi NTB

Dalam aspek agrikultur religius, ekonomi masyarakat Dayan Gunung sangat bergantung pada tanah dan air. Gunung Rinjani dipandang sebagai gudang air yang menopang kehidupan. Karena itu, praktik ekonomi tidak boleh bersifat eksploitatif.

Konsep Tanah Ulayat dan Hutan Tutupan (hutan terlarang) dijaga untuk mempertahankan keseimbangan alam sehingga keberlanjutan ekonomi tetap terpelihara.

Bagi masyarakat Dayan Gunung, menjaga alam merupakan bentuk ibadah kepada Sang Pencipta. Gunung menjadi kiblat spiritualitas lokal. Islam yang berkembang di wilayah ini bersifat inklusif terhadap tradisi, menekankan pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs) melalui penghormatan kepada leluhur dan alam.

Korelasi dengan Adagium “Mempolong Merenten”

Adagium mempolong merenten (bersaudara, kakak-adik) menjadi pilar sosiologis yang menyatukan masyarakat Dayan Gunung. Jika Dayan Gunung mencerminkan orientasi vertikal, relasi manusia dengan Tuhan dan alam, maka mempolong merenten menggambarkan orientasi horizontal, yakni relasi manusia dengan sesama.

Filosofi ini menekankan bahwa setiap individu di Lombok Utara, terlepas dari kasta atau status sosial, dipandang sebagai satu keluarga besar. Nilai ini menciptakan stabilitas sosial yang kuat dan menjadi salah satu mekanisme sosial dalam meredam serta menyelesaikan konflik.

Baca Juga :  Menjemput Kesembuhan di Tangan Belian: Potret Sosiologis Pengobatan Nonmedis di Bumi Dayan Gunung

Dalam praktik besiru atau gotong royong, nilai mempolong merenten menjadi motor penggerak ekonomi sosial, di mana beban berat dipikul bersama karena adanya rasa persaudaraan.

Secara akademis, filosofi Dayan Gunung dan mempolong merenten dapat dipahami sebagai bentuk modal sosial (social capital) yang kokoh. Di tengah arus modernitas, nilai-nilai tersebut berfungsi sebagai filter budaya agar masyarakat tetap memiliki pegangan identitas.

Ketika nilai-nilai ini diintegrasikan dengan pembangunan daerah, ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana, seperti gempa tahun 2018, menjadi bukti nyata kuatnya ikatan sosial mempolong merenten.

Lebih jauh lagi, apabila diwujudkan dalam pengembangan pariwisata budaya, keaslian adat Dayan Gunung dapat menjadi daya tarik global yang bertumpu pada pelestarian nilai, bukan sekadar komodifikasi budaya.

Pada akhirnya, filosofi Dayan Gunung merupakan manifesto kehidupan yang menyeimbangkan dimensi ketuhanan (religius), kemanusiaan (mempolong merenten), dan alam (ekologi).

Ia menjadi identitas luhur masyarakat Lombok Utara, yang mengajarkan bahwa untuk melangkah maju menuju modernitas, manusia tidak boleh melupakan akar tradisinya, gunung sebagai sumber kehidupan dan budaya.*

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Berita Terkait

Mengakselerasi Peran Taman Budaya NTB dalam Program NTB Makmur Mendunia
Menakar Kinerja Tim Ahli Gubernur di Tengah Momentum Kebangkitan Ekonomi NTB
Enterprise Risk Management: Mengelola Ketidakpastian untuk Menjaga Keberlanjutan Perusahaan
Analisis Hukum Pemberhentian Kepala Desa Berdasarkan Putusan Adat: Konspirasi Tanpa Dasar dan Cacat Secara Yuridis
Mandalika: Antara Sirkuit Dunia dan Fondasi Budaya yang Menjaga Masa Depan
Menuju Pemajuan Kebudayaan NTB
Carpe Diem vs. Hedonisme
Merawat Akar, Menjangkau Dunia: Dinamika Event Kebudayaan di NTB Era Global

Berita Terkait

Selasa, 10 Februari 2026 - 09:26 WITA

Mengakselerasi Peran Taman Budaya NTB dalam Program NTB Makmur Mendunia

Senin, 9 Februari 2026 - 09:39 WITA

Membaca Dayan Gunung dalam Kekinian

Sabtu, 7 Februari 2026 - 08:05 WITA

Menakar Kinerja Tim Ahli Gubernur di Tengah Momentum Kebangkitan Ekonomi NTB

Jumat, 6 Februari 2026 - 14:42 WITA

Enterprise Risk Management: Mengelola Ketidakpastian untuk Menjaga Keberlanjutan Perusahaan

Rabu, 4 Februari 2026 - 08:55 WITA

Analisis Hukum Pemberhentian Kepala Desa Berdasarkan Putusan Adat: Konspirasi Tanpa Dasar dan Cacat Secara Yuridis

Berita Terbaru

Puisi-puisi tersebut tidak mencoba menjadi rumit, tetapi mampu menyampaikan rasa secara langsung. Dari kesederhanaan itu, pembaca menemukan kedalaman makna (Foto: aks/ceraken,id)

BEDAH BUKU

Menyusuri Utara, Menemukan Kembali Jejak Persahabatan dan Puisi

Sabtu, 14 Feb 2026 - 21:17 WITA

BUDAYA

Menyigi Jejak Peradaban di Provinsi Nusa Tenggara Barat

Sabtu, 14 Feb 2026 - 20:28 WITA

Pelayanan publik yang baik tidak hanya lahir dari kebijakan, tetapi juga dari hubungan kemanusiaan yang hangat antara pemimpin dan mereka yang bekerja di lapangan (Foto: ist)

AJONG MENTARAM

Satgas Bencana dan Semangat Kebersamaan di Jantung Kota Mataram

Jumat, 13 Feb 2026 - 19:59 WITA