Menebar Jala di Musim Galau

Kamis, 12 Februari 2026 - 00:35 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Ary Juliyant

CERAKEN.ID– Ternyata “jala” tidak hanya berarti sebutan sebuah alat jaring penangkap ikan, tapi dalam konteks bahasa dikatakan berasal dari istilah Bahasa Sanskrit yang berarti air, atau suatu hal yang tidak nyata ataupun bisa berarti sulap.

Bahkan dalam istilah tehnik Yoga juga ada sebutan Jala Neti yang berarti membersihkan hidung ataupun Jala Basti yang artinya membersihkan usus menggunakan air.

“Menebar Jala” dalam judul tema tourgerilya kali ini juga bisa dimaksudkan menebar cerita ataupun mengais kisah tentang segala hal yang berkaitan dengan lakon air, ataupun kisah bohong membohongi  maupun seputar apapun yang tengah terjadi di atas bumi saat ini di “Musim” yang sepertinya tengah “Galau” menghadapi sikap para manusia-manusia yang entah maunya bagaimana memperlakukan apapun yang ada diatas bumi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di era kenabian awal, Allah SWT pernah memerintahkan nabi Nuh untuk segera membuat bahtera kapal besar menggunakan kayu Gofir yang kemudian bahtera tersebut mampu menyelamatkan kaum yang mendengar seruan Tuhan. Mereka terselamatkan dari musibah banjir air bah dahsyat kala itu.

Setelah  74.000 Tahun Berselang

Di kemudian hari di era milenium ini, banjir kian menjadi kisah yang beragam terekam sebagai peristiwa yang memperlihatkan bahwa selain banjir yang terjadi secara alamiah, namun ada pula kejadian musibah banjir yang diakibatkan oleh keserakahan nafsu manusia yang memperlakukan alam dengan semena-mena. Seperti mungkin apa yang terjadi di Sumatera saat ini.

Air pun sempat “marah” di beberapa wilayah Sumatera membawa “oleh-oleh” menggenangi wilayah pemukiman masyarakat penuh dengan lapisan lumpur tanah bercampur sampah balok- balok kayu dari arah pedalaman.

Berbagai ragam batang pohon rimba banyak yang hilang diduga karena di tebang sembarang dan menyisakan balok kayu pohon tebasan serupa penggundulan hutan, yang bisa jadi menyusutkan salah satu jenis pohon langka bernama pohon Andalas.

Dan bisa jadi sebutan Andalas bagi pulau Sumatera di masa lalu itu pun kemungkinan berasal dari sebutan pohon langka tersebut.

Menurut para ahli, di Andalas atau Sumatera di masa purba bila kita kilas balik pada 74.000 tahun yang lalu pernah menggemparkan dunia dengan erupsi Gunung Toba-nya yang mampu menurunkan suhu bumi antara 6 hingga 10 tahun lamanya.

Kesedihan yang dirasakan saat ini oleh banyak korban bencana Sumatera mengingatkan saya akan keprihatinan kesedihan yang pernah saya rasakan di saat muda dulu setelah merenungkan satu tema peristiwa kesia-siaan yang kemudian saya tuturkan lewat karya lagu.

Nyanyian berisi kisah lama dari masa lalu tersebut berjudul TRISTEZZA (diambil dari Bahasa Italia yang berarti sedih atau kesedihan)

Sudah sejak 2007 ada beberapa kisah yang saya tulis terkait dengan kerusakan alam yang ada di Sumatera. Yaitu pada album berjudul SKETSA NATUNA yang sebagian besar mengandung pesan kekhawatiran tergerusnya kelestarian alam khususnya di kepulauan Natuna Riau, Dan pada umumnya di Pulau Sumatera. Termasuk pada nyanyian ANDAI GUNUNG RANAI.

Menjaring Kisah Air Gangga

Semoga apa yang menjadi kekhawatiran terjadinya penggundulan hutan di Gunung Ranai tidak terjadi, sebab ketika hutan diatas gunung tetap rimbun, maka selamatlah perbekalan sumber air untuk kehidupan mahluk.di bumi masih terjaga.

Walaupun pada akhirnya air dari gunung turun menelusuri aliran menuju sungai besar hingga ke muara dan lepas di laut menyambungkan basah nya air yang sama juga membasahi tanah India.

Seperti juga peristiwa hujan yang saya saksikan dari sela ruas jendela Rumah kediaman seorang kawan yang ada di kota Kolkata atau Calcutta India.

Maka akhirnya lahirlah karya baru saya yang lirik nya terdiri dari 3 bahasa. Inggris, Indonesia dan Hindi.

Baca Juga :  Mengalami Musik, Menjaga Akar: “Gugur Mayang” dan Jalan Kebudayaan Lombok Ethno Fusion

Lagu ini mencoba berbagi kesan saat melihat GAGAK DI KOLKATA di Calcutta India tempat dimana sungai Gangga pun telah terkontaminasi oleh polusi lewat airnya yang mengalir menuju muara Samudera India.

Kegiatan menebar jala di muara atau sungai umumnya berkaitan dengan peristiwa menangkap ikan. Namun kali ini saya tertarik untuk berandai.

Tentu banyak ragam kisah cerita ataupun pesan yang termuat dalam sebuah karya lagu. Dan peradaban modern menempatkan lagu atau musik sebagai kebutuhan hampir setiap orang dalam keseharian. Apalagi ketika kemunculan Industri Musik Rekaman sudah menjadi bagian dari kehidupan.

Jika kita bicara tentang Musik dalam khasanah dunia rekaman, pada awal nya dimulai dengan ditemukannya alat yang disebut “Phonautograph” pada tahun 1860 oleh seseorang asal Eropa bernama Edouard Leon Scott de Martinsville.

Beliau pada awalnya secara spontan mencoba melakukan eksperimen menggunakan perangkat yang baru dibuatnya saat itu dengan cara merekam suara vokal nya sendiri yang tengah menyanyikan lagu anak- anak Perancis berjudul “Au Clair De La Lune”.

Dan berhasil !

Sekalipun perangkat rekam buatan Edouard Leon tersebut masih memiliki banyak kekurangan dalam kualitas perekamannya.

Namun di kemudian hari, alat tersebut coba disempurnakan oleh seorang penyandang tuna rungu yang brilian di masa nya yang sudah kita kenal bernama Thomas Alfa Edison, sang penemu teknologi bola lampu pijar.

Setelah mengalami proses penyempurnaan pada alat rekam manual tersebut, teknologi ini membuka peluang musik menjadi obyek baru industri seni.

Maka akhirnya berkembanglah industri rekaman musik yang semakin memperkaya budaya manusia. Dan di era masa kini musik atau lagu rekaman sudah menjadi salah satu kebutuhan personal seperti juga kebutuhan manusia akan konsumsi makan dan minum.

Air Mata Haru Dari Masa Lalu

Ketika kita memang menjadi bagian dari peradaban zaman yang meng akses musik industri.

Dan umumnya banyak orang pernah memiliki pengalaman atau kisah peristiwa yang disengaja atau tidak merasakan adanya kaitan emosi saat tertentu yang menghadirkan unsur auditif sound scape suasana, bunyi termasuk potongan-potongan lagu atau nyanyian di detik-detik peristiwa atau kisah masa lalu yang di kemudian hari terkadang hadir kembali dalam ingatan seolah-olah memiliki “aplikasi time tunnel” mengantar rasa kita sejenak merasakan kenangan yang seolah-olah utuh hadir dari masa lalu lewat LAGU-LAGU ITU.

Inilah salah satu tema yang juga ingin saya bagikan kepada siapapun.

IMYSM sebagai lagu baru penawar “dahaga” yang memang tak perlu dijelaskan riwayatnya yang akan disusul oleh hadirnya nyanyian KERONTANG MALANG MELINTANG yang seolah memperlihatkan dua konteks kisah lagu baru Ary Juliyant yang memang kontras berbeda namun memiliki kesamaan.

Di satu sisi ada istilah “dahaga” yang bukan hanya berarti haus akan seteguk air melainkan haus yang berbicara tentang “kerontang” yang bukan berarti kering karena tidak ditemukan air.

Sementara air, khususnya air laut secara fakta memiliki atau mengandung 81 jenis mineral serta PK antara 7 – 7,1. Air laut dapat menyuburkan tanaman bila disiramkan. Dan ternyata air laut yang asin tersebut mampu dibuat tawar pada ikan karena memiliki senyawa TMAO pada kulit sisik nya untuk menyeimbangkan kompisisi cairan di tubuhnya.

Bila ikan mati, maka senyawa nya berubah menjadi TMA yang mengakibatkan bau busuk pada ikan.

Namun bau busuk itu bisa jadi tidak tercium bila kita mengalami “Parosmia” yaitu istilah bagi terjadinya ketidak mampuan menghirup bau. Atau kehilangan kemampuan mencium bau yang dikarenakan kerusakan pada Respektor Olfaktori yang posisinya ada di belakang hidung kita.

Juga akan disajikan lagu AIR JERNIH yang sudah lama menjadi karya yang memang jarang dinyanyikan. Lagu ini juga memiliki pemaknaan ganda.

Baca Juga :  Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

“Pemaknaan Ganda” mungkin saja dikesankan sebagai “Standar Ganda” sebagai istilah dalam laku politik di “Musim Galau”.

Kegalauan bisa juga terjadi selagi berada di pulau kecil seperti Gili Trawangan. DI TRAWANGAN AKU TERTIDUR adalah sebuah karya ArJul di awal milenium yang ternyata menjadi pilihan favorite-nya David, seorang penulis asal negeri Inggris.

Baik di Trawangan maupun di Inggris tentu memiliki pepohonan yang juga seolah bisa bercerita tentang apa yang terjadi di sekitar nya. Juga seperti apa yang dikisahkan oleh pepohonan tua di pinggir jalan kota Bandung ataupun Mataram.

Di pinggir jalan dibawah pohon, seperti kisah dalam lagu lama yang berjudul DOWN UNDER THE TREES.

Berkisah dibawah pohon ataupun berkisah ditengah Bulan Oktober tetaplah berkisah seperti pengalaman rasa yang ada pada lagu MEDIO OKTOBER KU yang ditulis ArJul pada era tahun 80-an berada dalam album yang sama dengan kisah yang dituturkan pada TEMBANG SARI ASMARANDANA.

Lintas kisah juga terjadi ketika lewati negeri Belgia lewat kota Antwerpen yang ada kisahnya pada lagu LEWAT ANTWERPEN. Inspirasi yang tiba- tiba hadir dalam perjalanan menggunakan kereta api dari stasiun tua Antwerpen Belgia menuju Rotterdam Belanda.

Sebuah keramaian kota yang ada di Negeri Belanda yang terkenal juga memiliki wilayah yang bernama Haarlem. Ternyata Haarlem juga adalah nama salah satu wilayah di salah satu sudut kota NEW YORK yang memang ternyata dahulunya dimiliki pemerintah kolonial Belanda di benua Amerika.

Memang Amerika pada hakekatnya adalah bangsa baru kuali para imigran asal Eropa. Bahkan New York hingga kini memang terkenal sebagai kota multi kultur.

Akhirnya saat ini kota New York pun dipimpin oleh seorang imigran. Bukan dari Irlandia  melainkan seorang keturunan India bernama Hamdan. Bisa jadi nama Hamdan pun ada di Bengkulu Indonesia sebagai daerah di pulau Sumatera yang pernah menjadi wilayah kekuasaan kolonial Bangsa Inggris pada abad 19.

Dan di masa yang sama, New York dengan Haarlem nya pun pernah menjadi wilayah kekuasaan kolonial Belanda di benua Amerika saat itu.

Akhirnya kedua wilayah bernama Bengkulu dan New York pun pernah menjadi obyek “Tukar Guling” wilayah kolonial antara Belanda di Nusantara dan Inggris di Benua Amerika dimana lahir sebuah bangsa baru dibawah naungan Negara Federal bernama United States of America yang wilayahnya begitu luas terbentang dari pantai barat  dihadapan Samudera Pasifik hingga berujung di pantai Timur yang berhadapan dengan Samudera Atlantik.

Umumnya kita menyebutnya sebagai negara Amerika Serikat.

Sebuah bangsa atau juga negeri yang terbangun sebagai “Melting Pot” yang melahirkan sebuah peradaban penggembala sapi atau tradisi era Cowboy wild-wild west yang diduga muncul pertama kalinya akibat sebuah peristiwa di negara bagian New Mexico pada tanggal 19 Juli tahun 1879 ketika ada seorang Dokter Gigi bernama Doc Holiday yang mencoba mempertahankan kota nya dengan menembak mati seorang penjahat atau bandit yang tengah meraja lela di saat itu.

Sejak saat itulah banyak orang menyebut Doc Holiday sebagai Cowboy yang pertama.

Pada era kemudian di abad milenium ini muncul seorang presiden Amerika Serikat yang berlagak jagoan seperti Cowboy atau Koboy yang begitu tega meluluh lantakkan negeri Baghdad di tanah Iraq dan tak mau mendengar nurani bangsanya sendiri. Yaitu seorang KOBOY KAMPUNGAN.

Demikianlah kisah- kisah yang coba dijaring lewat upaya MENEBAR JALA DI MUSIM GALAU pada “tourgerilya musik aryjuliyant #14” sepanjang tahun 2026. (aj)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Berita Terkait

Menebar Jala di Musim Galau: Gerilya Seni Ary Juliyant Memasuki Babak Ke-14
Pentas Selasa Warjack: Ruang Kreatif yang Menghidupkan Denyut Seni di Taman Budaya NTB
Mengalami Musik, Menjaga Akar: “Gugur Mayang” dan Jalan Kebudayaan Lombok Ethno Fusion
Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak
Dipsy Do di Soundrenaline 2025: Dari Mataram ke Pusat Hiruk-Pikuk Modernitas
“Melet Bedait”: Ratapan Lama dalam Napas Baru Lombok Ethno Fusion
Nostalgia, Suara, dan Jejak Emosi: Menyambut “Tapaq Tilas”, Single Perdana Sanggaita
Lebih Dekat dengan Sabo, Gitaris SKID Row

Berita Terkait

Kamis, 12 Februari 2026 - 12:31 WITA

Menebar Jala di Musim Galau: Gerilya Seni Ary Juliyant Memasuki Babak Ke-14

Kamis, 12 Februari 2026 - 00:35 WITA

Menebar Jala di Musim Galau

Selasa, 10 Februari 2026 - 11:42 WITA

Pentas Selasa Warjack: Ruang Kreatif yang Menghidupkan Denyut Seni di Taman Budaya NTB

Minggu, 1 Februari 2026 - 02:03 WITA

Mengalami Musik, Menjaga Akar: “Gugur Mayang” dan Jalan Kebudayaan Lombok Ethno Fusion

Sabtu, 24 Januari 2026 - 08:50 WITA

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Berita Terbaru

Puisi-puisi tersebut tidak mencoba menjadi rumit, tetapi mampu menyampaikan rasa secara langsung. Dari kesederhanaan itu, pembaca menemukan kedalaman makna (Foto: aks/ceraken,id)

BEDAH BUKU

Menyusuri Utara, Menemukan Kembali Jejak Persahabatan dan Puisi

Sabtu, 14 Feb 2026 - 21:17 WITA

BUDAYA

Menyigi Jejak Peradaban di Provinsi Nusa Tenggara Barat

Sabtu, 14 Feb 2026 - 20:28 WITA

Pelayanan publik yang baik tidak hanya lahir dari kebijakan, tetapi juga dari hubungan kemanusiaan yang hangat antara pemimpin dan mereka yang bekerja di lapangan (Foto: ist)

AJONG MENTARAM

Satgas Bencana dan Semangat Kebersamaan di Jantung Kota Mataram

Jumat, 13 Feb 2026 - 19:59 WITA