CERAKEN.ID– Sepuluh bulan, dari Februari hingga Desember 2025, memang bukan rentang waktu yang panjang dalam kalender kekuasaan. Namun bagi kepemimpinan Iqbal–Dinda di Nusa Tenggara Barat, sepuluh bulan itu adalah rentang kerja tanpa jeda. Tentang eksekusi, keberanian mengambil keputusan, dan membangun pondasi yang kelak menentukan arah masa depan Bumi Gora.
Di bawah visi besar “NTB Makmur Mendunia”, roda pemerintahan tidak diputar dengan janji, melainkan dengan langkah-langkah konkret. Satu per satu sektor disentuh, diperbaiki, dan dipercepat.
Dari desa hingga panggung global, dari kepastian status aparatur hingga kesejahteraan petani, dari dapur rakyat hingga landasan pacu bandara. Capaian yang lahir dalam sepuluh bulan ini bukan sekadar deret angka statistik, melainkan penanda bahwa perubahan nyata sedang berlangsung.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ekonomi yang Bergerak, Kemiskinan yang Menyusut
Menguatkan ekonomi daerah bukan sekadar soal pertumbuhan, melainkan tentang memastikan daya beli rakyat tetap terjaga. Dalam kurun waktu singkat ini, angka kemiskinan di NTB berhasil ditekan hingga 11,78 persen per September–Oktober 2025, sebagaimana dirilis BPS.
Sebuah capaian yang menandai kerja serius dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas makro dan penguatan ekonomi akar rumput.
Program Desa Berdaya menjadi tulang punggung strategi ini. Desa tidak lagi ditempatkan sebagai objek pembangunan, melainkan subjek yang mandiri dan produktif.
Kolaborasi lintas sektor diarahkan untuk menutup ruang kemiskinan ekstrem, dengan target ambisius: nol persen kemiskinan ekstrem di desa-desa NTB.
Stabilitas inflasi pun dijaga dengan disiplin. NTB konsisten masuk sepuluh besar provinsi terbaik nasional dalam pengendalian inflasi, dengan angka di bawah 2,5 persen secara tahunan.
Di sisi lain, perluasan akses keuangan bagi UMKM melalui kredit murah tanpa agunan mengantarkan NTB meraih TPAKD Award 2025 sebagai provinsi terbaik nasional. Ekspor non-tambang turut tumbuh, dengan peningkatan volume 12 persen, terutama dari produk olahan pertanian dan kerajinan lokal.
Daulat Pangan dan Martabat Petani
NTB menegaskan kembali posisinya sebagai salah satu penyangga pangan nasional. Produksi padi mencapai rekor 2,1 juta ton gabah kering giling, ditopang oleh program Perluasan Areal Tanam dan pompanisasi lahan kering. Namun yang lebih penting dari sekadar angka produksi adalah kesejahteraan petani.
Nilai Tukar Petani (NTP) stabil di angka 128, salah satu yang tertinggi di Indonesia, menjadi indikator bahwa daya beli petani terjaga.
Pemerintah juga mendorong industrialisasi pertanian dan peternakan, ditandai dengan peresmian pusat pengelolaan pakan ternak mandiri di Sumbawa. Distribusi lebih dari 650 unit alsintan modern mempercepat proses tanam dan panen, sekaligus menekan biaya produksi.
Di sektor ini, pesan yang ingin ditegaskan jelas: pangan bukan sekadar komoditas, melainkan kedaulatan.
Kesehatan Tanpa Sekat Pulau
Transformasi layanan kesehatan menjadi salah satu wajah paling nyata dari pemerataan pembangunan. RSUD Manambai Abdulkadir di Sumbawa resmi naik kelas menjadi rumah sakit tipe B, lengkap dengan fasilitas cuci darah dan kateterisasi jantung.
Langkah ini menutup kesenjangan layanan medis antara Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa.
Cakupan Universal Health Coverage mencapai 99,1 persen, memastikan masyarakat kurang mampu mendapat akses layanan kesehatan tanpa hambatan biaya. Inovasi digital dalam sistem rujukan cepat mengantarkan NTB meraih penghargaan IGA 2025 kategori Inovasi Layanan Kesehatan Digital.
Pada saat yang sama, prevalensi stunting berhasil ditekan hingga 13,5 persen melalui gerakan Aksi Gizi Desa.
Pariwisata Berkualitas, Budaya Terjaga
Pariwisata NTB tidak lagi mengejar kuantitas semata. Pendekatan high value tourism dipadukan dengan pelestarian identitas lokal. Sepanjang 2025, NTB mencatat rekor 2,5 juta kunjungan wisatawan, melampaui target pasca pandemi.
Sebagai destinasi ramah Muslim, NTB mempertahankan posisi tiga besar nasional dalam Indonesia Muslim Travel Index 2025. Gelaran MotoGP Mandalika kembali menjadi etalase global, dengan serapan tenaga kerja lokal mencapai 95 persen di sektor hospitality.
Sementara itu, lima desa wisata NTB menembus 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia 2025, sebuah bukti bahwa pariwisata berbasis komunitas kian menemukan bentuknya.
Infrastruktur dan Konektivitas Global
Pembangunan infrastruktur diarahkan untuk membuka akses dan peluang. Sebanyak 92 kilometer jalan provinsi yang sebelumnya rusak berat direhabilitasi di Lombok Utara, Lombok Timur, dan daratan Sumbawa.
Konektivitas udara diperkuat dengan komitmen pembukaan rute internasional Lombok–Perth dan Lombok–Bangkok yang direncanakan aktif awal 2026.
Di jalur laut, aktivasi kapal cepat Sanur–Mandalika memudahkan arus wisatawan dari Bali ke Lombok Selatan. Program NTB Terang menghadirkan 1.500 unit penerangan jalan umum di titik rawan kecelakaan, menegaskan bahwa infrastruktur bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga keselamatan.
Birokrasi Bersih dan Kepastian Status
Salah satu pekerjaan rumah terbesar pemerintahan adalah birokrasi. Dalam sepuluh bulan, komitmen meritokrasi ditegakkan. Penempatan pejabat dilakukan murni berdasarkan kompetensi dan prestasi, menghapus praktik “titip jabatan”. Hasilnya, NTB meraih predikat “Sangat Baik” dari KASN tahun 2025.
Penuntasan ribuan tenaga honorer menjadi PPPK memberi kepastian status hukum dan kesejahteraan pegawai. Digitalisasi layanan publik mengantarkan NTB meraih predikat Provinsi Sangat Inovatif pada IGA 2025, sekaligus menutup celah pungli.
Penataan dan sertifikasi lebih dari 150 aset strategis memperkuat perlindungan kekayaan daerah dan meningkatkan PAD.
Pendidikan dan SDM: Investasi Masa Depan
Pembangunan manusia ditempatkan sebagai investasi jangka panjang. Lebih dari 500 mahasiswa menerima Beasiswa NTB, baik di dalam maupun luar negeri, untuk mencetak ahli di bidang strategis seperti teknologi, energi, dan pariwisata.
SMK direvitalisasi menjadi pusat keunggulan dengan link and match industri, meningkatkan keterserapan lulusan hingga 75 persen.
Di wilayah pelosok, pembangunan dan renovasi ruang kelas baru memastikan standar fasilitas pendidikan yang lebih setara. Pesannya sederhana: tidak boleh ada anak NTB yang tertinggal hanya karena jarak geografis.
Melayani hingga ke Dapur Rakyat
Gubernur NTB, Dr. H. Lalu Muhammad Iqbal, M.Si., menegaskan filosofi kepemimpinannya, “Kami hadir untuk melayani, bukan dilayani. Setiap inci pembangunan harus dirasakan manfaatnya hingga ke dapur rakyat.”
Sementara Wakil Gubernur Hj. Indah Dhamayanti Putri menambahkan, perubahan besar lahir dari keberanian untuk berbenah dan memastikan birokrasi bersih serta ekonomi kuat menjadi warisan bagi generasi mendatang.
Sepuluh bulan ini mungkin baru permulaan. Namun pondasi telah ditegakkan. Di atasnya, NTB melangkah dengan keyakinan: makmur di dalam, mendunia di luar. (aks)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : Akun Fb Pemprov NTB































