CERAKEN.ID — Rabu, 25 Februari 2026, pukul 10.47 WITA, sebuah pesan WhatsApp masuk. Singkat, padat, tanpa seremoni promosi berlebihan. Pengirimnya: Ary Juliyant.
Isinya pengumuman rilis album terbaru bertajuk “Sevenia Melankolia” (Folkopi Records/Sadda Studio, 2026). Tujuh lagu. Direkam sederhana. Digarap swadaya. Dibagikan dalam format mp3 lewat WhatsApp bagi siapa saja yang berminat.
Tidak ada konferensi pers megah. Tidak ada hitung mundur digital di platform streaming. Yang ada justru semangat lama yang konsisten: gerilya kesenian.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Album ini memuat tujuh nomor: Citatah Diantara Sejarah, Lagu-Lagu Indah Itu, Balada Laba-Laba Betina, IMYSM, Kerontang Malang Melintang, Kisah Troubadour Di Marseille, dan Panjat Tebing Pinggir Laut.
Semua instrumen diisi sendiri oleh Ary, mulai dari vokal, gitar, tin whistle, banjo, hingga harmonika. Proses rekaman dilakukan secara swadaya oleh Satrio Wibowo. Sampul album merupakan hasil cropping foto hitam-putih karya Iwan Bungsu.
Sederhana dalam produksi, tetapi tidak dalam gagasan.
Tradisi “Sevenia” dan Melankolia yang Disadari
Ketika ditanya tentang makna “Sevenia Melankolia”, Ary menjawab ringan, hampir bercanda.
“Sudah jadi tradisi saya membuat album versi yang terdiri dari tujuh lagu saja. Jadi ‘Sevenia’ artinya tujuh konten. ‘Melankolia’ mah, ya sekadar mencoba menyimpulkan karya lagu yang ada di Sevenia ini, yang kesannya melankolis.”
Jawaban itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya memperlihatkan konsistensi konseptual. “Sevenia” bukan istilah baru dalam katalog karyanya.
Sebelumnya, ia merilis proyek bertajuk Sevenia, Sevenia Imajinta, hingga Sevenia Banjonesia. Angka tujuh tampaknya menjadi semacam batas sekaligus disiplin kreatif: cukup, tidak berlebih, tetapi padat makna.
Pada Maret 2025, ia juga tampil dalam pertunjukan bertema “Tujuh Perjalanan Sunyi Ary Juliyant” yang digagas Rahadiyan Salat Room Project. Angka tujuh kembali hadir sebagai kerangka naratif. Seolah, Sevenia bukan sekadar jumlah lagu, melainkan cara berpikir.
Melankolia dalam album ini bukan kesedihan yang dramatik, melainkan kesunyian reflektif. Ada getar rindu, ada jejak perjalanan, ada percakapan lintas bahasa, Indonesia, Sunda, bahkan Perancis, yang menyatu dalam komposisi akustik yang intim.
Ceraken.id mencoba mendengarkan Kisah Troubadour Di Marseille. Lagu itu terasa easy listening, tetapi menghentak di kalbu. Ia seperti membawa pendengar pada lorong-lorong batu kota tua di selatan Perancis, tempat seorang pengelana menyanyikan kisahnya.
Ketika ditanya apakah album ini lahir dari kisah perjalanan manca negara, Ary tertawa. “Bukan!” Namun lirik-liriknya memang memuat bahasa Perancis, Indonesia, dan Sunda. Ia menjelaskan bahwa saat itu ia berangkat bersama kawan-kawan yang berbahasa Sunda wungkul (hanya bahasa Sunda).
Tak lama, ia menunjukkan sejumlah foto, lalu mengirim tautan video berjudul Tambora Pirenia: Tour Gerilya Europe 2013. Pada Maret hingga April 2013, Ary Juliyant bersama Ine Arini dan Vinny Damayanti Soemantri melakukan tur gerilya ke kawasan Pirenia, Perancis, Belanda, dan Belgia.
Dalam dokumentasi tersebut, Ary disebut sebagai “Gerilyawan Kesenian”. Mereka melakukan proses “Tanam Puisi Tambora Pirenia” di Pegunungan Pirenia: sebuah prosesi simbolik menanam puisi, pesan, daun kering, bahkan potongan rambut di tanah Eropa. Sebuah gestur artistik yang membalik sejarah.
Jika pada masa lalu orang Eropa datang ke Nusantara untuk “menanamkan” pengaruh budaya dan kekuasaannya, maka Ary hadir di tanah mereka untuk menanam puisi dan pesan dari Indonesia. Sebuah simbol interaksi peradaban antarbangsa yang setara.
Latar pengalaman itulah yang menjadi fondasi Kisah Troubadour Di Marseille. Seorang troubadour, penyair pengelana Eropa abad pertengahan, menjelma dalam diri musisi Indonesia yang membawa nyanyian dari timur ke barat. Ia bukan sekadar tampil, melainkan menanam makna.
Melawan Arus Distribusi
Yang menarik, sesuai dengan semangat “gerakan melawan arus”, album ini tidak dirilis di platform streaming arus utama. Formatnya mp3, dibagikan lewat WhatsApp sesuai permintaan.
Di tengah industri musik yang semakin terstandardisasi algoritma, langkah ini terasa aneh bahkan “kuno”. Namun justru di situlah letak gerilyanya.
Distribusi personal menciptakan relasi langsung antara pencipta dan pendengar. Tidak ada kurasi mesin. Tidak ada statistik streaming yang menjadi tolok ukur keberhasilan.
Model ini mengingatkan pada praktik musik independen era awal 2000-an: CD-R yang dibakar sendiri, sampul fotokopian, diedarkan dari tangan ke tangan. Tetapi kini medium berubah menjadi file digital yang dikirim lewat pesan instan. Intinya sama: intim, personal, dan tidak tunduk pada pasar massal.
Ary seolah ingin mengembalikan musik pada ruang percakapan, bukan sekadar konsumsi.
Secara musikal, Sevenia Melankolia bertumpu pada aransemen akustik yang minimalis. Gitar menjadi tulang punggung, tin whistle memberi nuansa folk Eropa, banjo menghadirkan warna Americana, dan harmonika menambah aroma blues. Semua diisi sendiri oleh Ary.
Produksi yang “seadanya” justru memberi ruang pada kejujuran suara. Tidak ada lapisan produksi yang berlebihan. Napas terdengar. Petikan senar terasa mentah. Atmosfernya intim, seperti pertunjukan kecil di ruang tamu.
Melankolia di sini tidak dibangun oleh orkestrasi megah, melainkan oleh kesederhanaan. Ia mengandalkan lirik yang reflektif dan melodi yang mudah diingat.
Dalam Balada Laba-Laba Betina (adaptasi dari puisi Julia F Gerhani Arungan), misalnya, ada metafora tentang keteguhan dan kesabaran. Dalam Kerontang Malang Melintang, terdengar jejak perjalanan yang panjang. Sementara IMYSM, yang bisa dibaca sebagai singkatan “I Miss You So Much”, menghadirkan kerinduan yang universal.
Istilah “Salam Gerilya Kesenian” yang ia tuliskan di akhir pesan bukan slogan kosong. Sejak lama, Ary Juliyant konsisten memposisikan diri sebagai gerilyawan seni, bergerak di ruang-ruang alternatif, lintas negara, lintas bahasa, tanpa terlalu bergantung pada institusi besar.
Gerilya di sini bukan berarti anti-sistem, melainkan bergerak lincah di sela-sela sistem. Ia bisa tampil di panggung kecil, melakukan tur lintas benua dengan konsep simbolik, hingga merilis album lewat WhatsApp.
Di era ketika eksistensi sering diukur dari jumlah pengikut dan angka streaming, pilihan ini terasa subversif. Ia mengingatkan bahwa kesenian juga bisa hidup dari komunitas, dari percakapan, dari jaringan pertemanan yang saling percaya.
Antara Lokal dan Global
“Sevenia Melankolia” memperlihatkan bagaimana identitas lokal dan pengalaman global bisa bertemu tanpa kehilangan akar. Bahasa Sunda berdampingan dengan bahasa Perancis. Pegunungan Pirenia berkelindan dengan ingatan tentang Tambora. Marseille bersisian dengan Citatah.
Ini bukan kosmopolitanisme yang tercerabut, melainkan dialog peradaban yang sadar sejarah. Seorang troubadour dari Nusantara menyanyikan kisahnya di Eropa, lalu membawanya pulang dalam bentuk lagu.
Dari Sukabumi-Jawa Barat, Soni Hendrawan, seorang “musikalisator” (sebutan dirinya sebagai ”pemusikalisasi puisi”) mengatakan bahwa secara keseluruhan lagu-lagu Ary Juliyant, termasuk “Kisah Troubadour Di Mersaille”, menawarkan pengalaman mendengarkan yang hangat, bernuansa cerita rakyat, dan otentik bagi pencinta musik folk.
“Aransemen akustik yang hangat dan berkarakter kuat,” ujar Soni.
Pada akhirnya, album ini bukan hanya kumpulan tujuh lagu. Ia adalah catatan perjalanan, refleksi senyap, sekaligus pernyataan sikap. Di tengah kebisingan industri kreatif, Ary Juliyant memilih jalur senyap yang konsisten.
Pesan WhatsApp yang masuk pukul 10.47 WITA itu mungkin terlihat biasa. Namun di baliknya, ada jejak panjang perjalanan kesenian yang tak pernah berhenti bergerak.
Secara gerilya, secara melankolia, dan tentu saja, dalam tujuh cerita yang terus berulang sebagai Sevenia. (aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita : liputan























































